Dari Kelas ke Situs Sejarah, Begini Rangkaian Belajar Peserta ASM Batch II

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, SURABAYA - Sebanyak 25 peserta dari berbagai wilayah mengikuti Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM) Batch II di Surabaya pada 7-11 Agustus 2026. Mereka terdiri atas perwakilan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI), mahasiswa, serta guru sejarah dari sekolah Muhammadiyah.
Kegiatan yang diselenggarakan MPI Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Lazismu ini dirancang untuk memperkuat kemampuan peserta dalam meneliti, mendokumentasikan, dan menulis sejarah Muhammadiyah di daerah. Materi tidak hanya disampaikan melalui kelas, tetapi juga dihubungkan dengan pembacaan situs dan penyusunan program lanjutan.
Untuk mencapai tujuan itu, peserta akan menjalani proses belajar dalam tiga tahap: penguatan materi di kelas, pembacaan sumber sejarah di lapangan, dan penyusunan rencana kerja tindak lanjut.
Skema tersebut disusun agar peserta tidak pulang hanya dengan catatan materi. Setiap orang diarahkan membawa rancangan kegiatan yang dapat dijalankan setelah kembali ke wilayahnya.
"Kami berharap ilmu yang hari ini didapatkan bisa ditularkan di wilayah lingkungannya dan tentu saja menghasilkan semangat-semangat baru untuk penulisan sejarah Muhammadiyah," kata Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, Widyastuti, M.Hum.
Pada tahap pertama, peserta mempelajari alasan penulisan sejarah Muhammadiyah perlu diperluas, cara memetakan karya sejarah lokal, serta metode mengenali narasumber sejarah hidup. Pengelolaan dokumentasi dan publikasi juga masuk dalam rangkaian materi.
Pembelajaran selanjutnya bergerak keluar kelas. Berdasarkan jadwal kegiatan, peserta akan mengunjungi Langgar Plampitan, kawasan Ampel, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur, serta Museum Medayu Agung.
Empat lokasi itu menawarkan jenis sumber yang berbeda. Langgar dan kawasan kota menyimpan jejak pada bangunan serta ingatan masyarakat, sedangkan lembaga arsip dan museum memperlihatkan bagaimana dokumen serta benda bersejarah dirawat, diberi keterangan, dan dibuka untuk penelitian.
Tahap terakhir berisi penyusunan rencana kerja tindak lanjut atau RKTL. Peserta menyiapkan bentuk kegiatan, sasaran, kebutuhan sumber, pembagian tugas, jadwal, dan luaran yang ingin dicapai.
Rencana itu dapat berupa pelatihan penulisan sejarah, pengumpulan arsip organisasi, inventarisasi situs, perekaman sejarah lisan, maupun penyusunan naskah penerbitan. Setiap rancangan akan dipresentasikan untuk memperoleh tanggapan sebelum dibawa pulang.
Sumber: maklumat.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





