Aisyiyah Hadirkan Sikola Dilao', Jawab Tantangan Pendidikan di Pulau Balu Muna Barat

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Akses pendidikan menengah di Desa Santiri, Pulau Balu, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara, selama bertahun-tahun menghadapi kendala serius. Anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMA atau SMK harus menempuh perjalanan laut dan darat yang jauh serta memakan biaya tidak sedikit, menyebabkan tingginya angka putus sekolah dan persoalan perkawinan usia anak di wilayah pesisir ini.
Menjawab kebutuhan tersebut, ‘Aisyiyah hadir dengan mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sikola Dilao’. Berdiri pada tahun 2025, lembaga pendidikan nonformal ini menawarkan harapan baru bagi warga Pulau Balu. Dalam bahasa setempat, Sikola Dilao’ berarti “Sekolah di Laut”, merefleksikan lokasinya yang dikelilingi hamparan biru samudra.
Julaika, atau akrab disapa Ika, seorang guru di PKBM Sikola Dilao’, menjelaskan bahwa lembaga ini dirancang khusus untuk menjangkau mereka yang kesulitan mengakses pendidikan formal. “Jadi ini berbeda dengan sekolah formal pada umumnya. PKBM Sikola Dilao’ hadir dengan pendekatan yang fleksibel untuk memfasilitasi sebagian besar peserta didik yang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab keluarga,” ujar Ika saat diwawancarai pada Senin (22/6).
Fleksibilitas menjadi kunci utama, dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan pada sore hingga malam hari, memungkinkan peserta didik yang bekerja atau membantu keluarga pada siang hari untuk tetap mengikuti pendidikan. Pendekatan ini berhasil menarik kembali banyak warga yang sebelumnya putus sekolah.
Meskipun berstatus pendidikan nonformal, kurikulum yang diterapkan tetap mengacu pada Kurikulum Merdeka jalur kesetaraan, sesuai dengan Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024. Saat ini, Sikola Dilao’ menyelenggarakan Program Paket A untuk peserta usia 10-16 tahun, Paket B bagi warga belajar berusia 18-58 tahun, dan Paket C yang diikuti peserta berusia 19-46 tahun. Total 46 peserta didik tercatat aktif, terdiri atas 10 peserta Paket A, 9 peserta Paket B, dan 27 peserta Paket C.
Meski demikian, perjuangan PKBM Sikola Dilao’ masih panjang. Hingga kini, lembaga ini belum memiliki gedung sendiri dan masih menumpang di bangunan sekolah negeri melalui skema pinjam pakai. Pengurusan izin operasional serta Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) juga masih menjadi prioritas yang harus diselesaikan.
“Kami berharap ke depan PKBM Sikola Dilao’ bisa memiliki sarana dan prasarana yang memadai serta diberikan kemudahan dalam pengurusan izin operasional,” kata Ika. Ia juga menyimpan harapan besar agar jaringan pendidikan Muhammadiyah semakin berkembang di Muna Barat, mengingat saat ini baru terdapat PAUD/TK Aisyiyah serta Institut Teknologi, Bisnis, dan Kesehatan Muhammadiyah (ITBKM), tanpa adanya SD, SMP, maupun SMA Muhammadiyah.
Kehadiran PKBM Sikola Dilao’ menjadi bukti bahwa pendidikan tidak harus terhenti oleh keterbatasan. Dari ruang belajar sederhana di tengah tantangan, harapan untuk masa depan yang lebih cerah terus dinyalakan bagi siapa pun yang selama ini tertinggal oleh jarak dan keadaan. Ini adalah langkah kecil yang berpotensi menciptakan perubahan besar bagi masyarakat Pulau Balu.





