Haedar Nashir Tekankan Kepemimpinan Transformasional Berkemajuan di Muhammadiyah

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa kepemimpinan di lingkungan Muhammadiyah harus mampu mendorong perubahan sekaligus berpegang teguh pada nilai-nilai agama. Konsep ini disebut sebagai kepemimpinan transformasional berkemajuan.
Gagasan tersebut disampaikan Haedar dalam pemaparannya di Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Rabu (14/10). Menurutnya, model kepemimpinan ini tidak hanya menekankan kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga menempatkan nilai moral dan spiritual sebagai pijakan dalam mengambil keputusan.
Haedar menjelaskan, kepemimpinan transformasional memiliki kemampuan memengaruhi lingkungan dan ekosistem organisasi agar bergerak menuju perubahan yang lebih baik. Dalam Muhammadiyah, konsep tersebut diperkaya dengan nilai keagamaan yang menjadi pembeda dari teori kepemimpinan transformasional pada umumnya.
“Berbeda tentu dengan transformasional yang lain, ada value di situ, ada qimah di situ, ada nilai di situ, yakni nilai agama tentang benar-salah, baik-buruk, pantas-tidak pantas, dan memandang kehidupan ini sebagai sebuah keutuhan di dunia wal akhirat,” kata Haedar.
Ia menilai, kepemimpinan transformasional berkemajuan semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi penggunaannya tetap harus memperhatikan martabat dan kemandirian manusia.
“Kita harus tetap punya kesadaran bahwa manusia itu punya potensi lebih dari apa yang kita bentuk, kita bangun, kita ciptakan sendiri. Jangan sampai kita itu menjadi manusia yang kehilangan kemandirian karena terlalu bergantung pada teknologi,” ujarnya.
Haedar kemudian memperkenalkan gagasan kepemimpinan hibrida yang memadukan kemampuan manusia dengan dukungan teknologi AI. Menurutnya, perpaduan tersebut dapat menjadi pendekatan untuk menghadapi tuntutan pengambilan keputusan yang semakin cepat tanpa menyerahkan seluruh kendali kepada teknologi.
“Maka lahir kepemimpinan hybrid, yakni memadukan antara human leadership dan AI leadership,” imbuhnya.
Meski demikian, Haedar mengingatkan bahwa pemimpin tidak cukup hanya menguasai aspek teknis, birokrasi, dan perkembangan teknologi. Pemimpin juga harus memiliki kepekaan kemanusiaan serta kemampuan menyelesaikan persoalan melalui pendekatan spiritual yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Dalam konteks Muhammadiyah, pemimpin perlu terus memperbarui pengetahuan dan memperkaya pengalaman. Haedar menilai, kemampuan memimpin tidak bisa hanya didasarkan pada jabatan atau pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga membutuhkan proses panjang yang membentuk kebijaksanaan.
“Maka jangan merasa mudah untuk bisa memimpin, merasa sudah punya ilmu, bisa meng-override-kan. Atau sudah merasa jadi pejabat, sudah merasa bisa memimpin Muhammadiyah,” tegas Haedar.
Ia menambahkan, pengalaman yang panjang diperlukan untuk membangun wisdom, yakni kebijaksanaan dalam memahami persoalan dan menentukan langkah organisasi. Kepemimpinan berkemajuan, menurutnya, tidak berhenti pada penguasaan ilmu, tetapi juga membutuhkan hikmah dan kearifan.
Haedar turut menekankan dua sikap penting yang harus dimiliki pemimpin Muhammadiyah, yaitu wiqayah dan muhasabah. Wiqayah berarti kehati-hatian dan kewaspadaan dalam bertutur maupun bertindak, sedangkan muhasabah merupakan kemampuan melakukan refleksi dan mengevaluasi diri secara berkelanjutan.
Kedua sikap tersebut dinilai penting agar pemimpin tidak bertindak gegabah, bersedia belajar dari pengalaman, serta mampu memperbaiki kualitas kepemimpinannya.
“Dengan sikap wiqayah dan muhasabah itu kita akan membawa ‘Aisyiyah, membawa Muhammadiyah, umat dan bangsa itu menjadi lebih baik, dan akhirnya memberikan selamat bagi kepentingan semesta,” tutur Haedar.
Melalui konsep kepemimpinan transformasional berkemajuan, Haedar mengajak para pemimpin Muhammadiyah untuk menyatukan kemampuan intelektual, kemajuan teknologi, nilai agama, dan kearifan dalam menjalankan amanah. Dengan demikian, kepemimpinan tidak hanya menghasilkan perubahan organisasi, tetapi juga membawa manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





