Ketua Prodi Seni Rupa Unismuh Raih Doktor, Teliti Kawali Bugis

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - Ketua Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Muhammadiyah ( Unismuh ) Makassar, Meisar Ashari, meraih gelar doktor pada Program Studi Doktor Pendidikan Seni, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Meisar mengikuti ujian disertasi pada Senin, 29 Juni 2026, di Ruang Bundar, Lantai 2 Gedung B0 Dekanat Fakultas Bahasa dan Seni Unnes. Ia mempertahankan disertasi berjudul “Kawali Bugis: Estetika, Representasi Simbolik, Hegemoni Nilai, dan Potensi Pembentukan Karakter To Ugi’.”
Dalam penyusunan disertasi tersebut, Meisar dibimbing oleh Dr. Eko Haryanto, M.Ds., sebagai promotor; Dr. Muh. Ibnan Syarif, M.Sn., sebagai ko-promotor; serta Dr. Eko Sugiarto, M.Pd., sebagai anggota promotor.
Ujian disertasi tersebut menghadirkan tim penguji, yakni Mohamad Yusuf Ahmad Hasyim, Lc., M.A., Ph.D.; Prof. Dr. Syakir, M.Sn.; Prof. Dr. Tjetjep Rohendi Rohidi, M.A.; Dr. Supatmo, S.Pd., M.Hum.; Dr. Eko Sugiarto, S.Pd., M.Pd.; Dr. Muh. Ibnan Syarif, M.Sn.; dan Dr. Eko Haryanto, S.Pd., M.Ds.
Disertasi tersebut tidak menempatkan Kawali atau badik Bugis semata sebagai senjata tradisional. Meisar membacanya sebagai artefak budaya, karya seni kriya, simbol sosial, sekaligus media komunikasi nilai dalam masyarakat Bugis.
“Kawali bukanlah sekadar benda mati atau senjata tajam dalam pengertian reduktif-utilitarian, melainkan sebuah artefak budaya adiluhung yang sarat dengan muatan estetika, komunikasi visual, dan nilai-nilai filosofis-metafisik,” ungkap Meisar dalam presentasinya.
Bagi Meisar, Kawali perlu dibaca lebih dalam karena benda budaya itu menyimpan jejak panjang sejarah, adat, status sosial, etika, dan pandangan hidup masyarakat Bugis. Dalam kebudayaan Bugis, Kawali tidak hanya hadir sebagai benda tajam, tetapi juga sebagai simbol siri’, kehormatan, tanggung jawab, keteguhan, dan pengendalian diri.
Membaca Kawali Melampaui Senjata
Dalam penelitiannya, Meisar menggunakan pendekatan kualitatif-etnografi dengan paradigma studi budaya dan estetika kesenirupaan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan pemangku adat, budayawan, pencinta Kawali, serta pembuat Kawali atau panre bessi.
Pengalaman personal Meisar sebagai orang Bugis juga menjadi pintu masuk metodologis. Ia memosisikan dirinya sebagai peneliti sekaligus bagian dari kebudayaan yang diteliti. Pendekatan ini membuat disertasi tersebut tidak berhenti pada kajian bentuk, tetapi juga masuk ke lapisan rasa, memori, dan nilai yang hidup dalam masyarakat.
“Bagiku, hidup adalah proses menempa diri bagai sebilah Kawali, setiap tempaan adalah ujian yang mendewasakan prinsip dan harga diri,” tulis Meisar dalam motto disertasinya. Ia melanjutkan, “Dari ketangguhan itulah jemari baja ini digerakkan oleh jiwa, bukan sekadar keterampilan teknis.”
Kalimat itu menggambarkan posisi personal Meisar dalam risetnya. Kawali baginya bukan hanya objek akademik, melainkan metafora kehidupan: manusia ditempa oleh pengalaman, ujian, disiplin, dan nilai, hingga menjadi pribadi yang kuat sekaligus beradab.
Tiga Konsep Estetika Kawali
Salah satu kontribusi penting disertasi ini adalah perumusan konsep Estetika Kawali. Meisar membaginya ke dalam tiga orientasi utama, yakni Ammanareng, Agaukeng, dan Appakeang.
Ammanareng merujuk pada Kawali sebagai pusaka spiritual dan warisan leluhur. Dalam dimensi ini, keindahan Kawali tidak hanya terletak pada bentuk atau pamor, tetapi juga pada memori keluarga, kesinambungan sejarah, dan pesan moral yang diwariskan antargenerasi.
Agaukeng berkaitan dengan Kawali dalam aktivitas adat, ritus, dan ruang komunal. Kawali hadir dalam upacara, pelantikan, sumpah, pertunjukan budaya, dan berbagai praktik sosial yang memperkuat identitas kolektif masyarakat Bugis.
Adapun Appakeang menunjukkan Kawali sebagai atribut identitas. Dalam konteks ini, Kawali menjadi bagian dari busana, simbol status sosial, asal-usul, legitimasi kepemimpinan, dan penanda karakter pemiliknya.
Melalui tiga konsep itu, Meisar menunjukkan bahwa estetika Kawali tidak sekadar soal keindahan visual. Estetika Kawali adalah pertemuan antara bentuk, fungsi sosial, spiritualitas, etika, dan identitas budaya.
Kawali sebagai Teks Budaya
Disertasi Meisar juga membaca Kawali sebagai teks budaya. Setiap bagian Kawali memiliki makna. Hulu atau pangulu merepresentasikan kepemimpinan dan kebijaksanaan. Bilah atau lemme’ melambangkan ketegasan, keberanian, dan kekuatan karakter. Sarung atau wanuang mencerminkan pengendalian diri, tanggung jawab moral, serta kemampuan meredam kekuatan destruktif.
Sementara itu, pamor atau ure’ dibaca sebagai kode sosial dan simbolik. Pamor dapat menunjukkan status, asal-usul, harapan hidup, serta afiliasi budaya pemiliknya.
Dalam kerangka inilah, Kawali menjadi lebih dari artefak. Ia menjadi bahasa nonverbal yang menyampaikan pesan tentang bagaimana orang Bugis memahami kehormatan, kepemimpinan, keberanian, kejujuran, dan kepatutan.
“Kawali menjadi media komunikasi budaya yang mampu menyampaikan nilai tanpa memerlukan bahasa lisan,” ujarnya.
Menjawab Stigma Kekerasan
Salah satu bagian penting disertasi Meisar adalah upaya mereposisi Kawali dari stigma kekerasan. Di era modern, badik kerap dikaitkan dengan kriminalitas, premanisme, atau kekerasan fisik. Meisar justru mengajak pembaca melihat lapisan lain: Kawali sebagai simbol pengendalian diri.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





