SWSC Unismuh Olah 500 Kilogram Bahan Organik untuk Produksi Kompos

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MAKASSAR - Sustainable Waste Solutions Center (SWSC) Universitas Muhammadiyah Makassar telah memproses sekitar 500 kilogram bahan organik untuk produksi kompos hingga Kamis, 10 September 2026. Pengolahan ini menggunakan daun serasah dari lingkungan kampus, dengan target produksi satu ton kompos.
Jumlah setengah ton yang dilaporkan merupakan bahan yang telah diproses. Adapun target satu ton kompos dan penggunaannya untuk taman, ruang terbuka hijau, serta kebutuhan pertanian kampus masih menjadi tahap lanjutan program. Pengolahan serasah tersebut merupakan bagian dari penerapan Green Campus di Unismuh.
Daun kering dikumpulkan dari beberapa area kampus, kemudian dipilah dan dicacah agar lebih mudah terurai. Pada tahap pengolahan, tim mencampurkan bahan tersebut dengan kotoran kambing, EM4, dan molase untuk membantu proses penguraian sebelum menjadi kompos.
Kepala SWSC Unismuh Makassar, Dr. Fatmawati A. Mappasere, M.Si., menjelaskan bahwa pengolahan serasah ditujukan untuk mengurangi sampah organik yang dibuang keluar kampus. Menurutnya, bahan yang selama ini dianggap limbah masih dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan lingkungan kampus.
“Pengolahan daun serasah menjadi kompos merupakan bentuk nyata pemanfaatan kembali limbah organik. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat untuk mendukung penghijauan dan kebutuhan pertanian kampus,” ujar Fatmawati.
Pelaksanaan produksi melibatkan Ketua Divisi Operasional dan Tata Kelola Limbah SWSC, Sahlan, S.P., M.Si. Ia memastikan tahapan pengumpulan, pencacahan, pencampuran, dan fermentasi berjalan. Ketua Divisi Edukasi dan Advokasi SWSC, Wardah, S.Sos., M.A., mendampingi edukasi pemilahan agar sampah organik tidak bercampur dengan bahan lain sejak dari sumbernya.
Tim juga memperoleh pendampingan teknis dari ahli kompos SWSC, Prof. Dr. Hj. Syamsiah, S.P., M.Si. Pendampingan mencakup formulasi campuran, pengaturan kelembapan, fermentasi, dan pengendalian kualitas. Kondisi bahan selama penguraian menjadi perhatian agar kompos yang dihasilkan dapat digunakan sesuai kebutuhan.
“Kompos yang baik membutuhkan keseimbangan bahan dan kondisi lingkungan selama proses penguraian. Karena itu, formulasi bahan, kelembapan, dan proses fermentasi perlu dikendalikan agar hasilnya optimal,” kata Syamsiah.
SWSC merencanakan pemanfaatan kompos untuk merawat taman dan ruang terbuka hijau serta mendukung program lingkungan dan pertanian kampus. Melalui pengolahan tersebut, serasah dari pepohonan kampus diarahkan kembali menjadi bahan untuk perawatan tanah. Pemilahan dan pengolahan di lingkungan Unismuh menjadi bagian dari upaya mengurangi bahan organik yang harus dibawa ke tempat pembuangan akhir.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





