Dialog FKUB di Unismuh Makassar Dorong Pemuda Rawat Toleransi dan Kebangsaan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Makassar memulai program FKUB Goes to Campus melalui dialog kerukunan dan toleransi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Gedung Menara Iqra Lantai 5, Selasa, 9 Juni 2026.
Program ini dirancang sebagai ruang pertemuan bagi mahasiswa dan pemuda lintas agama untuk membahas toleransi, moderasi, dan harmoni sosial dalam masyarakat yang majemuk. Kegiatan di Unismuh Makassar menjadi pelaksanaan perdana dari format kampanye kampus yang disiapkan FKUB Kota Makassar.
Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Makassar, Haeruddin, hadir mewakili Wali Kota Makassar untuk membuka kegiatan sekaligus menjadi narasumber. Ia mengapresiasi inovasi FKUB dalam mengelola program kerukunan dan menilai inisiatif tersebut sejalan dengan agenda Pemerintah Kota Makassar dalam penguatan harmoni sosial serta kehidupan beragama.
Menurut Haeruddin, keterlibatan perguruan tinggi sangat penting karena kampus merupakan ruang pembentukan karakter generasi muda yang kelak memegang peran kepemimpinan di masyarakat. Karena itu, isu kerukunan tidak bisa hanya dibicarakan di ruang birokrasi atau forum tokoh agama, tetapi harus dibawa ke lingkungan mahasiswa.
Dialog ini menghadirkan Dekan FISIP Unismuh Makassar yang juga Wakil Ketua Umum Masika ICMI, Dr. Andi Luhur Priyanto, serta Sekretaris FKUB Kota Makassar, Dr. Usman Sofian, sebagai narasumber. Sementara jalannya diskusi dipandu Wakil Sekretaris FKUB Kota Makassar, dr. Erfan Sutono.
Dalam paparannya, Andi Luhur menekankan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar menjaga harmoni sosial di tengah tantangan demokrasi, perkembangan teknologi digital, dan meningkatnya polarisasi di berbagai ruang kehidupan. Menurutnya, kerukunan tidak cukup didefinisikan sebagai situasi tanpa konflik.
Ia menilai kerukunan harus dipahami sebagai kekuatan yang melahirkan kesadaran kolektif untuk membangun kehidupan bersama yang lebih inklusif. Karena Indonesia berdiri di atas fondasi kemajemukan, pemuda perlu menjadi penggerak narasi positif yang memperkuat persaudaraan, toleransi, dan kebangsaan.
Andi Luhur juga menyoroti posisi mahasiswa di era digital yang tidak lagi hanya menjadi konsumen informasi, tetapi sekaligus produsen narasi yang dapat memengaruhi arah kehidupan sosial dan demokrasi. Dalam konteks itu, perguruan tinggi dipandang memiliki tanggung jawab menumbuhkan kesadaran kritis sekaligus memperkuat komitmen kebangsaan.
Ketua FKUB Kota Makassar, Prof. H. Arifuddin Ahmad, menjelaskan bahwa program Goes to Campus merupakan bagian dari tugas pokok FKUB untuk membangun dialog dengan berbagai elemen masyarakat lintas agama. Melalui format ini, FKUB ingin memperluas ruang percakapan dengan kalangan muda, termasuk tokoh pemuda lintas agama dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Makassar.
Ia menambahkan bahwa generasi muda mempunyai posisi strategis dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman. Karena itu, kampus dianggap tempat yang tepat untuk menanamkan nilai saling menghormati, toleransi, dan semangat kebangsaan secara lebih sistematis.
Ketua Panitia Dialog, Darius Allo Tangko, menyebut kegiatan ini mengangkat tema "Beragama Maslahat dan Berkebudayaan Maju". Tema tersebut dinilai sejalan dengan program strategis Pemerintah Kota Makassar sebagaimana termuat dalam RPJMD Kota Makassar 2025-2029.
Di akhir dialog, FKUB Kota Makassar menegaskan harapannya agar kegiatan ini melahirkan komitmen bersama di kalangan mahasiswa dan pemuda untuk merawat kerukunan umat beragama, memperkuat persaudaraan kebangsaan, dan mendukung kehidupan sosial yang lebih harmonis serta inklusif di Kota Makassar.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





