Haedar Nashir Ingatkan Karyawan Muhammadiyah: Maknai Kerja sebagai Ibadah, Bukan Sekadar Rezeki

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan pentingnya menempatkan pekerjaan sebagai bagian integral dari ibadah yang bernilai di hadapan Allah SWT. Pesan ini disampaikan Haedar dalam sebuah ceramah usai Salat Zuhur berjamaah bersama para karyawan Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta, pada Selasa (23/6). Menurutnya, tujuan bekerja tidak semata-mata mengejar rezeki, melainkan juga untuk meraih pahala dan keberkahan hidup.
Haedar menekankan bahwa orientasi hidup yang hanya berpusat pada pencarian materi dan uang berpotensi membentuk pribadi yang keras dan kehilangan makna sejati kehidupan. "Kalau hidup hanya mengejar uang, nanti manusia bisa menjadi keras. Padahal hidup tidak hanya soal itu. Kita perlu menanyakan kembali, dari semua kehidupan ini, kita mau ke mana," ujarnya.
Ia melanjutkan, setiap manusia dianugerahi fitrah oleh Allah SWT sejak lahir, yang mencakup kecenderungan untuk bertauhid, beriman, dan beragama. Fitrah ini merupakan bagian dari ruh yang ditiupkan Allah kepada manusia. Meskipun terlahir sebagai seorang muslim adalah anugerah, Haedar menegaskan bahwa pendalaman pemahaman keagamaan secara berkelanjutan sangat krusial seiring bertambahnya usia. Iman, agama, dan ibadah merupakan proses dinamis yang menuntut kesadaran dan pemahaman yang benar.
Ibadah, jelas Haedar, memainkan peran vital dalam memberikan makna pada setiap aktivitas kehidupan. Dengan beribadah, sekecil apa pun perbuatan manusia akan memiliki nilai dan tujuan yang luhur. "Ibadah itu membuat hidup kita lebih bermakna, tidak sia-sia. Sekecil apa pun yang kita lakukan, itu ada nilainya," paparnya.
Lebih lanjut, berbagai perbuatan sederhana seperti tersenyum, membantu sesama, dan menunjukkan sikap baik kepada orang lain dapat menjadi bagian dari akhlak yang bernilai ibadah, asalkan dilakukan dengan niat yang benar. Dalam konteks lingkungan kerja, Haedar mengajak seluruh karyawan untuk menumbuhkan budaya saling membantu dan bekerja dengan hati yang ringan, tanpa terpaku pada batasan otoritas masing-masing. "Dalam pekerjaan juga demikian. Kita harus ringan hati, saling membantu, tidak hanya berpegang pada otoritas masing-masing," tegasnya.
Haedar juga mengingatkan bahwa hidup yang berorientasi duniawi semata akan menciptakan perasaan tidak pernah cukup dan jauh dari kepuasan batin. Oleh karena itu, pekerjaan tidak seharusnya hanya diukur dari besaran penghasilan yang didapatkan. Di akhir ceramahnya, ia menegaskan bahwa profesionalisme melampaui sekadar pekerjaan dan imbalan. Profesionalisme mencakup kesungguhan, tanggung jawab, dan integritas dalam menjalankan setiap amanah. "Profesional itu bukan hanya soal pekerjaan dan uang, tetapi bagaimana kita menjalankan tugas dengan kesungguhan," pungkas Haedar.





