Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah Ajak Umat Hindari Kejumudan Berpikir dalam Beragama

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - PONOROGO, Ahad, 12 Juli - Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan, menyerukan kepada seluruh warga Muhammadiyah untuk membebaskan diri dari kejumudan berpikir dalam beragama. Sosok yang akrab disapa Gusbach ini menekankan bahwa Islam yang didakwahkan oleh Muhammadiyah adalah ajaran yang berupaya mencerahkan akal, menguatkan fondasi tauhid, serta mendorong kemajuan peradaban.
Pernyataan tersebut disampaikan Gusbach dalam acara Pengajian Ahad Pagi yang diselenggarakan di Masjid Al-Manar, Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO). Di hadapan ratusan jamaah yang hadir, ia menegaskan bahwa kehadiran Islam bukan sekadar untuk menerangi hati, melainkan juga untuk membangun nalar dan memajukan peradaban umat secara menyeluruh.
“Islam Berkemajuan yang dipromosikan Muhammadiyah bukan sekadar narasi. Muhammadiyah hadir melalui aksi nyata di bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Pengajian seperti ini merupakan inovasi tradisi agar jarak antara sumber ilmu dan umat semakin dekat sehingga pencerahan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas,” ujar Gusbach.
Dalam tausiyahnya, Gusbach menggarisbawahi pentingnya upaya menuntut ilmu sebagai jalan utama untuk keluar dari pola pikir yang jumud. Menurutnya, umat Islam harus memiliki perspektif yang terbuka, kritis, dan tercerahkan agar tidak mudah terjerumus pada takhayul, mitos, atau praktik-praktik yang menyimpang dari ajaran tauhid yang murni. Ia mengingatkan bahwa kemurnian akidah merupakan landasan fundamental bagi terbentuknya masyarakat yang maju dan berdaya.
“Tauhid kita harus benar-benar iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in . Jangan menduakan Allah. Islam memastikan bahwa hanya Allah yang menciptakan dan hanya kepada-Nya kita menyembah. Jika akidah kokoh, umat akan melangkah maju tanpa rasa takut yang tidak berdasar,” tegasnya.
Selain menyoroti dimensi spiritual, Gusbach juga mengajak anggota Muhammadiyah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui perhatian pada kesehatan, pendidikan, dan kemandirian ekonomi. Ia berpendapat bahwa investasi pada gizi keluarga merupakan langkah strategis jangka panjang untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan memiliki daya saing tinggi. Baginya, umat Islam wajib memiliki kekuatan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta ekonomi, agar dapat berperan sebagai aktor utama pembangunan, bukan hanya sekadar konsumen.
“Kalau ekonomi umat kuat, tangan kita akan selalu di atas, memberi bukan meminta. Saya mendukung jika pengajian Muhammadiyah juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi, misalnya dengan memberikan kesempatan kepada UMKM jamaah untuk berkembang sehingga tercipta perputaran ekonomi yang membawa kemaslahatan bersama,” paparnya.
Gusbach menutup tausiyahnya dengan mengingatkan bahwa menjalani ajaran Islam seharusnya dilakukan dengan penuh kegembiraan. Pengajian, menurutnya, bukan hanya wadah untuk menimba ilmu, tetapi juga sarana untuk memperkuat optimisme, mempererat tali silaturahmi, dan menjaga kesehatan mental umat di tengah berbagai tantangan kehidupan modern. Ia berharap agar sinergi antara dakwah yang mencerahkan dan program pemberdayaan masyarakat dapat terus diperkuat, sehingga Muhammadiyah dapat senantiasa menghadirkan Islam yang membawa kemajuan serta kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





