Sumur Bor Pertanian di Belawa Wajo Perkuat Lahan Petani dan Kolaborasi Muhammadiyah

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - WAJO, 28 Juli 2026 - Lazismu Sulawesi Selatan bersama Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Jamaah Tani Muhammadiyah Sulsel meresmikan pemanfaatan sumur bor pertanian di Lingkungan Salompare, Kelurahan Belawa, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo. Program ini diarahkan untuk menjawab persoalan kekeringan yang selama ini membatasi pemanfaatan lahan pertanian saat kemarau.
Peresmian tersebut tidak berdiri sendiri. Pada hari yang sama, tim juga melakukan penanaman jagung dan menyerahkan bibit cabai kepada petani setempat. Rangkaian kegiatan itu menunjukkan bahwa penyediaan air diposisikan sebagai pintu masuk bagi skema pemberdayaan pertanian yang lebih utuh, bukan sekadar proyek infrastruktur sesaat.
Ketua Lazismu Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Mahmudin, menjelaskan bahwa pembangunan sumur bor lahir dari kebutuhan riil petani di Belawa. Menurutnya, hamparan sawah di kawasan itu kerap kesulitan air saat musim kemarau, sehingga petani tidak leluasa menanam secara berkelanjutan. Karena itu, Lazismu ingin menghadirkan solusi yang langsung menyentuh inti persoalan produksi.
Mahmudin menegaskan bahwa program ini dimaksudkan sebagai stimulan awal sekaligus ajakan terbuka kepada pemerintah dan pihak lain agar memperluas dukungan serupa di kawasan pertanian. Lazismu, katanya, tidak ingin berhenti pada satu titik sumur bor, melainkan mendorong lahirnya jaringan dukungan yang dapat memperbesar akses air bagi lahan-lahan produktif lain di Wajo.
Ketua MPM PWM Sulsel, Prof. Dr. Rasyid Masri, menempatkan kolaborasi ini sebagai bagian dari agenda pemberdayaan masyarakat yang selama ini dijalankan Muhammadiyah. Baginya, sektor pertanian perlu diperlakukan sebagai ruang penguatan ekonomi warga. Karena itu, sinergi antara MPM, Lazismu, Jatam, dan unsur pemerintah menjadi penting agar manfaat program tidak berhenti pada seremoni peluncuran.
Ia juga menilai kondisi Belawa menuntut intervensi yang serius karena wilayah itu menghadapi dua tekanan sekaligus: banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau. Dalam situasi seperti itu, keberadaan sumur bor dianggap sebagai kebutuhan mendesak untuk menjaga agar lahan tetap bisa diolah dan tidak terus kehilangan produktivitas pada musim kering.
Pemerintah Kecamatan Belawa melalui Sekretaris Camat Andi Muhadrah AS menyampaikan apresiasi atas keterlibatan Muhammadiyah dalam membantu petani. Menurutnya, masyarakat selama ini sangat bergantung pada musim, sehingga sumber air tambahan seperti sumur bor dapat membuka peluang baru bagi petani untuk menggarap lahan secara lebih stabil sepanjang tahun.
Rangkaian kegiatan ini juga dihadiri Sekretaris PDM Wajo Hasby Abbas, Direktur Lazismu Wajo Sulaiman Nyampa, Manajer Lazismu Sulsel Ahmad Hunain, serta puluhan petani penerima manfaat. Kehadiran unsur Persyarikatan dari tingkat wilayah hingga daerah memperlihatkan bahwa program pertanian di Belawa dibangun melalui kerja bersama, bukan gerak satu lembaga saja.
Bagi Muhammadiyah Sulsel, sumur bor di Belawa bukan hanya sarana teknis untuk mengalirkan air. Program ini menjadi contoh bagaimana wakaf produktif, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi petani dapat dirangkai dalam satu agenda kerja yang berkelanjutan. Jika pengembangannya konsisten, model ini berpotensi direplikasi di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





