Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Dorong Dana Abadi untuk Kemandirian Finansial PTMA

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 6 Juli 2023 - Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah kini gencar mendorong pengembangan dana abadi (endowment fund) sebagai strategi fundamental untuk memperkuat kemandirian finansial Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA). Inisiatif strategis ini merupakan respons terhadap kebutuhan pembiayaan jangka panjang yang berkelanjutan bagi institusi pendidikan tinggi.
Gagasan ini menjadi fokus utama dalam Focus Group Discussion (FGD) I Program KONEKSI, sebuah forum penting yang diselenggarakan pada Senin, 6 Juli, di SM Tower. Acara tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk regulator, akademisi, dan perwakilan dari sektor pendidikan tinggi, untuk membahas solusi pembiayaan yang inovatif.
Diskusi dalam forum tersebut menyoroti realitas bahwa sebagian besar perguruan tinggi swasta di Indonesia masih sangat bergantung pada uang kuliah mahasiswa sebagai sumber pendapatan utama. Kondisi ini memerlukan terobosan, yakni dengan menciptakan sumber pembiayaan yang lebih stabil dan berkelanjutan melalui pengelolaan dana abadi secara profesional.
Program KONEKSI sendiri adalah sebuah penelitian kolaboratif yang melibatkan konsorsium lintas institusi. Tim peneliti menggabungkan keahlian dari bidang pendidikan tinggi, filantropi, hukum, dan tata kelola. Amika Wardana, Ketua Tim Peneliti KONEKSI dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, memimpin tim yang beranggotakan Fitri Arofiati dan Lukman Hakim (juga dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), Muhammad Hilali Basya dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), serta Satria Unggul Wicaksana dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya). Penelitian ini juga mendapat dukungan kolaborasi dari Griffith Institute for Educational Research, Griffith University, Australia.
Amika Wardana menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam membangun dana abadi bukan hanya pada kemampuan menghimpun dana, melainkan juga pada pembentukan tata kelola yang profesional agar dana tersebut dapat terus bertumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang. “Dana abadi harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan perguruan tinggi. Prinsipal dana harus tetap dijaga, sedangkan hasil pengembangannya dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan, riset, beasiswa, maupun inovasi,” tegas Amika.
FGD ini turut menghadirkan berbagai pihak penting, antara lain Badan Wakaf Indonesia (BWI), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI), serta perwakilan perguruan tinggi berbasis keagamaan dari beragam latar belakang.
Dalam forum tersebut, dipaparkan sejumlah contoh praktik terbaik dalam pengelolaan dana abadi dan wakaf produktif. Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor dan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) misalnya, telah sukses mengembangkan model penguatan dana umat melalui wakaf produktif dan badan wakaf yang menjadi penopang keberlanjutan institusi mereka. Badan Wakaf Unissula bahkan mengungkapkan bahwa pengembangan konsep dana abadinya melibatkan studi banding, termasuk belajar dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan berbagai lembaga nadzir lainnya untuk memperkuat tata kelola.
Badan Wakaf Indonesia (BWI) menambahkan bahwa konsep dana abadi memiliki kesamaan dengan wakaf produktif yang telah mengakar dalam tradisi Islam. Salah satu instrumen yang dianggap sangat potensial adalah Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS), yang tidak hanya memberikan manfaat bagi dunia pendidikan tetapi juga menawarkan skema investasi yang relatif aman.
Praktik menarik lainnya datang dari Majelis Pendidikan Tinggi Kristen Indonesia dengan program “Sekolah Membantu Sekolah”. Program ini menonjolkan semangat solidaritas antarlembaga pendidikan, di mana sekolah dan perguruan tinggi yang sudah mapan memberikan dukungan kepada institusi yang masih dalam tahap pengembangan. Pendanaan program ini berasal dari penggalangan dana tahunan dari kalangan pengusaha, dukungan korporasi, serta koperasi pendidikan. Sementara itu, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa berbagi perspektif tentang pengelolaan dana yayasan yang berlandaskan prinsip etika dan nilai spiritual, di mana setiap keputusan investasi mempertimbangkan tidak hanya keuntungan ekonomi, tetapi juga kemanfaatan dan kesesuaian dengan nilai-nilai moral.
Di lingkungan PTMA sendiri, Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) telah memulai inisiatif pengembangan dana abadi. Sumber dana ini berasal dari kombinasi sisa anggaran, filantropi, dukungan alumni, dan investasi. Dana tersebut dialokasikan untuk mendukung program beasiswa, pengembangan kapasitas dosen, serta pembangunan infrastruktur kampus.
Forum diskusi juga sangat menekankan pentingnya tata kelola yang baik dalam pengelolaan dana abadi. Perwakilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengingatkan bahwa transparansi, akuntabilitas, independensi, serta pengendalian konflik kepentingan adalah prasyarat mutlak untuk membangun kepercayaan publik terhadap pengelolaan dana tersebut.
Bagi Muhammadiyah, pengembangan dana abadi tidak hanya berfokus pada aspek pembiayaan pendidikan tinggi semata, melainkan juga merupakan bagian integral dari penguatan gerakan filantropi Islam yang selama ini menjadi ciri khas Persyarikatan. Tradisi wakaf, zakat, infak, sedekah, dan kepedulian sosial diharapkan dapat terus berkembang melalui tata kelola yang modern, profesional, dan berkelanjutan.
Melalui Program KONEKSI, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah bersama mitra dari Indonesia dan Australia berkomitmen untuk menyusun model pengelolaan dana abadi yang dapat menjadi panduan bagi PTMA maupun perguruan tinggi berbasis keagamaan lainnya. Hasil penelitian ini akan mencakup model implementasi, toolkit, modul pelatihan, serta policy brief yang diharapkan mampu memperkuat kemandirian pembiayaan pendidikan tinggi di Indonesia.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





