Ancaman Waswas: Merusak Keluarga, Kekuasaan, dan Keimanan Menurut Ghoffar Ismail

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, Jumat, 17 Juli. Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ghoffar Ismail, menyerukan umat Islam untuk senantiasa mewaspadai bisikan jahat atau waswas yang berpotensi merusak sendi-sendi kehidupan. Menurutnya, berbagai masalah krusial dalam rumah tangga, kepemimpinan, hingga keyakinan seringkali berakar dari bisikan yang awalnya tampak remeh, namun kemudian diyakini tanpa proses klarifikasi (tabayun), berujung pada keyakinan dan keputusan yang keliru.
Peringatan tersebut disampaikan Ghoffar Ismail dalam khutbah Jumat yang dilaksanakan di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dalam kesempatan itu, ia memulai penjelasannya dengan mengulas dua surah dalam Al-Qur'an yang dikenal sebagai al-Mu’awwidzatain, yaitu Surah al-Falaq dan Surah an-Nas. Kedua surah ini, jelasnya, sangat dianjurkan untuk dibaca secara rutin, termasuk sebelum tidur, sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah Swt.
Ghoffar memaparkan bahwa meskipun kedua surah tersebut sama-sama mengajarkan doa perlindungan, fokus keduanya berbeda. Surah al-Falaq mengarahkan umat untuk memohon perlindungan dari berbagai kejahatan eksternal, seperti kejahatan makhluk, kegelapan malam, sihir, dan kedengkian. Dalam surah ini, perlindungan cukup dimohonkan kepada Allah sebagai Rabb al-Falaq.
Berbeda dengan itu, Surah an-Nas secara spesifik memohon perlindungan hanya dari satu jenis bahaya, yakni bisikan jahat (waswas al-khannas). Namun, permohonan perlindungan ini dilakukan dengan menyebutkan tiga sifat Allah sekaligus, yaitu Rabb an-Nas, Malik an-Nas, dan Ilah an-Nas.
Menurut Ghoffar, penggunaan tiga sifat Allah dalam Surah an-Nas menggarisbawahi betapa seriusnya bahaya bisikan yang menyerang manusia. Ancaman waswas ini, berbeda dengan ancaman dari luar, beroperasi dari dalam hati dan pikiran, menjadikannya lebih sulit untuk dikenali dan dihadapi. “Bisikan itu tampak kecil, tetapi sangat berbahaya karena memengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan,” tegas Ghoffar. Ia menambahkan bahwa waswas dapat menyusup ke seluruh aspek kehidupan, mulai dari hubungan keluarga, pekerjaan, pendidikan, hingga masalah akidah, ibadah, dan akhlak.
Mengenai makna Rabb an-Nas, Ghoffar menjelaskan bahwa kata Rabb mengandung arti mendidik, memelihara, dan menjaga. Oleh karena itu, perlindungan kepada Allah sebagai Rabb sangat esensial ketika seseorang menjalankan perannya sebagai orang tua, pasangan, guru, dosen, atau anggota masyarakat. Bisikan jahat, lanjutnya, seringkali memicu kecurigaan yang tidak berdasar, seperti prasangka terhadap kesetiaan pasangan atau rasa hormat anak. Apabila bisikan semacam ini langsung dipercaya tanpa klarifikasi, masalah kecil dapat membesar menjadi konflik rumah tangga, pertengkaran, bahkan berujung pada perceraian.
Ghoffar mengutip Surah Qaf ayat 27, yang menerangkan bahwa di Hari Kiamat, jin qarin akan melepaskan diri dari manusia yang pernah diikutinya. Jin tersebut akan bersaksi bahwa mereka tidak pernah memaksa manusia berbuat sesat, melainkan manusia sendirilah yang memilih jalan kesesatan. “Dengan demikian, setan dari golongan jin maupun manusia tidak memiliki kemampuan memaksa seseorang. Mereka hanya membisikkan, sedangkan manusialah yang menentukan apakah akan mengikuti bisikan itu atau tidak,” jelasnya. Ia juga menyoroti fenomena peningkatan gugatan perceraian yang, menurutnya, tidak jarang berawal dari prasangka dan bisikan yang dibiarkan berkembang tanpa penyelesaian yang tepat.
Selanjutnya, Ghoffar menguraikan makna Malik an-Nas. Sifat Allah sebagai Raja dan Pemilik segala kekuasaan mengajarkan bahwa setiap individu yang memegang amanah harus ekstra hati-hati terhadap berbagai bisikan yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan. Ia mengingatkan bahwa para pemimpin atau pemegang jabatan seringkali dikelilingi oleh berbagai pihak yang memberikan masukan sesuai kepentingan masing-masing. Bisikan ini bisa datang dari orang terdekat seperti keluarga, teman, sekretaris, atau bahkan pembantu yang memiliki akses ke pengambil kebijakan. “Bisikan yang awalnya hanya berupa saran dapat berubah menjadi keyakinan, lalu berujung pada keputusan yang salah apabila tidak disaring dengan benar,” ujarnya. Oleh karena itu, seorang pemimpin wajib senantiasa memohon perlindungan kepada Allah sebagai Malik an-Nas, karena hanya Allah yang memiliki kekuasaan dan keputusan yang sempurna.
Terakhir, ia menjelaskan makna Ilah an-Nas sebagai Tuhan yang disembah. Bisikan jahat juga dapat menggoyahkan akidah dan kualitas ibadah seseorang. Godaan untuk meninggalkan keimanan, mengejar kesenangan duniawi, atau meremehkan ajaran agama merupakan bentuk waswas yang harus diwaspadai. Lebih jauh, bisikan ini juga dapat mengganggu kekhusyukan ibadah, memunculkan kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, bahkan tekanan psikologis jika terus dipelihara dalam pikiran.
Ghoffar menegaskan bahwa untuk menghadapi bisikan-bisikan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak membaca Surah an-Nas, sebagaimana tuntunan Rasulullah saw. Selain itu, penting untuk membiasakan diri menyaring setiap informasi yang diterima, tidak mudah mempercayai prasangka, serta memiliki keberanian untuk membedakan antara nasihat yang benar dan bisikan yang menyesatkan. “Manusia hidup berdampingan dengan banyak orang sehingga pasti menerima berbagai pengaruh. Karena itu, setiap bisikan harus diuji terlebih dahulu sebelum diterima sebagai kebenaran,” pungkasnya.
Menutup khutbahnya, Ghoffar kembali mengingatkan bahwa hati manusia bersifat mudah berubah (qalb berasal dari akar kata yang berarti berbolak-balik). Demikian pula hawa nafsu yang cenderung mengajak kepada keburukan jika tidak dikendalikan dengan akal sehat dan petunjuk wahyu. Oleh sebab itu, ia mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa menjaga hati, pikiran, dan kehidupan dengan memperbanyak membaca al-Mu’awwidzatain, sebab hanya Allah SWT yang memiliki kekuatan untuk melindungi manusia dari bisikan-bisikan jahat, baik yang datang dari golongan jin maupun manusia.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





