Widyastuti: Pustaka Menjadi DNA Muhammadiyah, Sejarah Lokal Perlu Diperluas

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, SURABAYA - Jauh sebelum Akademi Sejarah Muhammadiyah digelar, warga Muhammadiyah telah menulis riwayat tokoh, cabang, dan perjalanan gerakan dalam buku-buku kecil yang terbit sejak dekade 1950-an dan 1960-an.
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Widyastuti, M.Hum., mengangkat kembali jejak tersebut dalam laporan pembukaan Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM) Batch II di Surabaya, Jumat (7/8/2026).
ASM Batch II mempertemukan 25 peserta dari perwakilan MPI berbagai wilayah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan guru sejarah. Melalui forum ini, peserta disiapkan untuk mengembangkan penulisan sejarah lokal dengan sumber dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menyebut buku riwayat hidup KH Ahmad Badawi dan KH Ahmad Dahlan sebagai bagian dari tradisi penulisan yang telah lama tumbuh. Terbitan seperti Suara Muhammadiyah dan Suara Aisyiyah juga menunjukkan bahwa kerja pustaka melekat pada perjalanan organisasi.
"Pustaka itu menjadi satu hal yang menjadi DNA-nya Muhammadiyah sejak awal berdirinya," ujar Widyastuti.
Menurutnya, Bagian Pustaka termasuk bagian awal yang dibentuk pada masa KH Ahmad Dahlan. Dalam perjalanannya, unit itu sempat tidak muncul sebagai majelis, kemudian hadir sebagai Lembaga Pustaka dan Informasi, sebelum kembali menjadi Majelis Pustaka dan Informasi.
MPI PP Muhammadiyah kini mengerjakan sejumlah agenda besar di bidang sejarah. Museum Muhammadiyah dikembangkan sebagai tempat pendokumentasian perjalanan persyarikatan, sementara buku Sejarah Muhammadiyah Indonesia sedang disusun bersama lebih dari 22 sejarawan Muhammadiyah dari berbagai daerah.
Widyastuti juga menyoroti terbatasnya program studi yang khusus menyiapkan tenaga di bidang sejarah. Ia menyebut baru lima perguruan tinggi Muhammadiyah yang memiliki Program Studi Pendidikan Sejarah, yakni UM Palembang, UM Purwokerto, UM Metro, Uhamka, dan UM Mataram.
ASM Batch I sebelumnya melibatkan mahasiswa dari lima perguruan tinggi tersebut dan menghasilkan 20 judul skripsi tentang Muhammadiyah. Pada Batch II, peserta diperluas dengan melibatkan perwakilan MPI dari berbagai wilayah, mahasiswa Universitas Airlangga, serta guru sejarah dari sekolah Muhammadiyah di Jawa Timur.
"ASM Batch Kedua ini menghasilkan provokator-provokator positif untuk penulisan sejarah di wilayahnya dan di wilayah sekitarnya," kata Widyastuti.
Jawa Timur dipilih sebagai tempat pelaksanaan karena dinilai berhasil mempertemukan sejarawan akademis dan sejarawan kultural dalam kerja penerbitan. Widyastuti mengatakan tim MPI PP Muhammadiyah menerima sekitar 21 buku sejarah yang telah diterbitkan di wilayah tersebut.
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





