Ikaprobsi Rumuskan Enam Rekomendasi dari Makassar untuk Penguatan Bahasa Indonesia

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MAKASSAR - Rapat Kerja Nasional X dan Seminar Internasional Ikatan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Ikaprobsi) di Universitas Muhammadiyah Makassar ditutup dengan enam rekomendasi yang diarahkan untuk memperkuat posisi bahasa Indonesia di ruang akademik, kebijakan pendidikan, dan forum internasional. Rumusan itu dibacakan pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026, saat peserta mengikuti penutupan kegiatan di perairan Pantai Losari.
Penutupan di atas kapal pinisi memberi penegasan simbolik bahwa forum kebahasaan tersebut berangkat dari Makassar, kota yang sejak lama hidup dari pertemuan antardaerah, perdagangan, dan perjumpaan budaya. Di tengah suasana itu, Ikaprobsi tidak menutup forum hanya dengan seremonial, tetapi dengan dokumen arah kerja yang menuntut tindak lanjut dari kampus, organisasi profesi, dan pemerintah.
Wakil Sekretaris Jenderal Ikaprobsi, Prof. Dr. Suhartono dari Universitas Negeri Surabaya, membacakan satu per satu rekomendasi yang dirumuskan dari pembahasan Rakernas dan seminar internasional. Pokok pertama menekankan perlunya menjaga minat pada program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, sambil memperkuat standardisasi mutu, capaian pembelajaran lulusan, transformasi digital berbasis learning management system, dan pedoman pemanfaatan kecerdasan artifisial sebagai alat bantu akademik.
Rekomendasi kedua menempatkan perguruan tinggi sebagai teladan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Ikaprobsi meminta bahasa Indonesia dipakai konsisten sebagai bahasa pengantar pendidikan, bahasa komunikasi kerja, bahasa dokumen akademik, dan bahasa forum ilmiah nasional maupun internasional yang diselenggarakan di Indonesia. Arah ini menunjukkan bahwa penguatan bahasa Indonesia tidak cukup dibebankan pada sekolah, melainkan juga harus dijaga oleh kampus sebagai produsen pengetahuan.
Pada rekomendasi ketiga, Ikaprobsi mendesak pemerintah menyusun peta jalan nasional pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk pendidikan dasar dan menengah. Peta jalan itu diharapkan tidak hanya menekankan kaidah berbahasa, tetapi juga menumbuhkan literasi, kemampuan berpikir, serta kecakapan sosial-emosional peserta didik. Dengan begitu, pelajaran bahasa Indonesia diposisikan sebagai medium pembentukan nalar dan karakter, bukan sekadar mata pelajaran hafalan.
Rumusan keempat dan kelima bergerak ke level yang lebih luas. Ikaprobsi meminta perhatian lebih serius pada internasionalisasi bahasa Indonesia melalui dukungan pendanaan riset dan pengabdian, sekaligus mendorong skema kolaborasi antarorganisasi dan antaranggota untuk memperkuat tridarma perguruan tinggi. Dokumen itu memandang publikasi ilmiah, kerja sama akademik, dan aktivitas pengabdian sebagai jalur penting untuk memperluas daya hidup bahasa Indonesia di luar ruang kelas.
Rekomendasi keenam mengajak lahirnya gerakan kampus untuk mengkritisi penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik dan media sosial. Gagasan ini penting karena persoalan bahasa kini tidak lagi hanya berada di buku ajar atau ruang kuliah, tetapi juga di papan informasi, platform digital, dan percakapan harian yang membentuk kebiasaan generasi muda. Ikaprobsi menilai program studi bahasa Indonesia perlu hadir sebagai pengusul solusi, bukan sekadar pencatat kesalahan.
Ketua Panitia Rakernas X yang juga Wakil Rektor I Unismuh Makassar, Prof. Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., menempatkan pertemuan di Makassar sebagai tanggung jawab bersama. Ia menyampaikan terima kasih atas kepercayaan kepada Unismuh dan wilayah Sulawesi Selatan-Sulawesi Tenggara sebagai tuan rumah, sekaligus menyadari bahwa rekomendasi itu akan bernilai jika dikerjakan setelah peserta kembali ke kampus masing-masing.
Dalam penutupan itu, Prof. Andis juga menitipkan kebiasaan yang ingin dirawat oleh Ikaprobsi pada pertemuan-pertemuan mendatang. Ia mengatakan setiap kegiatan organisasi perlu membiasakan menyanyikan "Hymne Bahasa Indonesia". Ajakan itu ia sampaikan sebagai penanda bahwa bahasa Indonesia bukan semata objek studi, tetapi identitas intelektual yang perlu dijaga bersama.
Ketua Umum Ikaprobsi, Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., kemudian menutup seluruh rangkaian kegiatan. Dari Makassar, forum tersebut meninggalkan agenda panjang: menjaga mutu program studi, merapikan respons terhadap AI, membangun kebijakan pembelajaran yang lebih jelas, dan membawa bahasa Indonesia bergerak lebih kuat di tingkat nasional maupun internasional.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





