EMT Unismuh Layani 146 Pasien Pengungsi Gempa NTT dan Soroti Kebutuhan Dukungan Psikologis

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MANGGARAI TIMUR - Emergency Medical Team Universitas Muhammadiyah Makassar memperluas layanan kemanusiaannya di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, dengan menangani 146 pasien di dua titik pengungsian pada Ahad, 23 Agustus 2026. Operasi lapangan ini menegaskan bahwa respons Unismuh tidak lagi hanya berfokus pada pertolongan darurat awal, tetapi bergerak ke fase pemantauan kesehatan pengungsi yang makin kompleks.
Pelayanan dilakukan di Maki dan Larok, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lambaleda Utara. Dua lokasi ini menampung sekitar 370 warga yang masih bertahan di pengungsian setelah rangkaian gempa. Tim EMT Unismuh mendatangi langsung kedua titik tersebut untuk memeriksa kondisi riil warga, memberikan pengobatan, dan memetakan kebutuhan kesehatan yang berbeda di tiap posko.
Di Maki, pelayanan berlangsung pukul 10.00 sampai 12.00 WITA dengan 86 pasien yang diperiksa. Tim menemukan keluhan dominan berupa nyeri otot, infeksi saluran pernapasan akut, hipertensi, diabetes melitus, gastritis, dan tinea. Lokasi ini menjadi perhatian khusus karena sebelumnya belum menerima layanan kesehatan setelah gempa, sementara kondisi lingkungan yang berdebu memperbesar risiko gangguan pernapasan dan membuat kebutuhan masker serta air minum tambahan semakin mendesak.
Pada sore hari, EMT Unismuh bergeser ke Larok dan melayani 60 pasien dari sekitar 210 pengungsi. Selain pemeriksaan dokter, pengukuran tekanan darah, dan pemberian obat, tim juga menangani perawatan luka. Keluhan yang muncul di Larok mencakup myalgia, ISPA, hipertensi, diabetes melitus, gastritis, psoriasis, dan gastroenteritis akut. Meski Larok sudah pernah didatangi tim kesehatan, EMT Unismuh menilai pola keluhan di lapangan terus berubah sehingga pengobatan tidak bisa disamakan dari satu hari ke hari berikutnya.
Koordinator Tim Medis Unismuh, dr. Netty Nurnaningtias, Sp.EM, M.M.B., FICEP, mengatakan tekanan psikologis kini menjadi persoalan yang tidak bisa dipisahkan dari pelayanan medis pascagempa. "Gempa masih sering terjadi. Ketika gempa disertai dentuman keras, warga di posko menjadi cemas, gelisah, dan takut. Karena itu, selain pelayanan kesehatan fisik, kami melihat korban juga membutuhkan dukungan dan terapi psikologis," ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan perubahan kebutuhan pengungsi dari fase tanggap awal menuju fase pemulihan yang lebih rumit. Tim tidak lagi hanya menghadapi cedera atau keluhan akut akibat gempa, tetapi juga persoalan kesehatan yang lahir dari lamanya warga tinggal di pengungsian, buruknya sanitasi, dan tekanan mental akibat gempa susulan. Dalam kondisi seperti ini, asesmen lapangan harus terus diperbarui agar respons kesehatan tidak tertinggal dari perkembangan kebutuhan warga.
Netty menjelaskan bahwa perbedaan kondisi antarposko menuntut penanganan yang lebih presisi. Menurut dia, titik layanan yang sudah pernah mendapat intervensi pun tetap dapat memunculkan keluhan baru. "Yang kami temukan di setiap titik tidak selalu sama. Tim harus terus melakukan asesmen, karena kebutuhan warga dapat berubah dari hari ke hari," kata Netty.
Selain layanan klinis, EMT Unismuh juga mencatat kebutuhan dasar yang masih belum terpenuhi secara merata. Di Maki, keterbatasan air minum masih dirasakan pengungsi meski bantuan logistik sudah masuk. Di Larok, fasilitas mandi, cuci, kakus masih menjadi kebutuhan penting. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan pengungsi tidak bisa dipisahkan dari akses sanitasi, kebersihan lingkungan, dan kualitas hunian sementara.
Jangkauan baru di Maki dan Larok melanjutkan operasi EMT Unismuh setelah sebelumnya turun di Posko Damer, Kampung Bawe, dan Haju Wangi. Dengan menambah 146 pasien dalam satu hari, tim kesehatan dari Sulawesi Selatan ini memperkuat posisi Muhammadiyah sebagai jaringan yang mampu menghadirkan layanan medis bergerak sekaligus pemantauan kondisi sosial-psikologis korban bencana di luar daerah basisnya sendiri.
Bagi Unismuh Makassar dan jejaring Muhammadiyah Sulawesi Selatan, capaian ini penting bukan hanya karena jumlah pasien yang tertangani, tetapi juga karena berhasil memotret kebutuhan lanjutan penyintas secara lebih jujur. Respons kemanusiaan yang efektif tidak berhenti pada penyerahan obat atau kunjungan singkat, melainkan hadir sampai kebutuhan psikologis, masker, air minum, dan sanitasi dasar warga benar-benar teridentifikasi untuk ditindaklanjuti.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





