Dari AI hingga Pamali, PUTM Unismuh Latih Calon Ulama Membaca Persoalan Zaman

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Universitas Muhammadiyah Makassar menggelar Pelatihan dan Muzakarah Sidang Tarjih VI pada 15 sampai 19 Agustus 2026. Kegiatan yang dibuka di Aula Teater I GIFt Kampus Unismuh Makassar ini diarahkan untuk melatih mahasiswa membaca persoalan keagamaan kontemporer secara lebih utuh, mulai dari kecerdasan buatan, transaksi digital, hingga tradisi lokal yang masih hidup di masyarakat.
Dalam forum ini, mahasiswa tidak hanya diminta mencari jawaban hukum atas suatu persoalan. Mereka dilatih memahami teks keagamaan, realitas sosial, pengetahuan ilmiah, dan konteks budaya melalui pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani yang menjadi bagian dari Manhaj Tarjih Muhammadiyah.
Direktur PUTM Unismuh Makassar, Dr. KH. Abbas Baco Miro, Lc., MA., menjelaskan bahwa sidang tarjih merupakan program unggulan dalam pembentukan kader ulama tarjih Muhammadiyah. Ia menegaskan, "Ini sebenarnya refresh, karena sudah diajarkan. Hanya sebagai penguatan teori, kemudian nanti kita langsung masuk ke praktik." Dengan kata lain, pelatihan ini bukan pengenalan awal, tetapi ruang penguatan metodologi agar mahasiswa siap menguji teori terhadap kasus nyata.
Abbas menjelaskan bahwa setiap persoalan akan dibaca melalui tiga pendekatan utama. Isu yang dibahas tidak terbatas pada fikih klasik, tetapi juga menyentuh fenomena yang terus berkembang di masyarakat. Di antaranya ialah tren ketakutan menikah yang populer dengan istilah marriage is scary, persoalan administrasi perkawinan lintas negara, penggunaan AI untuk menggerakkan gambar tokoh agama, akad dalam transaksi makanan berbasis aplikasi, daging hasil laboratorium, hingga praktik siaran langsung di media sosial yang melibatkan pemberian gift dari penonton.
Menurut Abbas, berbagai tema itu menuntut kehati-hatian dan kedalaman analisis. Ia mengingatkan bahwa suatu kasus tidak boleh diputuskan secara serampangan tanpa memahami latar belakang dan motifnya. Penekanan ini menjadi penting di tengah derasnya informasi digital yang kerap mendorong penilaian cepat atas isu-isu keagamaan yang sebenarnya kompleks.
Wakil Rektor III Unismuh Makassar, Dr. KH. Mawardi Pewangi, yang mewakili Rektor saat pembukaan, memperluas pesan tersebut dengan menekankan pentingnya pemahaman budaya. Ia berpesan kepada mahasiswa, "Harus Anda memahami aspek budaya." Menurutnya, calon ulama Muhammadiyah tidak cukup hanya memahami dalil, tetapi juga harus mengerti tradisi, simbol, dan nilai sosial yang melatarbelakangi praktik masyarakat.
Mawardi mengajak mahasiswa membaca kembali gagasan dakwah kultural Muhammadiyah. Ia menjelaskan bahwa sejumlah pamali atau tradisi lokal dapat dipahami sebagai simbol pendidikan etika atau pesan sosial, bukan serta-merta diperlakukan sebagai ajaran agama. Contoh yang ia angkat, seperti larangan memanjat pohon kelapa pada hari Jumat atau larangan duduk di atas bantal, menunjukkan bagaimana simbol budaya bisa memuat pesan moral tertentu tanpa otomatis menjadi syariat.
Namun, ia juga menegaskan adanya batas yang jelas. Tradisi boleh dipahami dari sisi nilai, tetapi tidak boleh langsung diberi status sebagai ketentuan agama. Dari sini, mahasiswa didorong untuk membedakan antara ekspresi budaya dan keyakinan keagamaan, sekaligus mengembangkan watak ulama yang luas pandangan serta tidak mudah memberi cap sesat, musyrik, atau kafir kepada orang lain.
Kegiatan Muzakarah Sidang Tarjih VI juga tidak berhenti pada diskusi kelas. Mahasiswa sebelumnya telah diminta mengidentifikasi pamali di daerah masing-masing, seperti larangan duduk di depan pintu, menyapu malam hari, hingga tradisi uang palangkah ketika adik menikah lebih dahulu. Kasus-kasus itu kemudian dibawa ke komisi-komisi pembahasan untuk diuji dengan metodologi tarjih secara langsung.
Abbas berharap hasil kerja mahasiswa dapat berkembang menjadi buku dan artikel ilmiah. Harapan itu menunjukkan bahwa sidang tarjih di PUTM tidak hanya diarahkan untuk melatih kemampuan menjawab persoalan keagamaan, tetapi juga mendorong lahirnya produksi pengetahuan yang berguna bagi penguatan akademik program studi dan pengembangan pemikiran Islam Berkemajuan. Dalam konteks itu, kegiatan ini menjadi ruang penting untuk menyiapkan kader ulama Muhammadiyah yang mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan kedalaman metodologis.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





