Haedar Nashir Ingatkan Kader Muhammadiyah, Pengabdian Bukan untuk Mengejar Jabatan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan kader Muhammadiyah agar menjadikan pengabdian sebagai landasan dalam menjalankan amanah, bukan sebagai jalan untuk mengejar jabatan atau kepentingan pribadi.
Pesan tersebut disampaikan Haedar saat memberikan kultum setelah salat Zuhur di Masjid Kantor PP Muhammadiyah, Selasa (13/10). Dalam kesempatan itu, ia menceritakan pengalamannya ketika pertama kali dipercaya menjadi petugas haji pada era 1990-an.
Saat itu, Haedar mendapat amanah sebagai ketua kelompok terbang (kloter) yang memimpin sekitar 390 jemaah asal Bandung. Tanggung jawab tersebut menjadi tantangan tersendiri karena ia belum pernah menunaikan ibadah haji.
Meski demikian, Haedar tidak menjadikan keterbatasan pengalaman sebagai alasan untuk menolak tugas. Ia mengandalkan kemampuan manajemen, kepemimpinan, serta kerja sama untuk memastikan pelayanan kepada jemaah berjalan dengan baik.
“Biasanya kalau tugas kloter itu kan sudah haji, sementara saya belum haji. Tapi, kan, kita saling menolong dan kita punya kemampuan memanajemen,” kenang Haedar.
Menurutnya, tugas sebagai ketua kloter bukan pekerjaan ringan. Petugas harus siap menghadapi berbagai persoalan, mulai dari jemaah yang sakit hingga jemaah yang terpisah dari rombongan. Kondisi tersebut menuntut koordinasi dan kesigapan dalam mengambil keputusan.
“Memang kita berat dari beberapa hal itu. Nanti kalau ada yang sakit, dokter yang menangani. Dokter-dokter kita harus membawa jemaah ke rumah sakit. Lalu, jika ada yang hilang, itu kan kita harus mencari,” ungkapnya.
Haedar menilai pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting tentang tanggung jawab dan kesungguhan dalam menjalankan amanah. Tantangan yang dihadapi justru menjadi ruang pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan dan kedewasaan dalam bekerja.
“Memang begitu berat menjadi ketua kloter. Tapi, itulah pelajaran yang berharga,” ujarnya.
Dari pengalaman itu, Haedar kemudian menekankan pentingnya menjaga profesionalitas dan ketulusan dalam setiap bentuk pengabdian. Menurutnya, seseorang yang menerima amanah harus berfokus pada tugas yang dipercayakan kepadanya, bukan memanfaatkan posisi untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
“Jadi, inilah yang disebut dengan sebuah panggilan. Jangan punya niat memanfaatkan apa pun ketika bertugas dan lain sebagainya. Kalau sudah bertugas, yang terpenting adalah menjalankannya dengan baik dan penuh kesungguhan,” tegas Haedar.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi kader Muhammadiyah bahwa jabatan bukanlah tujuan utama dalam berorganisasi. Pengabdian justru menuntut kesediaan untuk bekerja, memikul tanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi Persyarikatan serta masyarakat.
Haedar juga menunjukkan bahwa keberhasilan menjalankan amanah tidak hanya ditentukan oleh pengalaman sebelumnya. Kemampuan mengelola tugas, kemauan belajar, semangat saling membantu, dan integritas menjadi bagian penting dalam menyelesaikan tanggung jawab.
Melalui refleksi tersebut, Haedar mengajak kader dan warga Muhammadiyah untuk terus merawat semangat pengabdian yang tulus. Setiap amanah hendaknya dijalankan dengan penuh kesungguhan, tanpa menjadikan jabatan sebagai sasaran utama, tetapi sebagai tanggung jawab yang harus ditunaikan sebaik-baiknya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





