ASM Batch II Siapkan Peserta Menyusun Pelatihan Penulisan Sejarah di Daerah

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, SURABAYA - Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM) Batch II tidak hanya mengajak peserta mengenali masa lalu persyarikatan. Forum ini juga menyiapkan langkah praktis agar penulisan sejarah dapat diteruskan di daerah masing-masing.
Kegiatan yang digelar di Hotel Dafam Pacific Caesar, Surabaya, pada 7-11 Agustus 2026 itu diselenggarakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Lazismu. Pesertanya mengikuti rangkaian penguatan materi dan praktik penyusunan rencana kerja tindak lanjut.
Ketua Panitia ASM Batch II, M. Ichsan Budi Prabowo, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diarahkan untuk memperluas pemahaman sejarah Muhammadiyah sekaligus menumbuhkan kompetensi dan komitmen kader dalam kerja kesejarahan.
Materi yang dipelajari mencakup alasan pentingnya penulisan sejarah, pemetaan karya sejarah lokal, penelitian situs cagar budaya, pengenalan narasumber sejarah hidup, hingga pengelolaan dokumentasi dan publikasi. Peserta juga mendapat penguatan mengenai pelatihan penulisan sejarah, termasuk penyusunan kerangka acuan kegiatan.
Rangkaian belajar tidak berhenti di ruang kelas. Peserta dijadwalkan melakukan kunjungan ke Langgar Plampitan, kawasan Ampel, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur, serta Museum Medayu Agung. Kunjungan lapangan ini memberi contoh bagaimana arsip, bangunan, lingkungan, dan kesaksian masyarakat dapat dibaca sebagai sumber sejarah.
Pada bagian akhir, setiap peserta diarahkan menyusun rencana kerja tindak lanjut atau RKTL. Bentuknya dapat berupa usulan pelatihan, target penulisan, pengumpulan arsip, atau pemetaan sejarah di wilayah masing-masing yang kemudian dipresentasikan untuk memperoleh masukan.
Model ini penting karena penulisan sejarah di daerah membutuhkan kesinambungan. Satu kegiatan pelatihan akan lebih bermakna ketika diikuti pembagian tugas, jadwal pengumpulan sumber, pendampingan penulis, dan penerbitan yang dapat dijangkau pembaca.
Bagi jaringan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, RKTL dapat menjadi cara untuk menghubungkan majelis, sekolah, kampus, rumah sakit, dan komunitas lokal dalam satu kerja dokumentasi. Setiap daerah memiliki pengalaman khas yang layak dicatat dengan metode yang teliti, bukan hanya disimpan dalam ingatan pribadi.
Sumber: maklumat.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.




