Muhammadiyah Makassar Gelar Halaqah Pra-Musda Tarjih, Perkuat Literasi Keagamaan Umat

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MAKASSAR – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Makassar menggelar Halaqah I Pra-Musyawarah Daerah (Pra-Musda) Tarjih untuk memperkuat literasi keagamaan sekaligus membahas persoalan kontemporer yang berkembang di tengah masyarakat.
Kegiatan bertema “Aktualisasi Manhaj Tarjih di Era Digital: Respons Hukum atas Isu Keagamaan, Sosial dan Budaya” tersebut berlangsung di Theater I-Gift Universitas Muhammadiyah Makassar, Ahad (11/10/2026).
Halaqah ini menjadi ruang diskusi ilmiah bagi ulama, akademisi, dan warga persyarikatan untuk memperdalam pemahaman terhadap manhaj tarjih Muhammadiyah dalam merespons perkembangan zaman.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kota Makassar, Dr. M. Ilham Muchtar, Lc., M.A., menjelaskan bahwa halaqah tersebut merupakan bagian dari rangkaian persiapan menuju Musyawarah Daerah Tarjih Muhammadiyah Kota Makassar.
“Halaqah ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan musyawarah daerah tarjih Muhammadiyah Makassar, insyaallah masih ada halaqah kedua nanti,” ujar Ilham.
Ia mengatakan, forum ini dirancang untuk merespons berbagai persoalan aktual yang membutuhkan kajian keagamaan secara mendalam, mulai dari penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam urusan agama hingga persoalan ibadah dan ekspresi budaya.
“Hal ini menjadi forum kajian guna merespons berbagai persoalan kontemporer, mulai dari penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam urusan agama hingga persoalan ibadah dan ekspresi budaya,” tambahnya.
Ketua PDM Kota Makassar, Dr. H. Darwis Muhdina, M.Ag., mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai pembahasan berbagai persoalan keagamaan perlu dilakukan melalui pertukaran gagasan, pendalaman dalil, dan penguatan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Darwis berharap halaqah menjadi ruang yang mendorong peserta menguji argumentasi secara terbuka dan ilmiah, bukan sekadar mempertahankan pendapat masing-masing.
Semangat tersebut sejalan dengan tradisi tarjih Muhammadiyah yang mengedepankan kajian dalil, penalaran ilmiah, dan metode yang sistematis dalam merumuskan pandangan keagamaan.
Bahas AI, Ibadah, dan Ekspresi Budaya
Pada Halaqah I, panitia menghadirkan tiga materi utama. Materi pertama membahas fenomena ustaz dan ustazah berbasis AI, khususnya tantangan otoritas keagamaan dan penerapan manhaj tarjih di era digital. Materi ini disampaikan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Sulawesi Selatan, Prof. Dr. KH. Zulfahmi Alwi, M.Ag., Ph.D.
Pembahasan tersebut menyoroti pentingnya literasi digital dan kemampuan memverifikasi informasi keagamaan. Kemudahan memperoleh jawaban melalui teknologi tidak serta-merta menjadikan setiap informasi sebagai rujukan agama yang dapat dipercaya. Kompetensi keilmuan dan ketepatan sumber tetap menjadi pertimbangan penting.
Materi kedua mengangkat kedudukan salat sunah tambahan pada sepuluh hari terakhir Ramadan, yang disampaikan Wakil Ketua PWM Sulawesi Selatan sekaligus Direktur Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Unismuh Makassar, Dr. KH. Abbas Baco Miro, Lc.
Sementara itu, materi ketiga membahas hukum penampilan tari-tarian wanita. Kajian tersebut dibawakan Wakil Ketua PDM Kota Makassar, KH. Muh. Said Abd. Shamad, Lc., dengan menempatkan persoalan seni dan budaya sebagai bagian dari isu sosial yang memerlukan pembahasan berdasarkan dalil dan pertimbangan keagamaan.
Ketiga materi tersebut memperlihatkan bahwa kajian tarjih tidak terbatas pada persoalan ibadah, tetapi juga mencakup perkembangan teknologi dan dinamika sosial budaya.
Halaqah Kedua Berlanjut Sebelum Musda
Rangkaian Pra-Musda Tarjih akan dilanjutkan melalui Halaqah II yang dijadwalkan pada 18 Oktober 2026. Forum tersebut membahas tiga persoalan lain, yakni konvoi pengantar jenazah di Kota Makassar dari perspektif fikih, etika, dan ketertiban umum; hukum mengucapkan rest in peace (RIP); serta tuntunan meletakkan jenazah menghadap kiblat di dalam kuburan.
Musyawarah Daerah Tarjih Muhammadiyah Kota Makassar dijadwalkan berlangsung pada 17–18 Oktober 2026. Forum ini menjadi ruang untuk membahas dan merumuskan hasil kajian dari rangkaian halaqah.
Kegiatan tersebut direncanakan melibatkan unsur PDM dan PDA Kota Makassar, Majelis Tarjih dan Tajdid, pimpinan cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah, organisasi otonom, amal usaha Muhammadiyah, mahasiswa PUTM, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam sebagai peserta peninjau.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Muhammadiyah Makassar berupaya memperkuat tradisi kajian keislaman yang terbuka, sistematis, dan bertanggung jawab. Penguatan literasi keagamaan diharapkan membantu warga persyarikatan menghadapi perubahan zaman sekaligus memberikan panduan yang relevan bagi masyarakat luas.
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





