Unismuh Makassar Selenggarakan Kuliah Pakar, Soroti Implikasi AI pada Pendidikan dan Kesenjangan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, Selasa, 7 Juli 2026 - Program Magister Pendidikan Sosiologi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menyelenggarakan kuliah pakar yang membahas secara mendalam peran kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan. Acara yang berlangsung di ruang lantai dua Program Pascasarjana Unismuh Makassar ini menghadirkan Prof. Madya Dr. Norwaliza binti Abdul Wahab, seorang akademisi dari Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia, sebagai narasumber utama.
Dipandu oleh Ketua Prodi S2 Pendidikan Sosiologi, Kaharuddin, M.Pd., Ph.D., diskusi utama berpusat pada pertanyaan kritis yang diajukan Prof. Norwaliza: “AI dalam Pendidikan: Membuka Peluang atau Melebarkan Jurang Sosial?” Ia menekankan bahwa AI bukan sekadar alat netral, melainkan memiliki dimensi sosiologis yang kuat. Prof. Norwaliza menyoroti bagaimana akses terhadap teknologi ini berpotensi memperlebar kesenjangan sosial, mengutip stratifikasi ekonomi di Malaysia (T20, M40, B40) sebagai contoh. “Kalau anak-anak T20, mereka ada everything. Mereka boleh belajar dengan alat yang lengkap, buku yang lengkap,” ujarnya, membandingkan dengan anak-anak B40 yang mungkin memiliki keterbatasan akses.
Meskipun mengakui pemanfaatan AI untuk efisiensi pekerjaan akademik, Prof. Norwaliza mengingatkan pentingnya manusia untuk memandu AI, bukan sebaliknya. “Slide ini disediakan oleh AI,” katanya. “Cuma kita perlu pandu AI ini supaya dia lebih bijak macam kita, bukannya dia lebih bijak daripada kita.” Ia juga berbagi pengalaman mengenai AI yang menghasilkan rujukan palsu, menegaskan bahwa verifikasi manusia dan pemikiran kritis tetap tak tergantikan. “Dia tipu saya,” ujarnya, disambut tawa peserta, seraya menambahkan, “Sebenarnya link itu tak wujud.” Prof. Norwaliza menegaskan, “Kalau prompt betul, betul lah dapatnya. Kalau prompt salah, salah lah dapatnya. Tapi yang penting sekali kita kena double check.”
Kegelisahan lain yang diangkat adalah potensi AI dalam mengurangi kesabaran membaca dan berpikir kritis di tengah budaya serba cepat. Ia mengusulkan metode lama yang kini terasa baru: meminta mahasiswa untuk menjelaskan hasil pekerjaannya. “Saya tahu kamu menggunakan AI, it’s okay,” kata Prof. Norwaliza, menirukan kalimatnya kepada mahasiswa. “Tetapi you must spend some time to read. Bila you present, we expect you to be the expert in that topic.” Ia menambahkan, “Kalau dia boleh jawab, maksudnya dia memang menggunakan AI dan memahami apa yang dia buat. Itu sebabnya saya suka sebelum hantar tugasan, bentang dulu di depan.”
Dampak AI pada interaksi sosial dan pengembangan soft skill, khususnya dalam kerja kelompok, juga menjadi perhatian. “Tiada interaksi dalam kumpulan,” jelasnya. “Bila tiada interaksi, nanti hasilnya tidak ada kesinambungan.”
Seorang dosen peserta forum, Hadisaputra, menambahkan pandangannya tentang mahasiswa yang cenderung menjadi “cyborg” karena ketergantungan pada AI. Ia menekankan perlunya landasan teoritis yang kuat untuk menyaring informasi dari AI. “Kita tidak akan punya filter untuk memfilter produk AI kalau kita tidak memiliki piranti teoritik,” katanya. “Kemampuan berpikir kritis terbangun dari habituasi membaca.”
Menanggapi isu etika dan kepengarangan, Prof. Norwaliza menyarankan pendekatan moderat: tidak melarang total, tetapi menetapkan etika dan rubrik yang jelas. “Kita terpaksa membenarkan pelajar menggunakan AI, tetapi berdasarkan etika,” ujarnya. “Boleh guna AI sebagai panduan saja, bukan menggunakan 100 persen hasil AI untuk tugasan.”
Diskusi juga menyentuh pentingnya integrasi budaya lokal dalam pendidikan. Prof. Norwaliza menekankan bahwa kampus, meskipun bergerak global, harus tetap membumi dan tidak melupakan akar lokalnya. “Budaya sangat penting,” katanya. “Kalau bukan kita yang menekankan budaya, siapa lagi?”
Sebagai penutup, ia menegaskan kembali pesan utama kuliah pakar ini: “Gunakan AI untuk menyokong pemikiran, bukan menggantikan pemikiran.” Ia mengingatkan bahaya jika generasi muda terlalu dini menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin, yang dapat menghambat pemahaman masalah riil di masyarakat. Kuliah pakar ini menyimpulkan bahwa tantangan terbesar bukan pada penggunaan AI itu sendiri, melainkan pada potensi hilangnya semangat bertanya, membaca, dan berdialog, yang digantikan oleh kepuasan instan dari jawaban mesin.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





