Ideologi Fondasi Utama Kemajuan Muhammadiyah, Tegas Bachtiar Dwi Kurniawan di Palu

MUHAMMADIYAH SULSEL, KOTA PALU - Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumberdaya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan, menegaskan bahwa kemajuan Muhammadiyah harus selalu diiringi dengan penguatan ideologi. Menurutnya, capaian organisasi yang signifikan di berbagai bidang akan kehilangan makna jika tidak dilandasi pemahaman ideologi yang kuat. Pernyataan ini disampaikan Bachtiar dalam acara Baitul Arqam Calon Panitia Tanwir Muhammadiyah di Kota Palu, Kamis, 18 Juni.
Muhammadiyah saat ini telah menunjukkan kemajuan pesat sebagai gerakan Islam berkemajuan. Berbagai amal usaha berkembang masif, meliputi sektor pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, hingga pemberdayaan masyarakat. Ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga sosial yang dikelola Muhammadiyah menjadi bukti nyata kontribusi organisasi dalam membangun bangsa dan mencerdaskan kehidupan umat.
Namun, Bachtiar Dwi Kurniawan mengingatkan bahwa kemajuan tersebut tidak boleh hanya diukur dari bertambahnya jumlah amal usaha, luasnya jaringan organisasi, atau peningkatan capaian program kerja. Kekuatan utama Muhammadiyah, lanjutnya, terletak pada ideologi, nilai, dan semangat perjuangan yang menjadi landasan seluruh gerak organisasi.
"Dalam berbagai kesempatan, para pimpinan Muhammadiyah selalu mengingatkan bahwa capaian ber-Muhammadiyah akan kehilangan makna apabila tidak dibarengi dengan pemahaman yang kuat terhadap ideologi Persyarikatan. Keberhasilan seseorang dalam mengelola amal usaha, menduduki jabatan struktural, atau aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dapat menjadi hampa makna jika tidak memahami tujuan, cita-cita, dan nilai-nilai dasar Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar," ujar Bachtiar, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Universitas kampus UMY.
Penyelenggaraan Baitul Arqam, menurut Bachtiar, merupakan bagian krusial dalam proses kaderisasi Muhammadiyah. Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan atau forum pembelajaran biasa, melainkan wahana pembentukan karakter, penguatan ideologi, dan internalisasi nilai-nilai Persyarikatan bagi seluruh anggota dan kader.
Bagi peserta yang baru pertama kali mengikuti Baitul Arqam, kegiatan ini menjadi pintu masuk untuk mengenal Muhammadiyah secara lebih mendalam. Melalui beragam materi tentang sejarah perjuangan Muhammadiyah, ideologi gerakan, kepribadian Muhammadiyah, sistem organisasi, serta peran dakwah dalam kehidupan bermasyarakat, peserta memperoleh pemahaman komprehensif mengenai identitas dan arah perjuangan Persyarikatan. Dengan demikian, keterlibatan mereka dalam Muhammadiyah tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga lahir dari kesadaran ideologis yang kuat.
Sementara itu, bagi peserta yang telah mengikuti Baitul Arqam sebelumnya, kegiatan ini tetap memiliki arti penting. Pengulangan dan penguatan materi diibaratkan pesan dalam Surat Al-Ashr yang terus dibaca dan diulang umat Islam karena mengandung nilai-nilai fundamental tentang keimanan, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan kesabaran. Demikian pula Baitul Arqam, berfungsi sebagai sarana untuk terus memperbarui komitmen, memperkuat pemahaman, dan menjaga semangat perjuangan dalam menjalankan amanah Persyarikatan.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, penguatan ideologi menjadi kebutuhan mutlak. Muhammadiyah membutuhkan kader-kader yang tidak hanya kompeten dan profesional di bidangnya, tetapi juga memiliki kesadaran ideologis yang kuat. Dengan perpaduan antara kompetensi dan ideologi tersebut, Muhammadiyah akan mampu menjaga jati dirinya sebagai gerakan Islam berkemajuan yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.





