Haedar Nashir: Hidup Hemat dan Etos Kerja Produktif Fondasi Peradaban Berkemajuan

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyerukan pentingnya pola hidup hemat, efisiensi, dan etos kerja produktif sebagai fondasi membangun peradaban berkemajuan. Seruan ini disampaikannya dalam kultum di hadapan jamaah salat Zuhur di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu (13/6).
Haedar mengingatkan bahwa PP Muhammadiyah telah menerbitkan edaran resmi yang menekankan efisiensi dan penghematan bagi seluruh amal usaha serta lingkungan Muhammadiyah. Langkah ini, menurutnya, selaras dengan sejarah dan ajaran Islam yang senantiasa mencontohkan budaya hidup hemat, tidak berlebihan dalam pengeluaran, namun juga tidak bersifat kikir.
Ia menyoroti fenomena masyarakat modern yang cenderung konsumtif. Haedar menyayangkan sikap yang mudah mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk kesenangan duniawi, namun kerap perhitungan dalam urusan amal dan ibadah. "Kalau orang pergi ke mall, ke tempat hiburan itu mengeluarkan uangnya mudah sekali. Uang Biru dan Merah itu keluar begitu saja. Tapi begitu urusan ibadah dan ketaatan kepada Allah yang keluar hanya selembaran uang hijau," sentil Haedar.
Selain itu, Haedar juga mengingatkan agar masyarakat tidak memboroskan waktu untuk hal-hal yang tidak produktif. "Kadang banyak di antara kita ini tidak menyadari ngobrol ngalor ngidul terlalu lama. Tapi ketika harus baca buku tadarus, baru satu ayat saja sudah ngantuk," tambahnya.
Semangat penghematan, lanjut Haedar, juga merupakan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan bumi. Ia mengajak warga Muhammadiyah untuk memulai langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghemat penggunaan listrik dan air.
Efisiensi energi, menurutnya, dapat dimulai sejak tahap perencanaan bangunan dengan menghindari penggunaan fasilitas yang berlebihan. "Termasuk hemat listrik. Sering kali dalam rancangan bangunan, demi keindahan, titik lampu dibuat terlalu banyak. Sebenarnya itu bisa dikurangi agar tidak boros dan lebih efisien," jelas Haedar.
Dalam konteks penggunaan air, Haedar mengutip pesan Ketua PP Muhammadiyah, Syamsul Anwar, tentang pentingnya menghemat air saat berwudu. Ia menjelaskan bahwa satu kali basuhan saat berwudu sudah memenuhi rukun, sehingga dapat menjadi cara sederhana untuk mengurangi pemborosan air sekaligus mempercepat antrean di tempat wudu. "Kita harus ingat bahwa masih banyak saudara kita yang kekurangan air dan membutuhkan bantuan untuk membangun sumur. Ini menjadi perhatian bersama," tegasnya.
Di akhir kultumnya, Haedar menegaskan bahwa kebiasaan hidup hemat dan disiplin adalah jalan menuju kesuksesan. Namun, fondasi utama keberhasilan seseorang terletak pada kemampuan mengendalikan dan menaklukkan diri sendiri. "Kalau kita ingin sukses, maka kita harus bisa menaklukkan diri sendiri. Bekerjalah dan nikmati pekerjaan itu sebagai panggilan untuk berkhidmat," tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun suasana hati positif dalam bekerja. Pekerjaan yang dijalani dengan rasa senang dan penuh tanggung jawab akan menghasilkan produktivitas yang lebih baik serta menghadirkan kebahagiaan. "Kita nikmati pekerjaan dengan senang hati. Tidak perlu sering melihat jam dan membayangkan cepat-cepat pulang ke rumah. Nikmati hidup dan pekerjaan itu dengan tanggung jawab serta perasaan yang nyaman," pungkas Haedar.





