Fondasi Keluarga Tangguh: Mengelola Persoalan dengan Hikmah

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 16 Juli 2024
Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdiyanto, baru-baru ini menyoroti peran sentral keluarga sebagai tiang penyangga utama masyarakat dan bangsa. Dalam sebuah pengajian yang berlangsung di Masjid KH Sudja Yogyakarta pada Kamis (16/7), Talqis menekankan pentingnya setiap muslim untuk membentuk keluarga yang kokoh berlandaskan ajaran Islam. Ia menegaskan bahwa keluarga yang ideal bukanlah yang luput dari masalah, melainkan yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan setiap persoalan dengan arif dan bijaksana.
Pembahasan mengenai kehidupan berkeluarga ini merupakan kelanjutan dari materi pembinaan pribadi dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Talqis menjelaskan, setelah individu dibekali dengan penguatan akidah, ibadah, akhlak, dan wawasan keilmuan, langkah berikutnya adalah mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam lingkungan keluarga sebagai wadah pertama pembentukan karakter. Setiap insan, baik sebagai orang tua, anak, suami, maupun istri, memiliki posisi dan peran dalam keluarga, bahkan mereka yang merasa hidup sendiri pun tetap terikat secara sosial dengan kerabat dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, manusia pada hakikatnya tidak pernah benar-benar terisolasi.
Talqis menguraikan bahwa kedudukan, fungsi, dan aktivitas keluarga menjadi tiga pilar utama yang perlu direfleksikan. Ini bertujuan agar setiap anggota keluarga dapat mengevaluasi apakah peran mereka telah selaras dengan tuntunan Islam. Ia mengajak para ayah untuk meninjau tanggung jawab kepemimpinan keluarga, ibu untuk mengukur keikhlasan dalam mengelola rumah tangga, dan anak-anak untuk merenungkan sejauh mana hubungan mereka dengan orang tua mencerminkan birrul walidain. Sebaliknya, orang tua juga perlu mempertimbangkan apakah pemenuhan kebutuhan anak-anak selama ini benar-benar membentuk pembinaan atau sekadar kewajiban formal.
Mengingatkan hadis Rasulullah saw., Talqis menegaskan bahwa setiap individu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. "ูููููููู ู ุฑูุงุนู ูููููููููู ู ู ูุณูุฆูููู ุนููู ุฑูุนููููุชููู" (Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.) Oleh karena itu, setiap anggota keluarga mengemban amanah yang harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran. PHIWM menempatkan keluarga sebagai fondasi vital bagi umat dan negara. Sebagai unit sosial terkecil, keluarga membentuk masyarakat yang kemudian berkembang menjadi bangsa. Kualitas masyarakat sangat bergantung pada kualitas keluarga-keluarga yang menyusunnya.
Lebih lanjut, Talqis mengingatkan agar keluarga tidak terjebak dalam sikap individualistis atau apatis terhadap lingkungan. Islam mengajarkan kepedulian sosial, seperti memperhatikan tetangga yang sedang kesulitan ekonomi atau tidak memiliki makanan. Keluarga juga merupakan medium paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan. Kedekatan emosional dalam keluarga menjadikannya ruang pendidikan pertama dan paling signifikan dalam membentuk karakter seseorang.
Talqis kemudian meluruskan pemahaman keliru tentang konsep keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Ia menjelaskan bahwa keluarga sakinah bukanlah keluarga yang bebas dari cobaan. Setiap keluarga pasti akan diuji oleh Allah Swt., sebagaimana keluarga Rasulullah saw. pun pernah menghadapi berbagai ujian, termasuk peristiwa hadis al-ifk yang menimpa Sayyidah Aisyah. Perbedaan antara keluarga yang kuat dan yang rapuh, menurutnya, terletak pada cara mereka menyelesaikan masalah, bukan pada ada atau tidaknya masalah itu sendiri. Persoalan harus dihadapi dengan bijaksana, tanpa diperbesar hingga menimbulkan keretakan yang lebih luas.
Dalam memilih pasangan hidup, Talqis mengulang kembali hadis Rasulullah saw. yang menyebutkan empat pertimbangan dalam pernikahan: harta, kecantikan, keturunan, dan agama. Ia menekankan bahwa faktor agama harus menjadi prioritas utama. Pemahaman agama yang kuat akan menjadi penuntun saat keluarga menghadapi beragam ujian hidup. Ia juga mengutip Surah al-Baqarah ayat 155 yang mengingatkan bahwa semua manusia akan diuji, baik melalui persoalan ekonomi, kesehatan, hubungan keluarga, maupun anak-anak. Dengan fondasi agama, keluarga akan lebih siap menghadapi setiap ujian tanpa melanggar syariat. Surah ar-Rum ayat 21 juga dikutip sebagai landasan pembentukan keluarga sakinah, yang menekankan ketenteraman, kasih sayang, dan cinta sebagai tujuan utama pernikahan yang harus senantiasa dipelihara.
Menghadapi tantangan keluarga modern, Talqis menyoroti pengaruh perkembangan teknologi. Banyak anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah namun kehilangan kedekatan emosional karena sibuk dengan gawai masing-masing. Ini mengakibatkan kehadiran fisik yang bersamaan, tetapi hati dan komunikasi yang semakin renggang. Ia menekankan pentingnya orang tua mendampingi anak saat belajar, berdialog tentang pengalaman mereka di sekolah, dan membangun komunikasi hangat setiap hari. Perhatian sederhana, seperti menanyakan kegiatan anak sepulang sekolah, merupakan bentuk kasih sayang yang sangat berarti.
Keluarga juga memiliki fungsi kaderisasi, khususnya dalam konteks Muhammadiyah, sebagai tempat lahirnya generasi muslim yang siap melanjutkan dakwah Persyarikatan. Oleh karena itu, orang tua dituntut menjadi teladan (uswah hasanah) dengan mempraktikkan nilai-nilai Islam terlebih dahulu di dalam rumah. Keteladanan, menurutnya, jauh lebih efektif daripada sekadar nasihat, karena perilaku orang tua lebih membekas dalam diri anak. Pendidikan keluarga juga harus diwarnai dengan penghargaan terhadap setiap anggota, termasuk apresiasi atas pekerjaan pasangan dan anak-anak.
Talqis menganalogikan bahwa keluarga memerlukan "nutrisi" layaknya makhluk hidup. Nutrisi ini tidak hanya berupa kebutuhan fisik, melainkan juga perhatian, penghargaan, komunikasi, dan berbagai kegiatan yang sarat nilai kebaikan. Ia mengingatkan pentingnya menumbuhkan budaya kasih sayang dalam keluarga. Mengutip sabda Rasulullah saw., "ุงุฑูุญูู ููุง ู ููู ููู ุงูุฃูุฑูุถู ููุฑูุญูู ูููู ู ู ููู ููู ุงูุณููู ูุงุกู" (Sayangilah penduduk bumi niscaya penduduk langit akan menyayangimu.) Talqis menjelaskan bahwa mereka yang menyayangi sesama akan memperoleh kasih sayang Allah Swt. Ia juga mengajak orang tua untuk tidak ragu menunjukkan kasih sayang fisik kepada anak melalui pelukan, ciuman, dan perhatian.
Dalam praktik kehidupan keluarga, Talqis mendorong setiap anggota untuk saling membantu dalam kebajikan, menghormati hak hidup setiap anak, menjaga kehormatan keluarga, serta membangun budaya musyawarah dalam menyelesaikan berbagai persoalan rumah tangga. Keputusan-keputusan penting keluarga, mulai dari pendidikan anak hingga urusan ekonomi, sebaiknya dibahas melalui musyawarah agar semua anggota merasa dihargai dan memiliki tanggung jawab bersama. Ia juga menekankan pentingnya berlaku adil kepada seluruh anak. Keadilan, menurutnya, bukan berarti perlakuan yang sama persis, melainkan pemberian hak secara proporsional sesuai kebutuhan masing-masing. Orang tua tidak cukup hanya menghentikan konflik antaranak, tetapi harus menyelesaikan akar persoalan agar tidak menimbulkan luka berkepanjangan.
Menutup kajiannya, Talqis mengingatkan bahwa pendidikan anak tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Orang tua memegang tanggung jawab utama dalam membentuk keimanan, akhlak, dan karakter anak. Ia mengajak seluruh keluarga Muhammadiyah untuk menjadikan rumah sebagai pusat pertumbuhan generasi saleh dan salehah melalui pendidikan, kasih sayang, keteladanan, serta komunikasi yang hangat. "Mudah-mudahan Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah serta keturunan yang saleh dan salehah," tutupnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





