Prof. Muhadjir Effendy Dorong Unismuh Makassar Jadi Pusat Dakwah Inklusif di Indonesia Timur

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, 16 Juli 2026 - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Muhadjir Effendy, menegaskan kembali peran krusial Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) sebagai garda depan dakwah yang inklusif dan transformatif. Ia menekankan bahwa PTMA harus menjadi ruang terbuka yang mampu membawa perubahan positif bagi kehidupan masyarakat. Pesan ini disampaikan Prof. Muhadjir dalam sebuah kuliah tamu dan silaturahim bersama jajaran pimpinan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.
Acara penting tersebut berlangsung di Ruang Rapat Senat, Lantai 17 Gedung Iqra Unismuh Makassar. Hadir dalam pertemuan itu Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU., beserta jajaran Badan Pembina Harian, para wakil rektor, direktur, dekan, ketua lembaga, kepala pusat, dan ketua program studi.
Prof. Muhadjir menggarisbawahi bahwa Muhammadiyah tidak seharusnya membangun batasan yang menyulitkan masyarakat untuk bergabung dan menjadi bagian dari gerakan. Sebaliknya, kampus Muhammadiyah wajib hadir sebagai pusat pendidikan, pembinaan, dan transformasi sosial-keagamaan. "Muhammadiyah harus lebih inklusif. Jangan segera membuat barikade karena banyak orang menjalani proses bermuhammadiyah dalam perjalanan yang panjang," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa PTMA bukan sekadar tempat berkumpulnya individu yang sejak awal telah memahami dan mengamalkan tradisi Muhammadiyah. Kampus, menurutnya, harus membuka diri bagi masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Melalui proses pendidikan, interaksi akademik, keteladanan, dan pembinaan, mahasiswa maupun tenaga pendidik dapat secara bertahap mengenal nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah.
Mengambil contoh dari pengalamannya memimpin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Muhadjir menceritakan bagaimana UMM menerima mahasiswa dari berbagai daerah, agama, tradisi, dan kondisi sosial. Keterbukaan ini, lanjutnya, tidak berarti Muhammadiyah kehilangan identitas, melainkan justru memperluas jangkauan dakwah. Ia mencontohkan kebijakan kampus yang tidak langsung memaksakan standar ideal tertentu kepada mahasiswa baru, melainkan mendorong perubahan melalui proses pendidikan dan pembiasaan. "Perguruan tinggi Muhammadiyah adalah sarana dakwah. Jangan sampai kita terlalu keras menetapkan standar sehingga orang lain tidak bisa masuk ke dalamnya," pesannya.
Menurut Prof. Muhadjir, efektivitas dakwah tidak semata diukur dari keseragaman individu yang masuk ke institusi Muhammadiyah, tetapi dari perubahan positif yang terjadi setelah mereka melalui proses pendidikan. Kampus Muhammadiyah, imbuhnya, harus menciptakan suasana yang membuat masyarakat merasa diterima, dihargai, dan memperoleh kesempatan untuk berkembang.
Dalam kesempatan itu, Prof. Muhadjir juga mengingatkan agar warga Muhammadiyah tidak terlalu mempertajam persoalan keagamaan yang bersifat cabang atau furuk. Perbedaan semacam itu, kata dia, tidak seharusnya menjadi penghalang bagi Muhammadiyah untuk berinteraksi dengan masyarakat luas. "Hal-hal yang furuk jangan dipertajam. Kalau semakin dipertajam, gerakan kita akan semakin sempit," tegasnya.
Ia menegaskan bahwa identitas memang penting, namun tidak perlu ditampilkan secara kontras hingga menciptakan eksklusivitas. Gerakan yang terlalu eksklusif akan kesulitan berkembang dan menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas. Padahal, cita-cita Muhammadiyah adalah menghadirkan nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya melayani kelompok internal. Sebagai ilustrasi, ia menyebut layanan rumah sakit Muhammadiyah yang melayani pasien berdasarkan kebutuhan kemanusiaan tanpa memandang latar belakang organisasi atau mazhab. Semangat serupa, menurutnya, harus diterapkan dalam lembaga pendidikan. "Muhammadiyah jangan dibawa melewati jalan yang sempit. Banyak jalan untuk meraih dan mengajak masyarakat," ujarnya.
Prof. Muhadjir membagikan beberapa kisah tentang individu yang mengalami perubahan positif setelah berinteraksi dengan lingkungan pendidikan Muhammadiyah. Ia menyoroti bahwa pendekatan dakwah semacam itu terkadang belum sepenuhnya dipahami, di mana sebagian pihak menginginkan seseorang memenuhi standar ideal tertentu sebelum diberi ruang dalam institusi Muhammadiyah. Padahal, perubahan seringkali terjadi setelah seseorang diterima dan terlibat. "Semua berproses. Jangan segera menetapkan ukuran-ukuran ideal sebagai syarat awal bagi setiap orang," kata mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu. Ia juga meminta agar proses menjadi bagian dari Muhammadiyah tidak dibuat terlalu rumit, sehingga tidak menghilangkan semangat untuk merangkul dan memperluas manfaat gerakan.
Kekuatan Muhammadiyah selama ini, lanjutnya, tumbuh melalui pelayanan nyata di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat mengenal Muhammadiyah bukan hanya dari ceramah, tetapi dari amal usaha seperti sekolah, universitas, rumah sakit, dan panti asuhan yang manfaatnya mereka rasakan langsung. Oleh karena itu, kualitas pelayanan menjadi bagian integral dari dakwah Muhammadiyah.
Mengenai Unismuh Makassar, Prof. Muhadjir menyampaikan apresiasinya terhadap perkembangan kampus tersebut. Ia mengaku telah mengikuti perjalanan Unismuh sejak lama, termasuk kedekatannya dengan almarhum mantan Rektor Unismuh, KH Jamaluddin Amien. Menurutnya, Unismuh adalah salah satu tonggak penting dalam perkembangan perguruan tinggi Muhammadiyah di Indonesia. Posisi ini membawa tanggung jawab besar, terutama setelah Unismuh diamanahi untuk membina PTMA di kawasan Indonesia Timur. "Unismuh jangan hanya membesarkan diri sendiri, tetapi juga harus ikut membesarkan perguruan tinggi Muhammadiyah yang lain," pesannya. Ia berharap Unismuh menjadi pusat pertumbuhan, pembinaan sumber daya manusia, kerja sama, dan inovasi bagi PTMA di wilayah timur Indonesia, dengan kemajuan yang memberikan efek pengganda bagi kampus Muhammadiyah lain yang masih terbatas.
Rektor Unismuh Makassar, Abd. Rakhim Nanda, menyatakan bahwa kehadiran Prof. Muhadjir memberikan penguatan moral dan kelembagaan bagi jajaran pimpinan universitas. Menurut Rektor, Unismuh membutuhkan arahan dari pimpinan Muhammadiyah agar perkembangan fisik, akademik, dan reputasi global kampus tetap sejalan dengan misi dakwah persyarikatan. Unismuh saat ini terus berupaya membangun kepercayaan masyarakat melalui peningkatan mutu akademik, pengembangan sumber daya manusia, penguatan layanan mahasiswa, pemeringkatan internasional, serta pembinaan PTMA di Indonesia Timur. Pesan mengenai keterbukaan tersebut, kata Rektor, menjadi pengingat agar pertumbuhan institusi tidak menjauhkan Unismuh dari fungsi utamanya sebagai amal usaha pendidikan dan sarana dakwah Muhammadiyah.
Kuliah tamu diakhiri dengan ajakan Prof. Muhadjir agar pimpinan Unismuh memiliki tekad kuat dalam mengembangkan kampus. Setelah ikhtiar dan keputusan diambil, seluruh proses harus disertai tanggung jawab dan tawakal kepada Allah. "Kalau kita sudah berazam, kita tinggal bertawakal kepada Allah. Mudah-mudahan niat baik kita dikabulkan," tutup Prof. Muhadjir.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





