PHIWM: Panduan Holistik Wujudkan Kehidupan Islami di Muhammadiyah

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 2 Juli 2023 - Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, menyerukan kepada seluruh warga Persyarikatan untuk menjadikan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) sebagai rujukan utama dalam menata kehidupan sehari-hari. Seruan ini disampaikan Talqis dalam sebuah pengajian perdana yang mengulas PHIWM secara bertahap, bertempat di Masjid KH Sudja, Yogyakarta.
Talqis menjelaskan bahwa PHIWM dirancang untuk mempermudah umat Islam dalam mengimplementasikan ajaran Al-Qur'an dan Sunah secara sistematis di berbagai dimensi kehidupan. Ia menegaskan, pedoman ini bukanlah sumber ajaran baru yang berupaya menggantikan Al-Qur'an atau Sunah, melainkan sebuah penjabaran tematik dari nilai-nilai fundamental yang telah dirumuskan dalam pemikiran resmi Muhammadiyah, seperti Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Matan Kepribadian Muhammadiyah, serta Khittah Perjuangan Muhammadiyah.
“PHIWM memudahkan kita mengimplementasikan ajaran Al-Qur’an dan hadis karena disusun secara tematik. Jadi, bukan menggantikan Al-Qur’an dan Sunah, tetapi menjadi panduan praktis dalam berperilaku sebagai warga Muhammadiyah,” ujar Talqis.
Pedoman ini, yang lahir dari amanat Tanwir Muhammadiyah di Jakarta pada tahun 1992, menurut Talqis, tetap relevan menghadapi dinamika zaman. Prinsip-prinsipnya yang kokoh berpijak pada Al-Qur'an dan hadis menjamin keberlanjutannya. “Generasi boleh berganti, mulai dari milenial, Gen Z hingga generasi Alpha, tetapi selama acuannya Al-Qur’an dan Sunah, pedoman ini tetap relevan digunakan,” tambahnya. Jika di kemudian hari ditemukan pemahaman dalam PHIWM yang dianggap perlu dikoreksi, warga Muhammadiyah diimbau untuk mengedepankan tabayun dan dialog ilmiah, bukan menyebarkan penilaian sepihak melalui media sosial, mengingat dokumen ini adalah karya manusia yang tak luput dari kekeliruan.
PHIWM mencakup spektrum luas kehidupan warga Muhammadiyah, mulai dari ranah pribadi, keluarga, bermasyarakat, berorganisasi, pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah, berbisnis, berprofesi, berbangsa dan bernegara, hingga menjaga kelestarian lingkungan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menyikapi seni dan budaya. Kehadiran pedoman ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga memberikan arah yang komprehensif dalam kehidupan sosial dan profesional.
Dalam kajiannya, Talqis juga menguraikan tahapan pembentukan kepribadian seorang muslim menurut PHIWM, yaitu menjadi muslim, mukmin, muhsin, hingga muttaqin. Seseorang memulai keislamannya dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat, yang harus diwujudkan dalam perilaku nyata. Pengakuan keesaan Allah menuntut pembebasan diri dari segala bentuk pengkultusan selain-Nya, sementara persaksian atas kenabian Muhammad SAW berarti mencintai dan mengikuti sunahnya. Talqis mengingatkan agar tidak meremehkan atau membenci sunah Nabi, serta menekankan pentingnya ilmu sebagai fondasi keislaman yang kokoh.
Derajat mukmin dicapai oleh mereka yang menyambut setiap perintah Allah dengan sikap sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat), tanpa banyak syarat. Sementara itu, muhsin adalah individu yang beribadah semata-mata karena Allah, tanpa terpengaruh penilaian manusia. “Kalau masih melakukan kebaikan karena ingin dilihat orang atau meninggalkan maksiat hanya karena takut diketahui orang lain, berarti belum sampai pada derajat ihsan,” tegasnya. Adapun muttaqin adalah pribadi yang senantiasa merasa diawasi Allah, bersungguh-sungguh menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, serta terus-menerus melakukan muhasabah terhadap amalnya.
Talqis kemudian mengulas empat pilar kehidupan pribadi yang menjadi fondasi dalam PHIWM: akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiyah. Dalam aspek akidah, setiap warga Muhammadiyah wajib membangun kehidupan di atas tauhid yang murni, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Ikhlas. Kemurnian tauhid ini harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, dengan menjauhi praktik tahayul, bidah dalam ibadah mahdhah, khurafat, serta kepercayaan pada perhitungan mistis seperti weton atau angka keberuntungan/kesialan. Kebahagiaan atau musibah, menurutnya, sepenuhnya adalah ketentuan Allah. “Orang Muhammadiyah percaya adanya jin karena memang disebutkan dalam Al-Qur’an. Tetapi kita tidak boleh mengaitkan nasib baik atau buruk kepada pohon, angka, atau hitungan-hitungan tertentu,” jelasnya.
Pada aspek akhlak, warga Muhammadiyah diajak meneladani Rasulullah SAW dengan menginternalisasi sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Kejujuran menjadi modal utama, baik dalam interaksi sosial maupun dunia usaha. Keikhlasan dalam beramal juga ditekankan, agar perbuatan baik tidak dipengaruhi pujian atau celaan manusia. Selain itu, Talqis mengingatkan untuk menjauhi kesombongan, riya, sikap meremehkan orang lain, pergaulan bebas, perilaku konsumtif, serta korupsi, kolusi, dan berbagai penyimpangan lainnya.
Dalam bidang ibadah, Talqis menekankan pentingnya membersihkan jiwa melalui taubat, istigfar, dan tazkiyatun nafs. Ia mengingatkan umat Islam untuk mendahulukan ibadah wajib sebelum memperbanyak ibadah sunah. “Jangan sampai rajin salat malam tetapi justru meninggalkan salat Subuh. Yang wajib harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Terakhir, dalam aspek muamalah duniawiyah, Talqis menjelaskan bahwa setiap muslim memiliki tanggung jawab ganda sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Oleh karena itu, segala aktivitas ekonomi, pekerjaan, dan pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan secara amanah dan tidak merusak lingkungan. Ia juga menekankan pentingnya mengembangkan cara berpikir bayani, burhani, dan irfani-pendekatan yang memadukan pemahaman dalil Al-Qur'an dan Sunah, pertimbangan akal dan fakta, serta kepekaan hati-guna menghasilkan keputusan yang bijaksana.
Mengakhiri kajiannya, Talqis berharap pembahasan PHIWM ini dapat memperkuat warga Muhammadiyah dalam mengamalkan ajaran Islam secara konsisten, sekaligus menjadi sarana pengenalan bagi masyarakat luas yang ingin memahami karakter dan pandangan hidup Muhammadiyah. “Empat aspek inilah yang menjadi fondasi kehidupan pribadi warga Muhammadiyah, yaitu akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiyah. Mudah-mudahan menjadi pencerahan bagi kita semua dalam mengimplementasikan Islam di kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





