LP2M PWM Sulsel Siapkan Penugasan Alumni PUTM dan PUPM untuk Penguatan Dakwah

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan mulai menyusun pola penugasan alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah angkatan ke-12 dan alumni Pendidikan Ustaz Pesantren Muhammadiyah angkatan pertama untuk memperkuat dakwah Persyarikatan di berbagai daerah. Agenda itu dibahas dalam Rapat Koordinasi Pengabdian Alumni yang berlangsung di Aula Ma'had Al-Birr Universitas Muhammadiyah Makassar pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Rapat tersebut dihadiri jajaran pengurus LP2M PWM Sulsel dan difokuskan pada penataan sistem penempatan alumni secara lebih terstruktur. Skema ini tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan pesantren Muhammadiyah, tetapi juga untuk mendukung kegiatan keagamaan dan pembinaan kader di lingkungan masjid, ranting, serta cabang Muhammadiyah.
Wakil Ketua PWM Sulsel, Dr. K.H. Abbas Baco Miro, menegaskan bahwa kader ulama dan ustaz Muhammadiyah memiliki posisi strategis dalam menjaga kesinambungan dakwah. Karena itu, menurutnya, penempatan alumni PUTM dan PUPM tidak boleh berjalan tanpa arah, melainkan harus disesuaikan dengan kebutuhan riil Persyarikatan di lapangan.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan kader tidak berhenti pada lembaga pesantren semata. Muhammadiyah juga memerlukan tenaga pembina keagamaan yang mampu menghidupkan pengajian, penguatan ideologi, dan pembinaan umat di tingkat akar rumput. Dengan penugasan yang tepat, alumni diharapkan hadir sebagai penggerak kegiatan keislaman sekaligus penguat kaderisasi.
Abbas menilai penempatan yang tertata akan membantu Muhammadiyah memperluas jangkauan dakwah secara lebih merata di Sulawesi Selatan. Alumni PUTM dan PUPM dipandang bukan hanya sebagai lulusan pendidikan kader, tetapi sebagai sumber daya Persyarikatan yang harus ditempatkan pada titik-titik yang paling membutuhkan penguatan.
Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. K.H. Mawardi Pewangi, dalam forum itu menyatakan masa pengabdian alumni merupakan bagian penting dari proses kaderisasi Muhammadiyah. Ia menekankan bahwa alumni yang ditugaskan ke pesantren akan menjalankan fungsi nyata sebagai guru dan tenaga pengajar, bukan sekadar menjalani masa magang formal.
Untuk memberi kepastian peran, PWM Sulsel disebut akan menerbitkan Surat Keputusan penugasan bagi para alumni. Langkah ini penting agar mereka memiliki legitimasi yang jelas ketika mulai bertugas dan dapat menjalankan amanah dengan dukungan kelembagaan yang lebih kuat.
Mawardi juga menyoroti pentingnya sikap penghargaan terhadap para alumni yang sedang memasuki masa pengabdian. Menurutnya, mereka adalah aset Muhammadiyah yang sedang dipersiapkan menjadi ulama, ustaz, dan pemimpin umat pada masa depan, sehingga pembinaan tidak boleh berhenti pada penempatan administratif semata.
Ia mengingatkan pesantren penerima perlu menyiapkan pendampingan yang baik, termasuk perhatian terhadap kebutuhan hidup para kader. Dukungan semacam itu dinilai menentukan keberhasilan program pengabdian, sebab kualitas pembinaan akan berpengaruh langsung terhadap kesiapan alumni dalam menjalankan tugas dakwah dan pendidikan.
Sekretaris LP2M PWM Sulsel, Dr. Muh. Ali Bakri, menambahkan bahwa perhatian bersama juga perlu diberikan kepada pesantren yang masih memiliki keterbatasan sumber daya maupun kemampuan finansial. Dalam kondisi seperti itu, komitmen kelembagaan menjadi penting agar kesejahteraan alumni tetap terjaga dan mereka dapat bekerja secara optimal.
Melalui rapat koordinasi ini, LP2M PWM Sulsel ingin melahirkan sistem penempatan dan pembinaan alumni yang lebih rapi, terukur, dan berkelanjutan. Harapannya, alumni PUTM dan PUPM dapat memberi kontribusi nyata bagi pengembangan pesantren, penguatan masjid, serta perluasan dakwah Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.





