Haedar Nashir: Dakwah Pendidikan Kiai Dahlan, dari Cap Kafir hingga Jadi Teladan Nasional

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyoroti perjalanan dakwah Kiai Ahmad Dahlan yang merintis sekolah modern. Sempat dicap kafir, pola dakwah tersebut kini berhasil dan menjadi teladan bagi banyak organisasi keagamaan Islam lain. Haedar menyampaikan pandangan ini dalam Pengajian Ahad Wage di PCM Moyudan, Sleman, pada Ahad (21/6).
Menurut Haedar, sebuah gerakan pembaruan senantiasa membutuhkan keberanian dan kesiapan untuk menghadapi penolakan, bahkan label "kafir". Perjuangan Kiai Dahlan untuk mencerdaskan bangsa menghadapi tantangan berat, termasuk penolakan dari komunitas muslim kala itu.
"Belanda penjajah bikin sekolah, Muhammadiyah kemudian bikin sekolah, ini dianggap menyerupai Londo. Maka Kiai Dahlan dianggap kafir," jelas Haedar Nashir, menggambarkan konteks penolakan yang dihadapi pendiri Muhammadiyah.
Seiring waktu, metode dakwah Kiai Dahlan membuahkan hasil signifikan. Persyarikatan Muhammadiyah, yang berdiri pada tahun 1912, kini memiliki ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan. Keberhasilan ini telah menjadi arus utama dan ditiru oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, Muhammadiyah sebagai pelopor pendidikan Islam modern diingatkan untuk tidak lengah dan terus berinovasi, terutama dalam pengelolaan Taman Kanak-kanak (TK) 'Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA).
Haedar Nashir juga menggarisbawahi filosofi pendidikan Muhammadiyah yang lebih mendalam. Baginya, pendidikan bukan sekadar alat untuk mencerdaskan akal guna mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Lebih dari itu, pendidikan Muhammadiyah bertujuan memberikan arti hidup bagi para peserta didik.
"Bekerja itu perlu semangat dan niat. tempat di mana saja kita bisa bekerja. Tapi kita urusannya anak sudah sekolah, bisa jadi pegawai negeri (ASN)," kata Haedar, menekankan bahwa semua pekerjaan memiliki derajat yang sama di mata Allah. Guru di sekolah swasta maupun wirausahawan tidak perlu berkecil hati, sebab setiap profesi harus dijalankan dengan niat ibadah, mencari berkah, dan semangat mengabdi.
Pendidikan dan beragam amal usaha Muhammadiyah, termasuk pendirian 'Aisyiyah, adalah wujud dari keinginan Kiai Dahlan untuk mengajak umat merasakan hidup yang berarti. "Jadi Muhammadiyah-Kiai Dahlan itu ingin mengajak orang untuk merasakan hidup itu berarti. Bikin sekolah, bikin rumah sakit, bahkan lahir โAisyiyah," ungkap Haedar.
Ketika mendirikan 'Aisyiyah, Kiai Dahlan bersama Nyai Walidah melihat perempuan masih terbelenggu stereotip yang membatasi peran mereka pada urusan domestik. Melalui 'Aisyiyah, Muhammadiyah mendorong perempuan untuk berperan aktif dan setara di ruang publik, maju bersama laki-laki demi kemajuan umat dan bangsa.





