Penjelasan Dalil Ketiadaan Tasyahud Awal pada Salat Tarawih Empat Rakaat

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, Muhammadiyah senantiasa menjunjung tinggi prinsip tanawwu' atau keragaman dalam pelaksanaan ibadah, sepanjang hal tersebut bersandar pada hadis Nabi Muhammad SAW yang sahih dan relevan. Dalam konteks salat tarawih, formasi 4-4-3 rakaat telah menjadi ciri khas yang sering diterapkan di masjid-masjid Persyarikatan. Namun, praktik ini kerap memicu pertanyaan dan bahkan kritik di tengah masyarakat, khususnya terkait ketiadaan tasyahud awal dalam salat tarawih empat rakaat, yang dianggap sebagian pihak sebagai ibadah tanpa dasar dalil yang kuat.
Tasyahud Awal dalam Salat Tarawih 4 Rakaat, Adakah Dalilnya?
Perdebatan mengenai penggunaan tasyahud awal pada salat tarawih 4-4-3 rakaat sejatinya berakar dari penafsiran hadis yang diriwayatkan oleh โAisyah Radhiyallahu โanha. Hadis tersebut berbunyi:
ุนููู ุนูุงุฆูุดูุฉู ููุงููุชู: ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููููู - ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
- ููุณูุชูููุชูุญู ุงูุตูููุงูุฉู ุจูุงูุชููููุจููุฑู ููุงููููุฑูุงุกูุฉู ุจู ( ุงููุญูู
ูุฏู ููููููู ุฑูุจูู ุงููุนูุงููู
ูููู) ููููุงูู ุฅูุฐูุง ุฑูููุนู ููู
ู ููุดูุฎูุตู ุฑูุฃูุณููู ููููู
ู ููุตููููุจููู ูููููููู ุจููููู ุฐููููู ููููุงูู ุฅูุฐูุง ุฑูููุนู ุฑูุฃูุณููู ู
ููู ุงูุฑูููููุนู ููู
ู ููุณูุฌูุฏู ุญูุชููู ููุณูุชููููู ููุงุฆูู
ูุง ููููุงูู ุฅูุฐูุง ุฑูููุนู ุฑูุฃูุณููู ู
ููู ุงูุณููุฌูุฏูุฉู ููู
ู ููุณูุฌูุฏู ุญูุชููู ููุณูุชููููู ุฌูุงููุณูุง ููููุงูู ููููููู ููู ููููู ุฑูููุนูุชููููู ุงูุชููุญููููุฉู ููููุงูู ููููุฑูุดู ุฑูุฌููููู ุงููููุณูุฑูู ููููููุตูุจู ุฑูุฌููููู ุงููููู
ูููู ููููุงูู ููููููู ุนููู ุนูููุจูุฉู ุงูุดููููุทูุงูู ููููููููู ุฃููู ููููุชูุฑูุดู ุงูุฑููุฌููู ุฐูุฑูุงุนููููู ุงููุชูุฑูุงุดู ุงูุณููุจูุนู ููููุงูู ููุฎูุชูู
ู ุงูุตูููุงูุฉู ุจูุงูุชููุณููููู
ู
Terjemahan: "Dari Aisyah ia berkata: adalah Rasulullah saw memulai salatnya dengan takbir dan membaca alhamdulillahi rabbil โฤlamiin. Jika rukuk beliau tidak menaikkan kepala (terlalu tinggi) atau menurunkan kepala (terlalu rendah), tetapi pertengahan di antara itu. Jika mengangkat kepala dari rukuk, beliau tidak bersegera sujud sampai tegak berdiri. Jika mengangkat kepala dari sujud, beliau tidak bersujud sampai tegak dalam posisi duduk. Beliau membaca tahiyyat pada setiap dua rakaat. Beliau membentangkan kaki kiri dan menegakkan (telapak) kaki kanan. Beliau melarang dari duduknya Syaithan dan melarang seseorang menghamparkan tangannya (dalam sujud salat) seperti binatang buas menghamparkan tangannya. Beliau menutup salat dengan salam."
Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah menafsirkan bahwa setelah โAisyah menyebutkan โููููุงูู ููููููู ููู ููููู ุฑูููุนูุชููููู ุงูุชููุญููููุฉูโ (Beliau membaca tahiyyat pada setiap dua rakaat), beliau mengakhiri pernyataannya dengan โููููุงูู ููุฎูุชูู ู ุงูุตูููุงูุฉู ุจูุงูุชููุณููููู ูโ (Beliau menutup salat dengan salam). Dari rangkaian kalimat ini, dapat disimpulkan bahwa salat yang dimaksudkan oleh โAisyah adalah salat dua rakaat, bukan salat empat rakaat. Oleh karena itu, hadis ini lebih tepat dijadikan rujukan untuk ibadah salat dua rakaat.
Dengan demikian, Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara tegas menyatakan bahwa hadis โAisyah tersebut tidak dapat dijadikan landasan bagi praktik tasyahud awal dalam salat sunah tarawih 4-4-3 rakaat. Ini berbeda dengan salat sunah lain seperti salat lail 7 rakaat atau 9 rakaat yang diriwayatkan oleh โAisyah, atau salat sunah rawatib 4 rakaat sebelum ashar yang memiliki dalil khusus untuk tasyahud awalnya, sebagaimana diriwayatkan oleh โAแนฃim ibn แธamrah dari sahabat Ali ibn Abi แนฌalib. Ketiadaan dalil khusus untuk tasyahud awal dalam salat tarawih empat rakaat menunjukkan bahwa praktik tersebut tidak pernah ada tuntunannya.
Lantas, Bagaimana Dasar Dalil Salat Tarawih 4-4-3 Tanpa Tasyahud Awal?
Pada hakikatnya, salat tarawih memiliki tata cara pelaksanaan yang serupa dengan salat lail atau salat tahajud. Istilah โtarawihโ sendiri merupakan penamaan khusus untuk salat malam yang dikerjakan selama bulan suci Ramadan. Oleh karena itu, penetapan dasar hukum terkait tasyahud awal dalam salat tarawih formasi 4-4-3 rakaat dapat merujuk pada dalil-dalil salat lail.
Salah satu dalil yang relevan adalah hadis riwayat Abu Dawud berikut:
ุนููู ููุชูุงุฏูุฉู ููุงูู: ููุตููููู ุซูู
ูุงูู ุฑูููุนูุงุชู ูุงู ููุฌูููุณู ูููููููู ุฅููุงูู ุนูููุฏู ุงูุซููุงู
ูููุฉู ููููุฌูููุณู ููููุฐูููุฑู ุงูููููู ุนูุฒูู ููุฌูููู ุซูู
ูู ููุฏูุนูู ุซูู
ูู ููุณููููู
ู ุชูุณููููู
ูุง ููุณูู
ูุนูููุง ุซูู
ูู ููุตููููู ุฑูููุนูุชููููู ูููููู ุฌูุงููุณู ุจูุนูุฏู ู
ูุง ููุณููููู
ู ุซูู
ูู ููุตููููู ุฑูููุนูุฉู ููุชููููู ุฅูุญูุฏูู ุนูุดูุฑูุฉู ุฑูููุนูุฉู ููุง ุจูููููู ููููู
ููุง ุฃูุณูููู ุฑูุณูููู ุงูููููู - ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
- ููุฃูุฎูุฐู ุงููููุญูู
ู ุฃูููุชูุฑู ุจูุณูุจูุนู ููุตููููู ุฑูููุนูุชููููู ูููููู ุฌูุงููุณู ุจูุนูุฏู ู
ูุง ููุณููููู
ู
Terjemahan: "Dari Qatadah ia berkata: (Nabi Saw) salat delapan rakaat, beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang ke 8. Beliau duduk sambil zikir kepada Allah, kemudian berdoa, lalu salam, sehingga kami dapat mendengar salamnya itu. Kemudian beliau salat lagi dua rakaat sambil duduk lalu salam. Kemudian beliau salat satu rakaat. Maka jadilah ia 11 rakaat. Setelah Rasulullah berusia lanjut dan bertambah berat badannya, beliau kerjakan salat witir (lail dan witir) 7 rakaat. Kemudian melakukan salat 2 rakaat dengan cara duduk sesudah salam."
Hadis ini secara eksplisit menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan salat delapan rakaat tanpa duduk kecuali pada rakaat kedelapan atau terakhir. Ketiadaan duduk di antara rakaat-rakaat tersebut mengindikasikan bahwa Rasulullah tidak melakukan duduk tasyahud awal. Ini menjadi landasan bahwa salat tarawih yang berjumlah empat rakaat juga tidak mengenal praktik tasyahud awal.
Sebuah kaidah mantiq (logika) terkait salat tarawih delapan dan empat rakaat menyatakan bahwa jika tasyahud awal diterapkan pada salat empat rakaat, maka secara konsisten harus juga ada pada salat delapan rakaat. Mengingat tidak adanya tasyahud awal dalam salat tarawih delapan rakaat, maka praktik tersebut juga tidak diperlukan dalam salat tarawih empat rakaat.
Lebih jauh, jika diasumsikan salat tarawih empat rakaat menggunakan tasyahud awal, maka salat witir yang dikerjakan setelahnya, yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dari salat tarawih, semestinya juga menerapkan tasyahud awal. Namun, fakta menunjukkan sebaliknya, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Ubay bin Kaโab:
ุนููู ุฃูุจูููู ุจููู ููุนูุจู ููุงูู ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ููููุฑูุฃู ููู ุงููููุชูุฑู ุจูุณูุจููุญู ุงุณูู
ู ุฑูุจูููู ุงููุฃูุนูููู ููููู ุงูุฑููููุนูุฉู ุงูุซููุงููููุฉู ุจููููู ููุง ุฃููููููุง ุงููููุงููุฑูููู ููููู ุงูุซููุงููุซูุฉู ุจููููู ูููู ุงูููููู ุฃูุญูุฏู ููููุง ููุณููููู
ู ุฅููููุง ููู ุขุฎูุฑูููููู ููููููููู ููุนูููู ุจูุนูุฏู ุงูุชููุณููููู
ู ุณูุจูุญูุงูู ุงููู
ููููู ุงููููุฏูููุณู ุซูููุงุซูุง
Terjemahan: "Dari Ubay bin Kaโab, ia berkata: Rasulullah saw membaca dalam salat witir โsabbiแธฅisma rabikal aโlฤโ, pada rakaat kedua membaca โqul yฤ ayyuhal kฤfirลซnโ, pada rakaat ketiga โqul huwallฤhu aแธฅadโ. Rasulullah tidak salam kecuali di akhir salat. Setelah salat Rasulullah mengucapkan โsubแธฅฤnal malikil quddลซsโ."
Selain itu, hadis dari Abu Hurairah juga menegaskan:
ุนู ุฃุจู ูุฑูุฑุฉ ุนู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู
ุฃูู ูุงู: ูุง ุชูุชุฑูุง ุจุซูุงุซ ุฃูุชุฑูุง ุจุฎู
ุณ ุฃู ุจุณุจุน ููุง ุชุดุจููุง ุจุตูุงุฉ ุงูู
ุบุฑุจ
Terjemahan: "Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw bahwasanya ia berkata: Janganlah kalian melakukan witir tiga rakaat, akan tetapi lakukanlah witir 5 rakaat atau 7 rakaat. Jangan samakan witir dengan salat magrib."
Larangan Rasulullah SAW untuk tidak menyamakan salat witir dengan salat Maghrib secara tegas merujuk pada praktik duduk tasyahud awal dalam salat witir. Untuk menghindari keserupaan tersebut, salat witir dilaksanakan secara kontinu tanpa duduk tasyahud awal di tengah salat, serta dengan menambah jumlah rakaat menjadi lima atau tujuh, sesuai anjuran Nabi.
Sejalan dengan kaidah al-aแนฃlu fi al-โibฤdah at-tawqฤซf wa al-ittibฤโ (prinsip dasar dalam ibadah adalah menunggu dalil dan mengikuti tuntunan), maka pelaksanaan salat tarawih dalam formasi 4-4-3 rakaat sejatinya tidak memerlukan penggunaan tasyahud awal.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





