Profesionalisme Muslim Berawal dari Ihsan dan Itqan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ikhwan Ahada, mengajak umat Islam menjadikan nilai ihsan dan itqan sebagai fondasi utama dalam membangun profesionalisme serta mengembalikan kejayaan peradaban Islam.
Pesan tersebut disampaikannya dalam Khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (26/6).
Menurut Ikhwan, ketakwaan tidak cukup dipahami sebatas menjalankan kewajiban agama, tetapi harus diwujudkan melalui kesungguhan mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menjauhi segala larangan-Nya. Ia mengutip penjelasan Ibrahim Assawi dalam kitab Minhaj Assawi yang menguraikan empat indikator ketakwaan berdasarkan perkataan Sayidina Ali bin Abi Thalib.
“Takwa adalah takut kepada Allah Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu yang diturunkan, mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat, dan bersikap qanaah terhadap kehidupan dunia,” ujarnya.
Empat indikator tersebut, lanjut Ikhwan, menggambarkan karakter seorang mukmin yang senantiasa menempatkan syariat Allah sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Rasa takut kepada Allah mendorong seseorang untuk berhati-hati dalam setiap ucapan maupun perbuatannya agar selalu sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunah.
Selain itu, orang bertakwa memiliki orientasi hidup yang tidak berhenti pada kehidupan dunia. Ia menyadari bahwa kehidupan yang hakiki adalah kehidupan setelah kematian sehingga seluruh amal yang dilakukan diarahkan sebagai bekal menuju akhirat.
“Orang bertakwa juga memiliki sikap transendental. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur. Ketika mendapat musibah, ia bersabar. Semua dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” jelasnya.
Ikhwan kemudian menegaskan bahwa ketakwaan harus melahirkan perilaku ihsan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Qashash ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
Terjemahan: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash: 77)
Menurutnya, ihsan sering dimaknai sebagai berbuat baik. Namun hakikat ihsan jauh lebih luas daripada itu. Ihsan berarti melakukan sesuatu melebihi standar atau ekspektasi yang lazim.
“Allah memberikan nikmat kepada kita jauh melampaui apa yang kita harapkan. Maka sebagai hamba, kita juga dituntut menghadirkan ihsan dalam setiap amal yang kita lakukan,” katanya.
Selain ihsan, Al-Qur’an juga mengajarkan konsep itqan, yakni bekerja secara sungguh-sungguh, teliti, dan menghasilkan karya yang sempurna. Hal itu sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Naml ayat 88:
صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ
Terjemahan: “Itulah ciptaan Allah yang menyempurnakan segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml: 88)
Ikhwan menjelaskan, kesempurnaan ciptaan Allah menjadi teladan bagi manusia agar melaksanakan setiap pekerjaan secara optimal, efektif, dan penuh tanggung jawab.
Prinsip tersebut, lanjutnya, juga ditegaskan oleh Rasulullah Saw melalui hadis riwayat Imam Muslim:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
Terjemahan: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan terhadap segala sesuatu.” (HR. Muslim No. 1955)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa ihsan bukan hanya berlaku dalam ibadah, melainkan juga dalam seluruh aktivitas kehidupan, termasuk hubungan sosial, pekerjaan, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Lebih lanjut, Ikhwan juga mengutip hadis yang diriwayatkan Imam al-Baihaqi:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
Terjemahan: “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia mengerjakannya secara itqan (sempurna).” (HR. Al-Baihaqi)
Menurutnya, itqan berarti menyelesaikan pekerjaan secara efektif, efisien, cermat, dan menghasilkan kualitas terbaik. Sementara ihsan merupakan semangat memberikan nilai lebih dalam setiap amal yang dilakukan. Perpaduan kedua nilai tersebut akan melahirkan pribadi Muslim yang profesional.
“Ihsan dan itqan merupakan konsep dasar dalam Islam untuk menjalankan setiap profesi. Apa pun pekerjaan kita, jika dilakukan dengan ihsan dan itqan, maka akan melahirkan profesionalisme yang menopang keberhasilan hidup di dunia sekaligus menjadi bekal di akhirat,” ujarnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





