Ikaprobsi Rumuskan Enam Rekomendasi Penguatan Bahasa Indonesia di Losari

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MAKASSAR - Penutupan Rapat Kerja Nasional X dan Seminar Internasional Ikatan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Ikaprobsi) di Makassar melahirkan enam rekomendasi strategis untuk penguatan pendidikan bahasa Indonesia. Dokumen itu dibacakan di atas kapal pinisi yang berlayar dari pesisir Pantai Losari pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026, menutup rangkaian forum 7-9 Agustus dengan penegasan arah kerja yang lebih operasional.
Pilihan lokasi penutupan memberi simbol yang kuat. Dari geladak pinisi, peserta menyaksikan garis cahaya Kota Makassar sambil mendengarkan hasil rumusan forum yang akan dibawa kembali ke ruang kuliah, program studi, lembaga riset, dan ruang kebijakan. Nuansa budaya lokal itu mempertegas bahwa pembicaraan tentang masa depan bahasa Indonesia tidak dilepaskan dari identitas kebudayaan Nusantara.
Wakil Sekretaris Jenderal Ikaprobsi, Prof. Dr. Suhartono dari Universitas Negeri Surabaya, membacakan rekomendasi yang disusun dari diskusi organisasi, seminar, dan presentasi hasil penelitian. Rumusan tersebut menempatkan penguatan internal program studi sebagai agenda pertama, terutama pada standar mutu, capaian pembelajaran lulusan, transformasi digital berbasis learning management system, dan penyusunan pedoman pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk menopang program akademik.
Rekomendasi kedua menekankan posisi perguruan tinggi sebagai teladan penggunaan bahasa Indonesia. Ikaprobsi meminta kampus-kampus di Indonesia menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan, bahasa kerja institusi, bahasa dokumen resmi akademik, serta bahasa forum ilmiah nasional dan internasional yang diselenggarakan di dalam negeri. Arahan ini menegaskan bahwa pembelaan terhadap bahasa Indonesia harus tampak dalam praktik kelembagaan, bukan hanya dalam slogan.
Butir ketiga ditujukan kepada pemerintah. Ikaprobsi meminta penyusunan peta jalan nasional pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk pendidikan dasar dan menengah. Fokusnya bukan semata pada penguasaan kaidah, tetapi juga pada penguatan literasi, kebiasaan berbahasa yang baik dan benar, kemampuan berpikir, serta kompetensi sosial-emosional peserta didik yang bermoral.
Pada butir keempat, forum mendorong perhatian yang lebih besar terhadap internasionalisasi bahasa Indonesia. Ikaprobsi mengusulkan peningkatan dukungan pendanaan untuk penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dapat memperluas peran bahasa Indonesia, termasuk pada agenda-agenda strategis seperti kemandirian pangan dan energi. Dengan demikian, bahasa Indonesia diperlakukan sebagai bagian dari penguatan pengetahuan dan pembangunan, bukan sekadar alat komunikasi rutin.
Rekomendasi kelima menyoroti pentingnya skema kolaborasi antarlembaga dan antaranggota Ikaprobsi. Jaringan kerja sama itu diarahkan untuk memperkuat tridarma perguruan tinggi, memperluas publikasi ilmiah berbahasa Indonesia, dan menempatkan bahasa Indonesia sebagai media komunikasi budaya sekaligus kajian keilmuan. Penutupan forum menunjukkan bahwa organisasi tidak ingin berhenti pada pertemuan tahunan tanpa tindak lanjut.
Butir keenam mengajak kampus membangun gerakan yang lebih kritis terhadap penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik dan media sosial. Program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia diharapkan memelopori diskusi, kajian, serta penelitian mahasiswa dan dosen untuk menelaah persoalan kebahasaan yang muncul, lalu menawarkan jalan keluarnya. Tujuannya bukan berburu kesalahan, tetapi memperbaiki ekosistem berbahasa secara konstruktif.
Prof. Suhartono mengatakan dalam pembacaan dokumen rekomendasi, "Perguruan tinggi menjadi teladan dalam penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pendidikan, bahasa kerja, dan bahasa forum ilmiah." Kutipan itu merangkum salah satu tuntutan paling praktis dari forum, yakni dorongan agar kampus menunjukkan keteladanan kebahasaan di lingkungan internalnya sendiri.
Dokumen rekomendasi tersebut ditandatangani Ketua Umum Ikaprobsi Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., dan Sekretaris Jenderal Prof. Dr. Suherli Kusmana, M.Pd. Dengan pengesahan itu, hasil Rakernas Makassar memiliki pijakan formal untuk diterjemahkan menjadi agenda organisasi dan advokasi kebijakan.
Penutupan di atas pinisi memperlihatkan bahwa forum Ikaprobsi tahun ini tidak berhenti pada seremoni akademik. Rekomendasi yang dibacakan di Losari menuntut langkah lanjutan dari kampus, organisasi profesi, dan pemerintah, agar bahasa Indonesia semakin kuat sebagai bahasa pendidikan, ilmu pengetahuan, dan komunikasi internasional.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





