Media Afiliasi Muhammadiyah Didorong Bersatu dalam Ekosistem Digital

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, JAKARTA - Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ismail Fahmi, mendorong jaringan media afiliasi Muhammadiyah tidak lagi bekerja sendiri-sendiri di tengah perubahan ekosistem digital. Menurutnya, kekuatan jaringan baru akan terasa jika media di berbagai daerah, organisasi otonom, lembaga, dan Amal Usaha Muhammadiyah dihubungkan dalam satu sistem kerja yang saling terintegrasi.
Gagasan itu disampaikan dalam Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah Ke-3 di Auditorium dr. Syafri Guricci FKK Universitas Muhammadiyah Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026. Dalam forum tersebut, Ismail menekankan bahwa tantangan Muhammadiyah saat ini bukan kekurangan kanal publikasi, melainkan belum terhubungnya berbagai aset digital yang sudah dimiliki.
Ia menggambarkan kondisi itu mirip dengan lembaga atau negara yang membangun aplikasi secara terpisah tanpa jembatan data dan proses. Akibatnya, banyak sistem berjalan sendiri, sementara potensi kolaborasi, efisiensi kerja, dan penguatan distribusi informasi tidak terbentuk secara penuh.
Salah satu fondasi yang ditekankan Ismail adalah identitas digital. Muhammadiyah, katanya, telah memiliki Muhammadiyah ID yang dapat menghubungkan individu dengan struktur organisasi. Prinsip serupa perlu diperluas agar media afiliasi tidak hanya berkumpul ketika ada kegiatan, tetapi benar-benar terhubung sebagai jaringan produksi dan distribusi konten.
"Kalau kita tidak punya identitas, tidak ada Muhammadiyah yang kita kenal," kata Ismail. Ia memandang identitas digital penting untuk memastikan data, kontributor, dan alur kerja media dapat dibaca sebagai satu ekosistem yang utuh.
Dalam penjelasannya, Ismail mengusulkan platform bersama yang mampu mengintegrasikan proses unggah artikel, kurasi, pengecekan mutu, publikasi, distribusi, hingga pemantauan dampak konten. Dengan sistem seperti itu, media afiliasi Muhammadiyah tidak hanya berbagi ruang publikasi, tetapi juga berbagi standar kerja dan infrastruktur pengetahuan.
Ia menyebut empat unsur yang harus dipikirkan bersamaan, yaitu people, process, technology, dan structure. Unsur people menyangkut sumber daya manusia dan kontributor. Process terkait standar operasional, kurasi, dan model bisnis. Technology berhubungan dengan platform pemersatu. Adapun structure diperlukan agar ada kelembagaan yang menjaga keberlanjutan sistem.
"Kalau empat aspek ini tidak dipikirkan, jadinya omon-omon," ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa transformasi digital media Muhammadiyah tidak cukup diisi wacana teknologi, tetapi harus diikuti tata kelola dan komitmen organisasi yang jelas.
Ismail juga memandang jaringan media Muhammadiyah bisa menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan Persyarikatan yang lebih besar. Arsip berita, tulisan kontributor, riset perguruan tinggi, keputusan tarjih, profil tokoh, dan dokumen organisasi dapat dihimpun untuk memperkuat daya tawar Muhammadiyah di tengah perubahan cara orang mencari dan mengonsumsi informasi.
Bagi media Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, gagasan ini membuka arah strategis yang konkret. Jika konektivitas data, proses redaksi, dan distribusi konten bisa dibangun bersama, maka media daerah tidak hanya menjadi penerbit berita lokal, tetapi juga bagian dari infrastruktur pengetahuan Muhammadiyah yang lebih luas dan berkelanjutan.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





