Hukum Melagukan Doa dalam Islam: Perspektif Tarjih Muhammadiyah tentang Niat dan Adab

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, YOGYAKARTA - sebuah manifestasi paling tulus dari ketergantungan manusia kepada Allah SWT. Dalam ajaran Islam, cara seseorang berdoa tidak semata-mata diukur dari bentuk lahiriahnya, melainkan lebih pada niat yang mendasari, adab yang menyertai, serta kesungguhan hati dalam memanjatkannya.
Dalam konteks ini, seringkali muncul pertanyaan mengenai kebolehan melagukan atau menyanyikan doa. Menurut pandangan Islam, melagukan doa pada dasarnya diperbolehkan, selama tujuan utamanya tetap berorientasi pada ibadah dan permohonan kepada Allah, bukan sekadar untuk menampilkan keindahan suara atau bernyanyi semata. Ketika doa dilagukan, esensi doa itu sendiri-yakni penghambaan, ketundukan, dan harapan kepada Allah SWT-harus tetap terjaga.
Praktik melagukan doa bukanlah hal yang asing dalam tradisi Islam. Pembacaan Al-Qur'an, misalnya, dianjurkan dengan tartil dan keindahan suara, namun tujuannya adalah agar makna dan kekhusyukan lebih meresap, bukan sebagai hiburan. Demikian pula dengan azan, yang dilantunkan dengan nada indah untuk memanggil umat.
Namun, penting untuk diingat bahwa keindahan vokal tidak boleh menggeser fokus utama dari doa itu sendiri. Apabila perhatian beralih sepenuhnya pada aspek penampilan atau estetika suara, substansi doa dikhawatirkan akan memudar. Prinsip fundamental ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang menjadi kaidah agung dalam agama:
ุฅููููู ูุง ุงูุฃูุนูู ูุงูู ุจูุงูููููููุงุชูุ ููุฅููููู ูุง ููููููู ุงู ูุฑูุฆู ู ูุง ููููู
"Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, jika seseorang berniat melagukan doa, niat tersebut harus diperkuat dan diarahkan semata-mata untuk beribadah. Selain niat, adab-adab dalam berdoa juga perlu diperhatikan. Adab ini bukanlah syarat mutlak yang menentukan sah atau tidaknya doa, melainkan anjuran yang bertujuan agar doa lebih terarah, lebih khusyuk, dan mendatangkan keberkahan.
Buku "Tuntunan Dzikir dan Doa Menurut Putusan Tarjih Muhammadiyah" menguraikan empat adab utama yang patut diperhatikan saat berdoa, termasuk ketika doa dilagukan:
Mengangkat Kedua Tangan Mengangkat kedua tangan saat berdoa melambangkan ketundukan dan pengharapan seorang hamba kepada Penciptanya. Rasulullah SAW menjelaskan makna mendalam dari adab ini sebagaimana diriwayatkan oleh Salman al-Farisi RA:
ุฅูููู ุฑูุจููููู ู ุญูููููู ููุฑููู ู ููุณูุชูุญูููู ู ููู ุนูุจูุฏููู ุฃููู ููุฑูููุนู ุฅููููููู ููุฏููููู ููููุฑูุฏููููู ูุง ุตูููุฑูุง ุฃููู ููุงูู: ุฎูุงุฆูุจูุชููููู
"Sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia merasa malu kepada hamba-Nya yang menengadahkan kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong atau hampa." (HR. Ibnu Majah).
Hadis ini menegaskan bahwa gerakan mengangkat tangan bukan sekadar fisik, melainkan ekspresi keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Memberi.
Memulai dengan Pujian kepada Allah dan Salawat kepada Nabi Muhammad SAW Doa yang baik seyogianya diawali dengan pengakuan atas keagungan Allah dan penghormatan kepada Rasul-Nya. Fudhalah bin Ubaid RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:
ุฅูุฐูุง ุตููููู ุฃูุญูุฏูููู ู ููููููุจูุฏูุฃู ุจูู ูุญูุงู ูุฏู ุฑูุจูููู ุนูุฒูู ููุฌูููู ููุงูุซููููุงุกู ุนููููููู ุซูู ูู ููุตููููู ุนูููู ุงููููุจูููู ๏ทบ ุซูู ูู ููุฏูุนูู ุจูุนูุฏู ุจูู ูุง ุดูุงุกู
"Apabila salah seorang di antara kalian berdoa, hendaklah ia memulai dengan memuji Tuhannya yang Maha Agung dan Maha Perkasa, kemudian bershalawat kepada Nabi SAW, lalu setelah itu berdoalah dengan apa yang dikehendakinya." (HR. Abu Dawud).
Berdoa dengan Tadharruโ Tadharruโ berarti sikap merendahkan diri, penuh ketundungan, dan menjauhi kesan berlebih-lebihan. Al-Qur'an secara tegas mengingatkan dalam firman-Nya:
ุงูุฏูุนููุง ุฑูุจููููู ู ุชูุถูุฑููุนูุง ููุฎูููููุฉู ุฅูููููู ููุง ููุญูุจูู ุงููู ูุนูุชูุฏูููู
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. al-Aโraf : 55).
Ayat ini sangat relevan dengan praktik melagukan doa. Melodi dan irama boleh saja digunakan, namun tidak boleh melampaui batas hingga menghilangkan kekhusyukan atau mengubahnya menjadi sebuah pertunjukan.
Menutup Doa dengan Hamdalah Mengakhiri doa dengan pujian kepada Allah adalah bentuk syukur dan pengakuan bahwa segala urusan kembali kepada-Nya. Al-Qur'an menggambarkan adab ini dengan indah:
ุฏูุนูููุงููู ู ูููููุง ุณูุจูุญูุงูููู ุงููููููู ูู ููุชูุญููููุชูููู ู ูููููุง ุณูููุงู ู ููุขุฎูุฑู ุฏูุนูููุงููู ู ุฃููู ุงููุญูู ูุฏู ููููููู ุฑูุจูู ุงููุนูุงููู ูููู
"Doa mereka di dalamnya ialah: โSubhanakallahummaโ, dan penghormatan mereka ialah: โSalaamโ. Dan penutup doa mereka ialah: โSegala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.โ" (QS. Yunus : 10).
Sebagai kesimpulan, melagukan doa pada dasarnya diizinkan dalam Islam, selama niatnya lurus, adab-adabnya terpelihara, dan orientasinya tetap tertuju kepada Allah SWT. Keindahan suara hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan akhir. Jika sarana tersebut mampu membantu menghadirkan kekhusyukan dan ketundukan, maka ia bernilai ibadah. Namun, jika justru menggeser esensi doa menjadi sekadar nyanyian, maka ruh ibadah itu akan sirna. Pada akhirnya, doa yang baik, baik dilagukan maupun tidak, diterima bukan karena merdunya suara, melainkan karena ketulusan hati yang bersimpuh di hadapan Tuhan semesta alam.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





