Ustadi Hamsah: Islam Agama Azali, Melekat pada Fitrah Manusia Sejak Penciptaan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, Rabu, 15 Juli.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustadi Hamsah, menyampaikan pandangannya mengenai hakikat Islam sebagai agama yang telah menyatu dengan fitrah manusia sejak awal penciptaan. Menurutnya, Islam bukanlah ajaran yang baru muncul setelah kenabian Muhammad SAW, melainkan sebuah sistem tauhid yang bersifat azali dan asali. Penjelasan ini disampaikannya dalam Pengajian Tarjih Muhammadiyah.
Ustadi Hamsah mengaitkan konsep ini dengan Surah Al-Aโraf ayat 172, yang mengisahkan perjanjian primordial ketika seluruh ruh manusia bersaksi atas keesaan Allah. Ia menegaskan, โIslam adalah agama yang dari sononya, agama yang menyatu dalam kehidupan manusia sejak awal. Sebelum manusia lahir, Allah sudah bertanya, โุฃูููุณูุชู ุจูุฑูุจููููู ู?โ (Alastu birabbikum? - Bukankah Aku ini Tuhanmu?) dan seluruh manusia menjawab, โุจูููููฐ ุดูููุฏูููุงโ (Bala syahidna - Ya, kami bersaksi). Itu menunjukkan bahwa pengakuan terhadap Allah sudah melekat dalam fitrah manusia.โ
Ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW, โููููู ู ููููููุฏู ูููููุฏู ุนูููู ุงููููุทูุฑูุฉูโ (Kullu mauludin yuladu โalal fitrah - Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah), untuk menjelaskan bahwa setiap individu lahir dalam kesucian dan bertauhid kepada Allah. Penyimpangan dari fitrah ini, lanjutnya, umumnya dipengaruhi oleh lingkungan, pendidikan, dan pola asuh.
Membahas Surah Ali Imran ayat 18, Ustadi menguraikan bahwa Allah sendiri menjadi saksi atas keesaan-Nya, yang kemudian diperkuat oleh kesaksian para malaikat dan ulul ilmi (orang-orang yang berilmu). Ia mempertanyakan mengapa Allah masih melibatkan kesaksian malaikat dan ulul ilmi, padahal di ayat lain disebutkan bahwa kesaksian Allah saja sudah cukup.
Mengacu pada Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah, Ustadi menjelaskan bahwa penyebutan malaikat dan ulul ilmi merupakan bentuk penghormatan sekaligus penegasan bahwa keimanan tidak cukup hanya sebatas keyakinan. โKeimanan kepada Allah itu tidak hanya sekadar keyakinan, tetapi ada dalil-dalil atau bukti-bukti yang bersifat empirik. Berarti keimanan itu bisa dipertegas dan dibuktikan secara saintifik,โ jelasnya. Menurutnya, keberadaan ulul ilmi menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi jalan bagi manusia untuk mengakui keberadaan Tuhan, seperti yang terlihat dalam logika matematika, neurosains, hingga fisika modern yang membahas asal-usul alam semesta.
Berlanjut ke Surah Ali Imran ayat 19, dengan firman โุฅูููู ุงูุฏููููู ุนููุฏู ุงูููููู ุงููุฅูุณูููุงู ูโ (Innad-dina โindallahil Islam - Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam), Ustadi menerangkan bahwa ayat ini tidak hanya merujuk pada nama agama, melainkan juga menjelaskan sistem keyakinan yang diterima Allah.
Ia membedakan dua pengertian Islam:
- Islam sebagai semangat ketundukan: Ini adalah semangat yang telah diajarkan kepada seluruh nabi, dari Nabi Adam hingga Nabi Isa. Para nabi terdahulu disebut muslim karena mereka berserah diri kepada Allah.
- Islam sebagai nama resmi agama: Deklarasi nama ini terjadi setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 3. Ustadi mengilustrasikan, โMusa muslim, Isa muslim, Maryam muslim. Tetapi nama agamanya belum disebut karena baru berupa semangat berserah diri kepada Allah. Ketika Rasulullah diutus, Allah mendeklarasikan bahwa agama yang diridai itu bernama Islam.โ
Dalam kajiannya, Ustadi menguraikan empat makna pokok Islam berdasarkan Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah:
- Ketundukan, Kepatuhan, dan Kepasrahan: Ini adalah penghambaan yang lahir dari kecintaan kepada Allah, bukan keterpaksaan. โApapun yang dikehendaki Allah kita ikuti. Hidup dan mati hanya untuk Allah. Itulah makna pertama dari Islam,โ ujarnya.
- Pembebasan: Berislam berarti membebaskan diri dari syirik, kebodohan, kemiskinan, dan segala penghalang kebaikan. Ia mencontohkan, โKe kampus, ke kantor, bekerja dengan sungguh-sungguh, itu bagian dari ketundukan kita kepada Allah. Belajar berarti membebaskan diri dari kebodohan.โ
- Kemajuan: Islam mendorong manusia untuk terus berkembang menuju keadaan yang lebih baik. โOrang berislam itu semangatnya harus maju. Berpikir maju, bersikap maju, tindak tanduknya maju. Kalau berislam justru membuat kita mundur, berarti ada problem dalam memaknai Islam,โ tegasnya. Semangat kemajuan ini, khususnya dalam Muhammadiyah, diwujudkan secara kolektif melalui konsep amal jamaโi di berbagai bidang seperti dakwah, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. โIslam bukan hanya maju sendiri, tetapi memajukan orang lain. Di situlah peran Muhammadiyah melalui gerakan dakwah yang meluas ke berbagai bidang kehidupan,โ imbuhnya.
- Perdamaian: Tujuan akhir ajaran Islam adalah menciptakan ketenteraman, kesejahteraan, kemaslahatan, dan kehidupan yang damai. โSemangat berislam adalah semangat menciptakan kesejahteraan, kemaslahatan, kedamaian, dan kenyamanan. Kalau Islam dipahami sebagai sesuatu yang menghadirkan kebencian dan kerusakan, berarti ada masalah dalam cara memaknai Islam,โ katanya.
Ustadi melanjutkan dengan menjelaskan bahwa Tafsir At-Tanwir juga merumuskan karakteristik Islam yang bersumber dari Allah, komprehensif, universal, sesuai fitrah, menempatkan akal secara proporsional, membawa rahmat, berorientasi masa depan tanpa mengabaikan dunia, serta menjanjikan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ia menekankan bahwa Islam tidak boleh dibatasi hanya pada ritual ibadah mahdhah. โBerislam itu salat, zakat, puasa, haji, iya. Tetapi bekerja juga Islam, membangun rumah sakit Islam, memajukan pendidikan Islam, mengembangkan ekonomi Islam, meningkatkan ilmu pengetahuan juga Islam,โ ungkapnya. Akal, sebagai anugerah Allah, harus digunakan secara proporsional dan tidak dipertentangkan dengan wahyu, melainkan saling melengkapi.
Mengakhiri kajiannya, Ustadi mengajak umat Islam untuk memahami ajaran Islam secara menyeluruh (kaffah), sesuai tuntunan Al-Qurโan dan manhaj Muhammadiyah. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak hanya fokus pada dimensi ritual, tetapi juga menjadikan Islam sebagai fondasi untuk membangun peradaban yang maju, membebaskan manusia dari keterbelakangan, serta menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
โMarilah kita berislam dengan empat makna itu. Tunduk kepada Allah, membebaskan diri dari segala yang menghalangi kebaikan, memiliki semangat untuk maju dan memajukan, lalu menghadirkan kedamaian sebagai rahmat bagi semesta alam,โ pungkasnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





