FEB Unismuh Siapkan Kelas Adaptif untuk Prajurit TNI

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MAKASSAR - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar menyiapkan kelas percontohan bagi prajurit TNI sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan tinggi untuk profesi yang memiliki beban tugas ketat. Langkah itu diumumkan dalam sosialisasi penerimaan mahasiswa baru kepada jajaran Yonif 700/Wira Yudha Cakti di Mini Hall FEB Unismuh Makassar, Senin, 10 Agustus 2026.
Program tersebut tidak berhenti pada promosi kampus. FEB Unismuh mencoba merancang model pembelajaran yang lebih lentur agar prajurit tetap bisa menempuh kuliah tanpa mengganggu tanggung jawab kedinasan. Dari sosialisasi awal itu, sebanyak 19 prajurit sudah tercatat sebagai calon mahasiswa untuk kelas percontohan yang sedang disiapkan.
Dekan FEB Unismuh Makassar, Dr. Edi Jusriadi, menilai kebutuhan pendidikan tinggi di kalangan prajurit berkaitan langsung dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Ia menegaskan bahwa kampus ingin hadir bukan hanya sebagai penyedia gelar, tetapi sebagai mitra yang membantu prajurit memperkuat kemampuan kepemimpinan, manajerial, pengambilan keputusan, dan wawasan sosial. "Kami ingin kuliah tidak menjadi sesuatu yang terasa sulit bagi prajurit karena keterbatasan waktu dan tugas. Justru kita harus mencari solusi bersama agar tugas negara tetap berjalan dan keinginan untuk kuliah juga bisa diwujudkan," katanya.
Menurut Edi, tantangan utama bukan pada minat belajar, melainkan pada desain layanan pendidikan. Karena itu, FEB menyiapkan pilihan kelas yang lebih adaptif, termasuk kelas kerja dan Rekognisi Pembelajaran Lampau, agar pengalaman kerja dan ritme tugas calon mahasiswa dapat diperhitungkan dalam proses akademik. Pendekatan ini penting agar perluasan akses tidak berhenti pada penerimaan mahasiswa, tetapi berlanjut sampai mereka mampu bertahan dan menyelesaikan studi.
Dari pihak prajurit, kebutuhan tersebut juga disampaikan secara terbuka. Pasiintel Yonif 700/Wira Yudha Cakti, Lettu Inf. Abd Azis Budi Hasbullah, mengatakan keinginan melanjutkan pendidikan tinggi sebenarnya cukup besar di internal satuan, tetapi waktu menjadi kendala utama. "Banyak anggota kami yang sebenarnya ingin kuliah. Mereka punya semangat belajar, tapi masalahnya adalah waktu. Prajurit punya tugas dan tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja," ujarnya.
Azis menceritakan bahwa keinginan kuliah juga ia rasakan secara pribadi sejak lama. Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, ia memilih bekerja dan kemudian meniti karier sebagai prajurit. Menurut dia, pengalaman itu serupa dengan banyak anggota lain yang ingin menambah kapasitas akademik, namun harus menyesuaikan dengan pola tugas yang padat dan berubah-ubah.
Karena itu, kelas percontohan yang disiapkan FEB Unismuh menjadi penting sebagai uji awal apakah kampus mampu membangun skema kuliah yang realistis bagi profesi dengan mobilitas tinggi. Sosialisasi tersebut juga memuat penjelasan tentang mekanisme PMB, pilihan kelas, dan pola pembelajaran yang dapat diakses prajurit tanpa harus melepaskan tanggung jawab utamanya sebagai aparat negara.
FEB Unismuh tidak menempatkan langkah ini sebagai program jangka pendek. Fakultas tersebut membuka kemungkinan kerja sama yang lebih luas melalui nota kesepahaman antara Universitas Muhammadiyah Makassar dan TNI, lalu ditindaklanjuti dengan perjanjian yang lebih spesifik di tingkat fakultas atau satuan. Arah kerja sama itu mencakup pendidikan, pelatihan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kehadiran pimpinan fakultas, program studi, dosen, dan tenaga kependidikan dalam sosialisasi itu menunjukkan bahwa dukungan kelembagaan sudah mulai dibangun sejak tahap awal. Bagi Unismuh, keberhasilan program ini tidak cukup diukur dari jumlah pendaftar, tetapi dari kemampuan kampus membuktikan bahwa pendidikan tinggi dapat diakses oleh kalangan yang selama ini terkendala jam tugas, ritme kerja, dan keterbatasan waktu.
Jika kelas percontohan itu berjalan sesuai rencana, maka langkah FEB Unismuh dapat menjadi model bagaimana perguruan tinggi Muhammadiyah merespons kebutuhan pendidikan profesi secara lebih fleksibel. Dari Makassar, inisiatif ini membuka kemungkinan baru: prajurit tetap menjalankan tugasnya, sementara akses untuk meningkatkan kompetensi akademik tetap terjaga.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





