Muhammadiyah Sulsel Bahas Cuaca Ekstrem, Padukan Tuntunan Syariah dan Mitigasi Bencana

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MAKASSAR – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan mengkaji fenomena cuaca ekstrem melalui pendekatan syariah dan ilmu kebencanaan. Kegiatan ini menjadi upaya menghubungkan pemahaman keagamaan dengan pengetahuan ilmiah untuk membantu masyarakat menghadapi dampak perubahan kondisi cuaca.
Kajian tersebut dikemas dalam pengajian rutin secara daring melalui Zoom, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan ini dilatarbelakangi dampak kemarau panjang yang mengganggu sektor pertanian dan perkebunan, sekaligus meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran, dan polusi udara.
Dua pakar dihadirkan untuk memberikan perspektif berbeda. Wakil Ketua PWM Sulsel, Dr. K.H. Abbas Baco Miro, Lc., M.A., membawakan materi tentang salat istisqa, tawakal, taubat, dan harapan kepada Allah Swt. Sementara itu, Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV, Dr. Nasrol Adil, S.Si., M.T., menjelaskan pentingnya memahami peringatan dini dan melakukan langkah mitigasi cuaca ekstrem.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Sulsel, Prof. Zulfahmi Alwi, M.Ag., Ph.D., mengatakan bahwa Majelis Tarjih memiliki tanggung jawab untuk memberikan panduan keagamaan yang relevan dengan persoalan aktual di tengah masyarakat.
“Respons tersebut diwujudkan melalui pemberian tuntunan keagamaan yang relevan dengan berbagai persoalan kehidupan,” ujar Zulfahmi.
Menurutnya, Muhammadiyah perlu hadir memberikan pencerahan kepada masyarakat dalam menyikapi berbagai fenomena, termasuk persoalan alam dan dampaknya terhadap kehidupan sosial.
Ketua PWM Sulsel, Prof. Ambo Asse, yang membuka kegiatan tersebut, mengapresiasi inisiatif Majelis Tarjih dan Tajdid dalam menghadirkan pakar sesuai bidang keahliannya untuk membahas persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.
“Pendekatan ini diharapkan dapat mempertemukan pemahaman keagamaan dengan pengetahuan ilmiah sehingga masyarakat memperoleh panduan yang komprehensif dalam menghadapi cuaca ekstrem,” tutur Ambo Asse.
Salat Istisqa dan Ikhtiar Menjaga Lingkungan
Dalam pemaparannya, Abbas Baco Miro menjelaskan bahwa salat istisqa tidak hanya menjadi sarana memohon turunnya hujan, tetapi juga momentum memperkuat tauhid dan hubungan manusia dengan Allah Swt.
Ia mengajak masyarakat menghadapi kondisi sulit melalui doa, taubat, istigfar, tawakal, dan sikap optimistis. Namun, tawakal harus disertai ikhtiar nyata, termasuk menjaga lingkungan dan menggunakan sumber daya alam secara bertanggung jawab.
Salah satu bentuk ikhtiar tersebut adalah menggunakan air secara bijaksana dan tidak berlebihan. Langkah ini penting untuk menjaga ketersediaan air bersih, terutama ketika kekeringan mengancam kebutuhan masyarakat.
Dengan demikian, penguatan spiritual perlu berjalan seiring dengan tindakan nyata untuk mengurangi dampak kemarau panjang.
BMKG Tekankan Pentingnya Aksi Dini
Sementara itu, Nasrol Adil menekankan bahwa pengetahuan mengenai cuaca dan iklim menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana. Masyarakat perlu memahami informasi meteorologi agar dapat mengambil langkah antisipatif sebelum dampak cuaca ekstrem terjadi.
“Kami mengajak masyarakat untuk aktif memantau informasi cuaca dan iklim agar mampu mengambil langkah antisipatif sebelum dampak suatu fenomena alam terjadi,” kata Nasrol.
Ia menjelaskan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan peringatan dari pihak berwenang. Masyarakat juga perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai fenomena cuaca, termasuk El Niño dan La Niña, serta pengaruhnya terhadap kondisi iklim.
Nasrol turut mengapresiasi langkah Muhammadiyah yang memberikan edukasi kebencanaan dan pemahaman meteorologi kepada warga persyarikatan serta masyarakat luas. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat melahirkan rekomendasi dan tindakan nyata untuk mengantisipasi dampak fenomena alam.
Ratusan Peserta Ikuti Kajian Daring
Pengajian yang dipandu Abd. Rahman Jalaluddin, aktivis Pemuda Muhammadiyah sekaligus Bendahara Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Sulsel, diikuti ratusan peserta secara virtual. Diskusi berlangsung antusias dengan berbagai tanggapan dan pertanyaan dari peserta.
Melalui kegiatan ini, Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Sulsel menegaskan pentingnya pendekatan terpadu dalam menghadapi cuaca ekstrem. Penguatan keimanan perlu berjalan bersama literasi cuaca, kepedulian lingkungan, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Muhammadiyah berharap masyarakat tidak hanya memiliki keteguhan spiritual ketika menghadapi kemarau panjang, tetapi juga mampu melakukan langkah konkret untuk melindungi lingkungan dan mengurangi risiko bencana.
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





