Abdul Mu'ti Resmikan Dua AUM di Semarang, Tegaskan Amal Salih Harus Berwujud Aksi Nyata

MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, meresmikan dua amal usaha pendidikan baru milik Muhammadiyah dan 'Aisyiyah di Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah. Dalam kesempatan tersebut, Mu'ti menegaskan pentingnya mewujudkan amal salih dalam aksi nyata, bukan sekadar ritual semata.
Peresmian yang berlangsung pada Sabtu, 19 Juni, ini meliputi SD Muhammadiyah Plus Banyumanik dan Kelompok Bermain 'Aisyiyah 01 Banyumanik. Acara tersebut juga dibarengi dengan pengajian Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang yang bertema "Dari Konsolidasi ke Aksi: Meneguhkan Kepemimpinan Muhammadiyah yang Mencerahkan dan Berkemajuan," bertempat di Griya Harmoni Amposari Timur, Kedungmundu, Kota Semarang.
Mu'ti, yang juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, mengungkapkan kebahagiaannya dapat kembali ke Semarang. "Alhamdulillah hari ini saya bisa hadir disini dan tentu saja merasa sangat bahagia setiap kali ke Semarang itu serasa kembali ke rumah," ujarnya.
Dalam sambutannya, Mu'ti mengingatkan bahwa Muhammadiyah tidak boleh stagnan. Organisasi ini harus terus bergerak sebagai gerakan pemikiran yang menjunjung tinggi dakwah amar makruf nahi munkar dan tajdid. Berbagai amal usaha yang telah didirikan dan dijalankan Muhammadiyah merupakan aktualisasi, konkretisasi, dan objektivikasi dari pengamalan amal salih.
Ia menjelaskan, Muhammadiyah sejak awal mengajarkan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar kitab suci yang disakralkan dan dibaca untuk ritual. "Muhammadiyah mengajarkan kita sejak awal bahwa Qurβan itu tidak sekadar kitab suci yang disakralkan dan dibaca untuk ritual belaka, tetapi telah mengakar menjadi bagian petunjuk hidup dan petunjuk yang hidup," tegasnya.
Sebagai contoh, Mu'ti menyebut pendirian rumah sakit Muhammadiyah. Meski tidak ada perintah eksplisit dalam Al-Qur'an atau contoh dari Nabi untuk mendirikan rumah sakit, semangat untuk berikhtiar dan optimisme bahwa setiap penyakit ada obatnya menjadi landasan. Ia mengutip QS Asy-Syu'ara ayat 80 yang menyatakan, "setiap hamba yang sakit, maka Allah yang akan menyembuhkan."
"Dari situlah kita mendapat petunjuk agar menjadi orang yang senantiasa berikhtiar. Jadi tentang bagaimana menemukan, memproduksi obat dan bagaimana Allah sebagai Maha menyembuhkan, itu kan harus ada aksinya," jelas Mu'ti. Langkah aktualisasi ini tidak hanya terbatas pada sektor kesehatan, tetapi juga merambah pendidikan, panti asuhan, pondok pesantren, dan berbagai layanan sosial Muhammadiyah lainnya.
Mu'ti menekankan bahwa pendekatan ini menjadi pembeda antara Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan dengan gerakan Islam lain yang hanya menekankan spiritualisasi belaka. "Inilah yang menjadi pembeda antara gerakan Islam seperti Muhammadiyah yang sejak awal menjadi gerakan pembaruan dengan gerakan-gerakan islam yang menekankan spiritualisasi belaka," pungkasnya.
Hadirnya SD Muhammadiyah Plus Banyumanik dan Kelompok Bermain 'Aisyiyah 01 Banyumanik diharapkan semakin memperkuat peran Muhammadiyah dan 'Aisyiyah dalam mencetak generasi berilmu, berakhlak mulia, serta memiliki semangat berkemajuan. Kedua amal usaha ini menjadi bukti nyata bahwa dakwah Muhammadiyah terus diwujudkan melalui kerja-kerja konkret yang menjawab kebutuhan masyarakat.





