Unismuh Perkuat Implementasi OBE Lewat RPS, Modul, dan LMS

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MAKASSAR - Universitas Muhammadiyah Makassar mendorong implementasi Outcome Based Education memasuki tahap yang lebih operasional melalui penyusunan Rencana Pembelajaran Semester dan modul berbasis capaian. Langkah ini ditempuh agar kurikulum tidak berhenti pada dokumen, melainkan benar-benar membentuk proses belajar yang terhubung dengan kemampuan lulusan yang ditargetkan.
Penguatan tersebut dibahas dalam Workshop Penyusunan RPS dan Modul Berbasis OBE di Balai Sidang Unismuh Makassar pada Selasa, 11 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi kelanjutan dari pendampingan kurikulum yang sebelumnya telah memetakan capaian pembelajaran lulusan, capaian mata kuliah, hingga sub-capaian yang harus diraih mahasiswa.
Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU, menegaskan bahwa RPS dan modul adalah fondasi untuk memastikan mutu pembelajaran serta keterukuran hasil akhir. "RPS dan modul berbasis OBE inilah yang menjadi fondasi utama dari mutu pembelajaran. Output lulusan itu akan terukur dan sesuai dengan CPL yang telah direncanakan dalam kurikulum," katanya.
Menurut Rakhim, pendekatan berbasis luaran bukan hanya kebutuhan akreditasi. Unismuh juga memerlukannya untuk menyesuaikan sistem akademik dengan perkembangan pendidikan tinggi internasional. Karena itu, perangkat pembelajaran harus dirancang agar tujuan, metode, kegiatan belajar, dan asesmen berada dalam satu arah.
Wakil Rektor I Unismuh, Prof. Dr. Andi Sukri Syamsuri, menjelaskan bahwa OBE mengubah titik berangkat dosen dalam merancang perkuliahan. Ia menyebut perkuliahan tidak lagi dimulai dari daftar materi yang ingin disampaikan, tetapi dari kemampuan akhir yang harus dimiliki mahasiswa. "Bahasa gampangnya, OBE adalah kurikulum yang memulai dari tujuan akhir terlebih dahulu," ujarnya.
Implikasinya, RPS tidak dapat diperlakukan sekadar berkas administratif. Dokumen itu harus menjadi peta perjalanan belajar mahasiswa, sementara modul berfungsi sebagai bahan ajar terstruktur yang mendukung pencapaian kompetensi tertentu. Setelah disusun, keduanya akan ditempatkan dalam LMS GIF Learning sebagai bagian dari blended learning yang sedang diperkuat di Unismuh.
Sekretaris P4-DF Unismuh Makassar, Dr. Ishaq Madeamin, menekankan prinsip constructive alignment dalam penyusunan perangkat tersebut. Ia mencontohkan, jika sebuah sub-capaian menuntut mahasiswa mampu menganalisis, maka dosen tidak cukup menggunakan metode ceramah tanpa memberi ruang praktik analisis. "Jangan sampai tujuannya mahasiswa mampu menganalisis, tetapi metodenya direct learning atau ceramah," katanya.
Pendekatan ini juga menghubungkan RPS, modul, dan asesmen dengan pengukuran CPL. Data hasil belajar mahasiswa nantinya dipakai untuk melihat ketercapaian luaran secara lebih sistematis, dari level mata kuliah hingga level lulusan. Dengan demikian, evaluasi pembelajaran tidak hanya menilai materi yang selesai diajarkan, tetapi kemampuan nyata yang berhasil dibangun.
Dalam forum yang sama, Unismuh juga menempatkan nilai I-GIFt, yaitu integrated, green, Islamic, futuristic, ke dalam desain pembelajaran. Pengurangan bahan cetak, pemanfaatan platform digital, integrasi nilai keislaman, dan pemakaian teknologi menjadi bagian dari arah implementasi. Rakhim menyebut orientasi ini penting agar identitas kelembagaan tidak berhenti sebagai slogan.
Penggunaan kecerdasan buatan juga mulai diperkenalkan sebagai alat bantu dalam penyusunan RPS dan modul, namun keputusan akademik tetap berada pada dosen. Bagi Unismuh, kombinasi antara desain pembelajaran berbasis capaian, digitalisasi LMS, dan kontrol akademik yang tetap kuat menjadi kunci agar OBE benar-benar bergerak dari dokumen kurikulum menuju praktik belajar yang terukur.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





