Mengukuhkan Takwa: Menyelaraskan Ibadah dengan Keikhlasan dan Budi Pekerti

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, Ahad (12/7) - Fajar Rachmadhani, Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyampaikan kajian mendalam dalam pengajian Ahad pagi yang berlangsung di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan. Dalam kesempatan tersebut, ia mengupas hadis ke-18 dari Arba’in An-Nawawi yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal.
Hadis tersebut memuat tiga pesan fundamental dari Rasulullah Saw. bagi umat Islam: senantiasa bertakwa kepada Allah di mana pun berada, mengiringi setiap keburukan dengan amal kebaikan, dan memperlakukan sesama manusia dengan akhlak yang mulia.
Mengawali pemaparannya, Fajar Rachmadhani menjelaskan bahwa para ulama memiliki beragam perspektif mengenai makna takwa. Ia mengutip pandangan Umar bin Khattab yang mengilustrasikan takwa sebagai seseorang yang berjalan di jalan gelap penuh duri, sehingga setiap langkah diambil dengan penuh kehati-hatian. "Takwa itu adalah bentuk kehati-hatian kita di dalam menjalani kehidupan di dunia ini," ujarnya.
Menurutnya, seorang muslim senantiasa dihadapkan pada pilihan antara yang halal, haram, dan syubhat. Oleh karena itu, sikap berhati-hati menjadi krusial agar tidak terjerumus pada hal-hal yang dilarang Allah. Ia juga mengutip definisi takwa dari Ali bin Abi Thalib, yang menggambarkannya sebagai rasa takut kepada Allah. Berbeda dengan rasa takut pada makhluk yang cenderung menjauhkan, rasa takut kepada Allah justru mendorong hamba untuk semakin mendekat melalui ibadah dan ketaatan.
Sementara itu, Ibnu Umar mendefinisikan takwa sebagai sikap rendah hati, yakni tidak merasa lebih baik dari orang lain. Fajar Rachmadhani menegaskan bahwa selama seseorang masih merasa lebih saleh atau lebih tinggi derajatnya dibandingkan sesama, ketakwaannya belum mencapai kesempurnaan.
Selanjutnya, Fajar menyoroti kelanjutan hadis, “ittaqillāha haitsu mā kunta”, yang bermakna bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Frasa ini mengindikasikan bahwa ketakwaan tidak boleh bergantung pada situasi atau penilaian manusia. "Yang begitu sulit adalah ketika kita mampu tetap bertakwa dalam kesendirian," katanya, menekankan bahwa manusia mungkin bisa tertipu oleh citra seseorang, namun Allah Maha Mengetahui segala isi hati dan perbuatan hamba-Nya. "Kalau manusia boleh tertipu oleh pencitraan orang lain, tapi kalau Allah tidak," tegasnya.
Ketakwaan, lanjut Fajar, sangat erat kaitannya dengan keikhlasan. Ia menguraikan dua indikator keikhlasan menurut para ulama: pertama, kualitas amal tetap konsisten baik saat dipuji maupun dicela; kedua, kualitas amal tidak berubah, baik dilakukan di hadapan banyak orang maupun saat sendirian. Ia menegaskan bahwa orang yang ikhlas tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan beramal. "Orang yang bertakwa adalah orang yang menjadikan Allah sebagai tujuan dan orientasi utama dalam hidupnya," ujarnya.
Di era media sosial saat ini, Fajar mengingatkan bahwa keikhlasan menghadapi ujian yang semakin berat. Hasrat untuk memperoleh apresiasi, pujian, atau pengakuan dapat menggeser orientasi amal jika tidak dibarengi dengan keikhlasan yang kokoh.
Ia juga mengutip pandangan ulama yang menyebutkan bahwa salah satu penyebab seseorang mengalami suul khatimah (akhir yang buruk) adalah dosa-dosa yang dilakukan saat sendirian, atau dzunubul khalawat. Oleh karena itu, setiap individu perlu senantiasa berintrospeksi agar tidak hanya tampak saleh di hadapan manusia, tetapi juga menjaga diri ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Meskipun demikian, Fajar menegaskan bahwa manusia bukanlah makhluk yang luput dari kesalahan. Rasulullah Saw. telah menjelaskan bahwa setiap anak Adam pasti pernah berbuat dosa. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh berputus asa selama masih memiliki keinginan untuk bertobat. Ia juga mengingatkan bahaya menjadi mujahir, yaitu orang yang melakukan kemaksiatan secara terang-terangan atau bahkan membanggakan dosa yang telah diperbuat. Mengutip hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, ia menjelaskan bahwa seluruh umat Nabi Muhammad Saw. memiliki peluang memperoleh ampunan Allah, kecuali mereka yang dengan sengaja mempertontonkan kemaksiatannya kepada orang lain.
Dalam menjalani kehidupan, Fajar menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara rasa takut kepada Allah (khauf) dan harapan terhadap ampunan-Nya (raja’). Rasa takut yang berlebihan dapat menimbulkan keputusasaan, sementara harapan yang terlampau besar justru berisiko membuat seseorang meremehkan dosa.
Selanjutnya, ia menjelaskan bagian kedua hadis, “wa atbi’is sayyi’atal hasanata tamhuha”, yang berarti ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Rasulullah mengajarkan agar setiap dosa kecil diiringi dengan amal saleh, yang dengannya Allah akan menghapus kesalahan tersebut. "Kalau kita punya banyak dosa maka harus diiringi dengan banyak perbuatan baik," ujarnya.
Fajar menerangkan bahwa amal saleh memiliki kekuatan untuk menghapus dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar memerlukan tobat yang tulus apabila berkaitan dengan hak Allah. Namun, jika dosa tersebut menyangkut hak sesama manusia, seperti menzalimi, mengambil harta orang lain, menipu, atau korupsi, pelakunya tidak hanya wajib bertobat, tetapi juga harus mengembalikan hak tersebut dan meminta maaf kepada pihak yang dizalimi.
Oleh karena itu, Fajar mengingatkan agar setiap muslim senantiasa berhati-hati dalam urusan hak sesama manusia. Ia menjelaskan bahwa seseorang yang datang pada hari kiamat dengan membawa banyak amal ibadah dapat saja menjadi orang yang bangkrut apabila selama hidupnya pernah menzalimi orang lain.
Pada bagian penutup kajiannya, Fajar mengulas pesan terakhir Rasulullah, yakni “wa khāliqin nāsa bikhuluqin hasan”, yang berarti bergaullah dengan manusia menggunakan akhlak yang mulia. Menurutnya, masyarakat saat ini tidak kekurangan orang-orang yang berilmu, namun justru sangat membutuhkan lebih banyak pribadi yang memiliki ilmu sekaligus akhlak yang baik. "Yang langka itu adalah orang yang berilmu dan berakhlak," katanya.
Ia menilai bahwa banyak persoalan sosial, termasuk korupsi dan penyalahgunaan jabatan, bukan disebabkan oleh ketiadaan ilmu pada pelakunya, melainkan karena ilmu tersebut tidak diiringi dengan akhlak yang mulia. Oleh karena itu, ia mengajak para orang tua untuk tidak hanya berfokus pada prestasi akademik anak, tetapi juga menanamkan karakter dan akhlak sejak dini. Menurutnya, kecerdasan intelektual dapat dilatih, sedangkan akhlak yang mulia merupakan bekal paling berharga dalam kehidupan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





