Haedar Nashir: Paham Agama, Ideologi, dan Organisasi Jadi Fondasi Kemajuan Muhammadiyah

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa kemajuan Muhammadiyah harus dibangun di atas tiga fondasi utama, yakni pemahaman agama, ideologi, serta sistem organisasi yang kuat dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Hal tersebut disampaikan Haedar dalam kegiatan Baitul Arqam Dosen Tetap Non-Struktural Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) 2026 di Prime UMY Hotel Convention & Dormitory, Senin (12/10/2026).
Menurut Haedar, sejak berdiri pada 1912, Muhammadiyah berkembang sebagai gerakan Islam yang tidak hanya berpegang teguh pada ajaran agama, tetapi juga mampu merespons perubahan dan menjawab kebutuhan masyarakat.
“Dan bagaimana arsitektur dan bangunan Muhammadiyah ke depan kita dapat transformasikan menjadi lebih unggul, menjadi lebih maju atau berkemajuan dan tidak kalah pentingnya sebagai identitas yang berdampak signifikan bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan semesta,” jelas Haedar.
Ia menjelaskan, pemahaman agama menjadi dasar dalam menentukan arah gerakan, ideologi berfungsi sebagai pedoman perjuangan, sedangkan organisasi menjadi instrumen untuk menerjemahkan nilai dan cita-cita Muhammadiyah ke dalam tindakan nyata.
Ketiganya perlu dipahami sebagai satu kesatuan. Penguatan salah satu aspek tanpa disertai pengembangan aspek lainnya dapat menghambat kemampuan persyarikatan dalam menjalankan perannya di tengah masyarakat.
Tajdid Muhammadiyah Melampaui Pembaruan Keagamaan
Haedar juga mengulas pemikiran pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang menjadikan pembaruan atau tajdid sebagai landasan gerakan. Menurutnya, tajdid tidak sebatas pemurnian pemahaman agama, tetapi juga mencakup usaha membangun kehidupan sosial yang lebih baik.
Semangat tersebut diwujudkan melalui pendirian lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, kegiatan sosial yang berpijak pada teologi Al-Ma'un, serta pengembangan pemikiran yang mendorong kemandirian umat.
Mengutip pandangan Prof. Mukti Ali, Haedar menyoroti dua karakter penting pembaruan Muhammadiyah, yaitu pembangunan lembaga sosial modern dan lahirnya gerakan perempuan melalui Aisyiyah pada 1917.
“Pertama, Muhammadiyah mendirikan pranata-pranata sosial modern atau institusi-institusi modern seperti pendidikan, kesehatan, sosial. Yang kedua adalah lahirnya gerakan perempuan Aisyiyah di tahun 1917 sebagai pelopor emansipasi yang berbingkai Islam, bukan emansipasi liberal atau sekuler yang menerabas batasan-batasan,” ungkap Haedar.
Menurutnya, sejarah tersebut memperlihatkan bahwa Islam dapat menjadi landasan bagi pengembangan peradaban. Ajaran agama tidak cukup dipahami sebatas ritual, tetapi perlu diwujudkan melalui kerja nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
Mengintegrasikan Teks, Akal, dan Penghayatan Spiritual
Dalam menghadapi tantangan kontemporer, Haedar mendorong warga Muhammadiyah untuk mengembangkan pemahaman Islam secara menyeluruh melalui tiga pendekatan, yaitu bayani, burhani, dan irfani.
Pendekatan bayani menekankan pemahaman terhadap teks dan sumber ajaran Islam. Pendekatan burhani menggunakan penalaran rasional dan pembuktian ilmiah, sedangkan irfani mengutamakan penghayatan spiritual serta kejernihan batin.
Ketiga pendekatan tersebut perlu saling melengkapi agar pemahaman keagamaan tidak berhenti pada aspek tekstual, tetapi juga mempertimbangkan rasionalitas, pengalaman spiritual, dan realitas kehidupan masyarakat.
Haedar juga mengingatkan pentingnya prinsip wasathiyah atau moderasi dalam menjalankan gerakan. Sebagai organisasi besar yang mendapat kepercayaan masyarakat, Muhammadiyah harus mampu menjaga keseimbangan dan menghindari sikap ekstrem dalam menyikapi berbagai persoalan.
Prinsip tersebut sejalan dengan Kepribadian Muhammadiyah yang dirumuskan pada 1962. Warga dan kader diharapkan mengutamakan perdamaian, kesejahteraan, persaudaraan, serta sikap terbuka dalam membangun hubungan sosial.
Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan Islam dan kemasyarakatan, bukan partai politik maupun gerakan politik praktis.
Kritis, Adil, dan Menggembirakan dalam Berorganisasi
Haedar turut menekankan pentingnya sikap adil dan korektif dalam kehidupan persyarikatan. Kritik tetap diperlukan sebagai sarana memperbaiki keadaan, tetapi harus disampaikan secara proporsional dan berorientasi pada kepentingan bersama.
“Adil itu apa? Yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya,” tegas Haedar.
Ia juga mengajak warga Muhammadiyah menjalankan aktivitas organisasi dengan hati lapang dan penuh kegembiraan. Menurutnya, berorganisasi bukan semata-mata menjalankan tugas, melainkan juga menjalani perjuangan yang memberikan makna dan kebahagiaan.
“Jangan sampai di dalam Muhammadiyah tapi hati merasa resah. Kan rugi. Jadi bermuhammadiyah harus nikmat, gembira, dan senang,” pungkasnya.
Melalui penguatan pemahaman agama, ideologi, dan tata kelola organisasi, Haedar berharap Muhammadiyah terus berkembang sebagai gerakan Islam berkemajuan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan universal.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





