Unismuh Makassar dan UPSI Malaysia Kolaborasi dalam Seminar Internasional, Soroti Transformasi

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dan Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, berkolaborasi menyelenggarakan International Joint Seminar pada Selasa, 7 Juli 2026. Bertempat di Hall I-GIFt Unismuh Makassar, seminar ini mengangkat tema “Transformasi Masa Depan Pendidikan: Integrasi Eksakta, Sosial dan Kurikulum” dengan tujuan memperkuat kerja sama akademik internasional melalui forum ilmiah yang membahas integrasi sains, teknologi, kurikulum, budaya, serta nilai kemanusiaan dalam pendidikan masa depan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan delegasi UPSI Malaysia ke Unismuh Makassar yang berlangsung dari tanggal 6 hingga 9 Juli 2026. Acara dibuka oleh Wakil Rektor IV Unismuh Makassar, Dr. Burhanuddin, yang hadir mewakili Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU. Dalam sambutannya, Dr. Burhanuddin menyampaikan permohonan maaf Rektor yang berhalangan hadir karena agenda lain.
“Unismuh Makassar menjadi suatu kehormatan karena kita dikunjungi oleh pakar dari UPSI. Ini tanda-tanda baik bagi Unismuh Makassar,” ujar Dr. Burhanuddin dalam pidato pembukaan. Ia menambahkan bahwa kunjungan akademisi UPSI sejalan dengan visi Unismuh Makassar untuk memperkuat daya saing internasional, di mana Rektor telah mencanangkan pengembangan kampus menuju perguruan tinggi bereputasi global sejak tahun akademik 2024-2028. Dr. Burhanuddin juga menyebutkan bahwa Unismuh Makassar memiliki 830 dosen, dengan 320 di antaranya berkualifikasi doktor, atau sekitar 39 persen dari total dosen tetap. Unismuh saat ini aktif mendorong peningkatan kualifikasi akademik dosen, salah satunya melalui dukungan studi doktoral, khususnya bagi dosen muda di bawah 35 tahun yang diarahkan untuk melanjutkan studi di bidang pendidikan, termasuk di UPSI Malaysia. “Teman-teman di sini yang berasal dari fakultas kependidikan, boleh menancapkan niat mulai dari sekarang untuk lanjut di UPSI,” ajaknya. Dr. Burhanuddin berharap kerja sama kedua kampus tidak hanya terbatas pada seminar bersama, tetapi juga berlanjut dalam kolaborasi riset, publikasi, pertukaran pelajar, dan penguatan akreditasi. “Bukan cuma joint seminar yang kami harapkan. Mungkin ada kolaborasi riset, kolaborasi publikasi, kemudian pertukaran pelajar,” tambahnya.
Seminar ini dipandu oleh Dr. Salwa, Ketua Program Studi S3 Pendidikan Unismuh Makassar, yang dalam pengantar sesinya menekankan relevansi tema seminar dengan dinamika pendidikan abad ke-21, mengingat pertemuannya antara bidang eksakta, sains, teknologi, kurikulum, dan ilmu sosial.
Sesi panel dibuka oleh Wakil Rektor I Unismuh Makassar, Prof. Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., atau akrab disapa Prof Andis, yang membawakan materi tentang peran guru dalam kultur Bugis-Makassar. Ia menegaskan bahwa transformasi pendidikan tidak cukup hanya ditopang teknologi digital, melainkan harus tetap berakar pada nilai budaya dan kemanusiaan. Prof Andis memperkenalkan tiga nilai utama Bugis-Makassar, yaitu sipakatau, sipakainge, dan sipakalebbi, sebagai dasar etika guru dalam memperlakukan peserta didik. “Sipakatau itu artinya memanusiakan manusia. Kemudian ada sipakainge, saling mengingatkan. Dan yang ketiga ada sipakalebbi, saling menghormati, saling menghargai, saling mengapresiasi,” jelasnya. Menurut Prof Andis, guru merupakan sosok terdekat dengan murid, sehingga kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengenal murid, memberi refleksi, dan membangun suasana belajar yang aman serta bermakna. Ia mengingatkan bahwa teknologi digital adalah alat, bukan tujuan. “Era digital ini kita harus meletakkan digital itu sebagai alat. Jadi jangan ada dulu alat digital baru kita mencari tujuan pembelajaran, tidak boleh,” tegasnya. Prof Andis juga menyoroti kebutuhan global akan 44 juta guru hingga tahun 2030, menekankan pentingnya menyiapkan calon guru yang profesional, beretika, dan bijak menggunakan teknologi. “Guru sejati bukan yang paling cepat memakai teknologi, tetapi yang paling bijak memakai teknologi untuk memanusiakan, mengingatkan, dan memuliakan,” pungkasnya.
Prof. Madya Dr. Norazilawati binti Abdullah dari UPSI Malaysia membahas transformasi kurikulum, pedagogi, sains, teknologi, dan asesmen. Ia menjelaskan bahwa perubahan pendidikan harus utuh dan tidak berhenti pada perubahan kosmetik. Menurutnya, kurikulum, konten, pedagogi, teknologi, asesmen, dan kebutuhan sosial peserta didik harus saling terhubung agar pembelajaran bermakna. “Setiap kali kita mengajar, benda pertama adalah dari segi objektif yang ingin dicapai. Yang lain itu, contohnya pedagogi, ialah metode ataupun keadaan penyampaian,” ujarnya. Norazilawati menekankan pentingnya pembelajaran sains berbasis inkuiri dan tanggung jawab semua guru dalam menanamkan nilai-nilai baik, bukan hanya guru agama atau moral. Pada aspek asesmen, ia menjelaskan praktik penilaian berbasis sekolah di Malaysia yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Selanjutnya, Prof. Madya Dr. Siti Rahaimah binti Ali dari UPSI Malaysia membawakan perspektif pendidikan matematika dan numerasi. Ia menyoroti anggapan bahwa matematika sulit dan menakutkan, sehingga perlu dikurangi melalui pembelajaran yang menyenangkan dan mengenalkan numerasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. “Matematika ini kita kurangkan jarak takut dan seram itu dengan menghasilkan sesuatu yang lebih fun, lebih seronok, dan lebih meresap ke jiwa pelajar,” katanya. Siti Rahaimah memaparkan model pembelajaran numerasi bertahap dan pengembangan media pembelajaran berbasis gim melalui telepon genggam. Ia juga membuka peluang kegiatan lanjutan bersama Unismuh Makassar, seperti program pengabdian masyarakat untuk anak-anak di pinggiran Kota Makassar yang kurang berminat pada matematika.
Prof. Madya Dr. Norwaliza binti Abdul Wahab dari UPSI Malaysia menyoroti integrasi sains, teknologi, sosial, dan kemanusiaan dalam pendidikan masa depan. Ia menekankan bahwa keempat unsur ini tidak boleh dipisahkan karena pendidikan abad ke-21 harus menyiapkan peserta didik untuk hidup dalam masyarakat yang kompleks. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan peserta didik yang cakap teknologi, tetapi kehilangan empati. “Walaupun kita menggunakan teknologi, jangan lupa diinfuskan nilai dalam setiap pengajaran, walaupun menggunakan artificial intelligence,” tegasnya. Norwaliza menjelaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat membantu, tetapi tidak memiliki dimensi kemanusiaan, sehingga guru dan dosen harus menanamkan etika dan tanggung jawab. Mengenai penggunaan AI dalam tugas mahasiswa, ia menyatakan bahwa AI boleh digunakan sebagai panduan, tetapi tidak etis jika menyerahkan sepenuhnya hasil kerja AI tanpa pemahaman dan pertanggungjawaban. “Kalau mau pakai AI boleh, tapi beretika. Maksudnya kita minta AI itu untuk bagi kita bimbingan, guidance, tetapi bukannya 100 persen tugas menggunakan AI,” jelasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya mempertimbangkan latar belakang sosial ekonomi peserta didik dan menilai proses, usaha, serta kemampuan menjelaskan gagasan, bukan hanya produk akhir. Budaya lokal juga ditekankan sebagai bagian penting dari identitas pendidikan.
Dalam sesi tanya jawab, Syamsul Bakri, dosen Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Unismuh, bertanya tentang cara mengubah pola pikir mahasiswa agar tidak hanya sekadar lulus. Menanggapi hal ini, Norwaliza menyarankan dosen untuk memahami latar belakang mahasiswa dan merancang tugas secara bertahap dengan pendekatan scaffolding, membangun fondasi yang kuat. “Kita bina bangunan, kalau asasnya lemah, dia akan runtuh,” ujarnya.
Dr. Salwa, selaku moderator, menyimpulkan bahwa teknologi dan AI memang menghadirkan banyak kemudahan, namun tidak dapat menggantikan sosok guru atau dosen yang mampu memanusiakan, mengingatkan, dan memuliakan peserta didik. Guru tidak boleh hanya menjadi penyampai materi, tetapi harus memberi dampak bagi siswa.
Kegiatan ini menandai penguatan kerja sama akademik antara Unismuh Makassar dan UPSI Malaysia. Melalui seminar ini, kedua perguruan tinggi diharapkan dapat memperluas kolaborasi dalam pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan kurikulum, pertukaran mahasiswa, dan inovasi pembelajaran berbasis nilai kemanusiaan.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





