Rakor PWM Sulsel Perkuat Kolaborasi Program Menjelang Tanwir Muhammadiyah di Palu

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MAKASSAR – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan memperkuat sinergi antarmajelis dan lembaga untuk memastikan program persyarikatan berjalan lebih efektif dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Penguatan kolaborasi tersebut menjadi salah satu fokus dalam Rapat Koordinasi (Rakor) PWM Sulsel menjelang Tanwir Muhammadiyah di Palu, Sulawesi Tengah, November 2026.
Rakor berlangsung di Kantor PWM Sulsel, Makassar, Rabu (14/10/2026). Sebanyak 12 majelis dan 11 lembaga menyampaikan laporan kegiatan, capaian program, serta rencana pengembangan organisasi.
Wakil Ketua PWM Sulsel, Muh Syaiful Saleh, mengajak para pengurus untuk lebih aktif mengambil peran dalam menjalankan amanah organisasi. Ajakan itu disampaikannya saat meminta pengurus yang duduk di bagian belakang ruangan untuk maju.
“Jangan selalu mau di belakang, itu tanda-tanda orang mau pulang lagi,” ujar Syaiful Saleh.
Ketua PWM Sulsel, Prof Ambo Asse, dalam rapat tersebut menekankan pentingnya menghubungkan program antarmajelis dan lembaga. Menurutnya, sejumlah persoalan masyarakat membutuhkan kerja bersama agar penanganannya lebih efektif.
Salah satu contohnya terlihat dalam kolaborasi Majelis Pemberdayaan Masyarakat, Lazismu, dan Majelis Wakaf di Wajo dan Pinrang. Ketiganya bekerja sama menyediakan sumur bor untuk mendukung kebutuhan air bagi lahan pertanian. Di Wajo, tanaman jagung dilaporkan tumbuh mendekati dua meter setelah fasilitas air dimanfaatkan.
Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PWM Sulsel, Prof Rasyid Masri, menegaskan bahwa program pemberdayaan harus dibuktikan melalui tindakan nyata.
“Bukan cerita, tapi kerja,” tegas Rasyid.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan program membutuhkan ketekunan, komunikasi, dan upaya aktif di lapangan. Dengan pendekatan tersebut, program organisasi diharapkan tidak berhenti pada perencanaan, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Di bidang sosial dan kemanusiaan, Lazismu Sulsel melaporkan sejumlah program, antara lain beasiswa, bantuan bagi dai yang bertugas di pulau-pulau Selayar, serta penyaluran 1.500 bibit pohon durian melalui kerja sama dengan Majelis Wakaf.
Sementara itu, Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Sulsel mengembangkan pembinaan mualaf dan pendampingan keluarga pemulung. Programnya mencakup penguatan usaha bagi mualaf dan pendekatan dakwah yang mempertimbangkan kebutuhan ekonomi masyarakat.
Pada sektor dakwah, Majelis Tabligh melaporkan lebih dari 700 peserta mengikuti Sekolah Tabligh, dengan sekitar 500 peserta telah menyelesaikan pendidikan. Pengembangan dakwah melalui pengajian, dakwah kebencanaan, dan media digital juga menjadi perhatian untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Di bidang pendidikan, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah melaporkan partisipasi sekitar 8.000 pelajar Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia dalam Olimpiade Ahmad Dahlan. Kontingen Sulawesi Selatan menempati posisi keempat berdasarkan perolehan medali.
Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) PWM Sulsel juga menyampaikan perkembangan pesantren Muhammadiyah dan Aisyiyah. Dari 31 pesantren yang dilaporkan, Pesantren Gombara dan Ummul Mukminin masuk kelompok 15 besar nasional berdasarkan jumlah santri. Tiga pesantren lainnya dipersiapkan mengikuti proses akreditasi.
Ketua LP2 PWM Sulsel, KH Lukman Abd Shamad, berharap pesantren Muhammadiyah dan Aisyiyah terus meningkatkan mutu serta kontribusinya bagi masyarakat. Ia menginginkan lembaga pendidikan tersebut menjadi “semakin maju, semakin berprestasi, dan semakin berdampak”.
Penguatan tradisi keilmuan juga menjadi perhatian Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Sulsel. Majelis ini tengah menyiapkan ensiklopedia hadis berjudul At-Tanwir dalam empat bidang, yakni akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah.
Sementara itu, Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) mengembangkan penerbitan, dokumentasi sejarah, dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk mendukung pengelolaan informasi organisasi. Dalam aspek digitalisasi, pendataan SatuMu telah menjangkau 230 dari 247 pimpinan cabang. Namun, pendataan di tingkat ranting masih perlu diperluas karena baru 110 dari 803 ranting yang tercatat aktif.
Pada sektor aset, Majelis Wakaf melaporkan pendataan 602 titik aset persyarikatan, dengan tambahan 122 aset berdasarkan laporan dari 11 daerah. Sebagian aset masih membutuhkan pembenahan dokumen kepemilikan agar pengelolaannya semakin tertib.
Majelis Ekonomi turut melaporkan pelatihan keamanan siber bagi sekitar 2.000 pelaku UMKM dan rencana pembentukan perusahaan induk usaha. Adapun Lembaga Resiliensi Bencana mengembangkan tim medis darurat melalui kerja sama dengan Unismuh Makassar dan jejaring rumah sakit.
Menjelang akhir rapat, Ambo Asse kembali mengingatkan pentingnya membangun kerja bersama untuk menuntaskan agenda organisasi.
“Hari ini kita berkoordinasi, berkonsolidasi, berkolaborasi,” ujar Ambo Asse.
Rakor juga membahas rencana pengembangan fasilitas persyarikatan, termasuk gedung pengembangan sumber daya manusia 13 lantai dan Poliklinik Sehat Bahagia.
Melalui koordinasi tersebut, PWM Sulsel berharap berbagai program majelis dan lembaga dapat saling mendukung, mulai dari pemberdayaan masyarakat, pendidikan, dakwah, hingga penguatan tata kelola organisasi. Menjelang Tanwir Muhammadiyah di Palu, tantangan utamanya ialah memastikan gagasan dan rencana yang telah disusun berlanjut menjadi kerja nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





