Riset FEB Unismuh di Tokyo Soroti Digitalisasi Keuangan Masjid

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - TOKYO, 29 Juli 2026 - Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar, Agusdiwana Suarni, S.E., M.Acc., mempresentasikan riset tentang tata kelola dan digitalisasi keuangan masjid Muhammadiyah dalam konferensi internasional di Tokyo, Jepang. Forum ini menjadi ruang bagi Unismuh Makassar untuk membawa pengalaman Persyarikatan ke diskusi global mengenai kelembagaan masjid di era digital.
Presentasi tersebut berlangsung dalam International Conference Malaysia-Japan Islam and Diversity: Masjids 3.0 2026 yang mengangkat subtema "Wisdom for Overcoming Social Divisions". Konferensi diselenggarakan oleh Sophia University bekerja sama dengan Universiti Sains Islam Malaysia, Universiti Kebangsaan Malaysia, dan Universiti Sultan Zainal Abidin.
Forum itu mempertemukan peneliti dan akademisi dari sejumlah negara untuk membahas peran masjid dalam masyarakat modern. Dalam pembahasan itu, masjid tidak lagi dilihat hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat literasi, layanan sosial, penguatan kelembagaan, dan perekat kehidupan masyarakat yang beragam.
Agusdiwana memaparkan makalah berjudul "Bridging Ideology and Accountability: Institutional Logics, Digitalisation, and Financial Governance in Muhammadiyah Mosques in Sulawesi, Indonesia". Penelitian tersebut ia kerjakan bersama Mawardi Pewangi, Wakil Rektor III Unismuh Makassar Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan.
Riset itu menelaah bagaimana masjid-masjid Muhammadiyah di Sulawesi mempertemukan dua tuntutan yang sama-sama penting. Di satu sisi, pengelolaan masjid harus tetap berpijak pada ideologi Muhammadiyah dan prinsip-prinsip syariah. Di sisi lain, pengurus masjid dituntut menjalankan sistem keuangan yang transparan, tertib, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada jamaah.
Menurut Agusdiwana, logika kelembagaan memiliki pengaruh besar terhadap cara pengurus mengelola dana umat dan menyusun laporan keuangan. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital dapat membantu memperkuat transparansi, meningkatkan efisiensi kerja, dan menumbuhkan kepercayaan jamaah terhadap pengelolaan masjid.
Dalam paparannya, ia menekankan bahwa gagasan Masjid 3.0 tidak semata-mata bicara soal bangunan atau perangkat digital. Konsep itu mencakup ekosistem kelembagaan yang menautkan teknologi, sistem pelaporan, pengawasan, dan penguatan nilai ideologis agar pengelolaan masjid tetap amanah di tengah perubahan zaman.
Agusdiwana juga memperkenalkan nilai-nilai dasar Muhammadiyah kepada peserta konferensi, terutama mengenai amanah, profesionalitas, pelayanan sosial, dan keteraturan organisasi. Nilai-nilai tersebut ia posisikan sebagai fondasi penting ketika masjid ingin bergerak ke sistem pengelolaan yang lebih modern tanpa kehilangan arah gerak keislaman dan kemasyarakatan.
Ia menilai digitalisasi tidak boleh dipahami secara sempit sebagai penggunaan aplikasi belaka. Transformasi digital, kata dia, harus dibarengi peningkatan kapasitas pengurus, pembenahan standar pelaporan, penguatan pengawasan, dan pemahaman yang baik terhadap tujuan pengelolaan dana umat.
Jika sistem seperti itu berjalan, jamaah akan lebih mudah mengakses informasi tentang sumber penerimaan, penggunaan dana, agenda sosial, dan perkembangan kegiatan masjid. Keterbukaan ini dinilai penting untuk menjaga partisipasi jamaah dan menguatkan kepercayaan publik terhadap institusi masjid.
Kehadiran perwakilan Unismuh Makassar di forum tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah mampu menyumbang perspektif yang relevan dalam percakapan internasional tentang Islam, keberagaman, dan tata kelola kelembagaan. Selain itu, konferensi tersebut membuka peluang bagi penguatan jejaring penelitian dan pertukaran praktik baik antarakademisi maupun pengelola lembaga keagamaan.
Bagi Unismuh Makassar, partisipasi ini mempertegas bahwa riset kampus dapat berkontribusi langsung pada isu-isu praktis yang dihadapi umat. Pengelolaan keuangan masjid yang akuntabel dan adaptif terhadap teknologi diharapkan menjadi salah satu jalan untuk memperkuat peran masjid sebagai pusat pemberdayaan masyarakat.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





