Asyura: Refleksi Kemenangan Kebenaran dan Keteguhan Iman dalam Sejarah

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Bulan Muharram, sebagai pembuka kalender Hijriah dan salah satu dari empat bulan mulia, memiliki hari istimewa yang dikenal sebagai Asyura, jatuh pada tanggal 10 Muharram. Selain anjuran berpuasa, Hari Asyura juga menjadi penanda berbagai peristiwa besar dalam sejarah umat manusia, yang secara konsisten menyampaikan pesan tentang kemenangan kebenaran, keteguhan iman, dan pertolongan ilahi di tengah cobaan.
Salah satu narasi paling masyhur yang terkait dengan Hari Asyura adalah kemenangan Nabi Musa dan Bani Israil atas tirani Firaun. Setelah bertahun-tahun hidup dalam penindasan di Mesir, Allah memerintahkan Musa untuk memimpin kaumnya keluar. Saat mereka terdesak di tepi laut dengan pasukan Firaun mengejar di belakang, pertolongan Allah datang secara tak terduga. Laut terbelah, menyediakan jalan keselamatan bagi orang-orang beriman sekaligus menenggelamkan pasukan zalim.
Allah berfirman, "Lalu Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu.' Maka terbelahlah laut itu dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Kami dekatkan golongan yang lain ke tempat itu. Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sungguh Tuhanmu benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (QS. Asy-Syu'ara : 63-68).
Kisah ini mengajarkan bahwa kekuatan kezaliman, seberapa pun besarnya, tidak akan mampu melawan kehendak Allah. Pertolongan ilahi dapat datang dari arah yang tidak terduga, bahkan ketika semua jalan tampak tertutup.
Sebagian riwayat, meskipun dinilai lemah oleh ulama, menyebutkan bahwa pada Hari Asyura kapal Nabi Nuh berlabuh di Bukit Judi setelah banjir besar melanda bumi. Terlepas dari validitas riwayat waktu spesifiknya, kisah Nabi Nuh sendiri merupakan pelajaran berharga tentang kesabaran dan keteguhan.
Selama berabad-abad, Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya dengan penuh kesabaran, namun hanya sedikit yang beriman. Ketika azab Allah datang, keselamatan dianugerahkan kepada mereka yang tetap teguh bersamanya. Allah berfirman, "Naiklah kamu ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Hud : 41).
Setelah banjir surut, Allah berfirman, "Dan difirmankan, 'Wahai bumi, telanlah airmu, dan wahai langit berhentilah.' Air pun surut, keputusan telah ditetapkan, dan kapal itu berlabuh di atas Bukit Judi." (QS. Hud : 44).
Kisah ini mengingatkan bahwa kemenangan tidak selalu datang dengan cepat. Seorang mukmin terkadang harus melewati masa panjang penuh ujian sebelum menyaksikan pertolongan Allah, namun Allah tidak pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya.
Hari Asyura juga dikenang sebagai hari kesyahidan Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma, cucu tercinta Rasulullah Saw. Husain adalah salah satu anggota keluarga Nabi yang sangat dicintai, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Hasan dan Husain adalah dua bunga kesayanganku di dunia." (HR. al-Bukhari).
Pada tahun 61 Hijriah, Husain gugur di Karbala setelah menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar. Secara lahiriah, beliau terbunuh dan keluarganya mengalami penderitaan. Namun, dalam pandangan iman, kesyahidan Husain merupakan kemenangan yang melampaui kemenangan duniawi.
Rasulullah Saw bersabda, "Husain bagian dariku dan aku bagian dari Husain. Allah mencintai orang yang mencintai Husain." (HR. at-Tirmidzi). Allah juga berfirman, "Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah bahwa mereka itu mati. Bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (QS. al-Baqarah : 154).
Tragedi Karbala mengajarkan bahwa kemuliaan tidak semata-mata diukur dari keberhasilan politik atau militer. Ada kemenangan yang lebih tinggi, yaitu keteguhan mempertahankan prinsip kebenaran, bahkan dengan mengorbankan nyawa.
Saat mengenang kisah Musa, Nuh, dan Husain, umat Islam masa kini tidak dapat mengabaikan penderitaan rakyat Palestina yang terus menghadapi penindasan dan kekerasan. Pemandangan kehancuran, pengusiran, pembunuhan, dan berbagai bentuk ketidakadilan di Palestina mengingatkan bahwa perjuangan melawan kezaliman masih berlangsung hingga hari ini.
Dalam perspektif iman, kemenangan tidak selalu identik dengan keberhasilan yang segera tampak. Kemenangan dapat terwujud dalam bentuk keteguhan hati, kesabaran, kemuliaan para syuhada, serta keyakinan teguh bahwa keadilan Allah pasti akan terwujud pada waktunya.
Sebagaimana laut terbelah bagi Musa, bahtera keselamatan berlabuh bagi Nuh, dan surga menjadi balasan bagi Husain, demikian pula seorang mukmin diperintahkan untuk tetap optimis terhadap janji Allah, meskipun keadaan tampak sangat berat.
Maka, cara terbaik untuk memperingati Hari Asyura bagi umat Islam adalah sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw, yakni dengan berpuasa. Ketika Nabi Saw tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada Hari Asyura untuk mengenang kemenangan Nabi Musa. Beliau kemudian bersabda, "Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." (HR. al-Bukhari). Setelah itu, Rasulullah Saw berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk turut berpuasa.





