Irwan Akib: Keteladanan Moral Kunci Utama Lahirnya Generasi Emas Indonesia 2045

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 23 Juli 2020
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib, mengingatkan bahwa potensi bonus demografi yang dimiliki Indonesia sebagai jembatan menuju Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud secara optimal tanpa diiringi dengan pembangunan karakter dan keteladanan moral yang kuat. Menurutnya, persiapan generasi emas tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan teknologi atau pertumbuhan ekonomi semata.
Lebih dari itu, Irwan Akib menekankan pentingnya pembentukan integritas, kejujuran, tanggung jawab, serta akhlak mulia sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Ia menjelaskan bahwa upaya penanaman nilai-nilai moral kepada anak-anak telah lama dilakukan di lingkungan keluarga dan sekolah. Orang tua dan guru secara konsisten mengajarkan prinsip kejujuran, kerja keras, tenggang rasa, serta kesederhanaan, bahkan berusaha menjadi teladan dalam keseharian.
Namun, Irwan menyoroti adanya tantangan signifikan terhadap pendidikan karakter ini, terutama ketika anak-anak berinteraksi dengan realitas di ruang publik, baik melalui televisi maupun media sosial. βDi rumah dan di sekolah, anak-anak diajarkan nilai-nilai moral yang tinggi. Orang tua dan guru menjadikan dirinya sebagai teladan dengan menanamkan kejujuran, kerja keras, tenggang rasa, dan kesederhanaan. Namun, benteng moral itu dapat runtuh ketika anak-anak menyaksikan realitas yang bertolak belakang di ruang publik,β ujarnya.
Ia memberikan contoh kasus korupsi yang masih kerap melibatkan oknum pejabat negara. Ironisnya, sebagian pelaku tindak pidana tersebut tetap tampil di hadapan publik tanpa menunjukkan penyesalan, bahkan memamerkan gaya hidup mewah yang disinyalir berasal dari penyalahgunaan uang rakyat melalui media sosial. Kondisi semacam ini, lanjut Irwan, berpotensi menimbulkan disonansi moral bagi generasi muda, di mana nilai-nilai yang diajarkan di lingkungan terdekat mereka menjadi tidak selaras dengan contoh yang disaksikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Oleh karena itu, Irwan Akib menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak dapat hanya dibebankan kepada keluarga dan lembaga pendidikan. Seluruh elemen bangsa, termasuk negara, para pemimpin, media massa, dan tokoh masyarakat, memiliki tanggung jawab kolektif untuk menciptakan ruang publik yang bersih, berintegritas, dan sarat keteladanan. Ia meyakini bahwa keteladanan merupakan metode pendidikan paling efektif dalam membentuk karakter generasi muda, sebab anak-anak cenderung lebih mudah menyerap pelajaran dari perilaku nyata yang mereka amati daripada sekadar nasihat verbal.
Irwan Akib juga menegaskan bahwa pencapaian cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi atau dominasi teknologi, melainkan juga dari keberhasilan membangun bangsa yang berakhlak mulia, berintegritas, dan berkeadaban. βBila bonus demografi dibarengi dengan keteladanan moral, maka Indonesia akan memiliki generasi emas yang mampu membawa bangsa ini menjadi negara yang maju sekaligus bermartabat,β pungkasnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





