Dadang Kahmad Ingatkan Bahaya Ketergantungan Teknologi yang Menggeser Peran Agama

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, BANDUNG – Perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan beragama. Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad, mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak seharusnya membuat manusia mengesampingkan agama dan tuntunan Tuhan dalam kehidupannya.
Hal tersebut disampaikan Dadang dalam kegiatan Gerakan Subuh Mengaji (GSM) bertema “Muhammadiyah dan Masa Depan Agama” yang diselenggarakan pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Menurut Dadang, persoalan hubungan agama dan teknologi bukan terletak pada pertentangan keduanya, melainkan pada cara manusia menempatkan teknologi dalam kehidupan. Teknologi yang semestinya menjadi sarana untuk membantu manusia justru berpotensi menggeser prioritas spiritual apabila digunakan secara berlebihan.
Ia mengingatkan munculnya bentuk penyimpangan modern ketika manusia lebih mengutamakan teknologi daripada menjalankan tuntunan agama.
Dadang menilai, ketergantungan terhadap teknologi dapat membuat manusia semakin jauh dari fungsi agama sebagai pedoman moral dan spiritual. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian ialah maraknya judi online yang menunjukkan bagaimana pemanfaatan teknologi dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat.
Menurut Guru Besar Sosiologi Agama tersebut, hubungan agama dengan perkembangan zaman sebenarnya telah menjadi perhatian pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Pesan tentang pentingnya menuntut ilmu dan kembali kepada Muhammadiyah menunjukkan bahwa kemajuan pengetahuan perlu berjalan beriringan dengan penguatan nilai keagamaan.
“Itu optimisme beliau dan mengingatkan kepada kita supaya Muhammadiyah harus selalu eksis dari zaman ke zaman. Atau itu zaman seratus tahun yang lalu, atau zaman seratus tahun yang akan datang,” ujar Dadang.
Ia menjelaskan, pesan tersebut mengandung dorongan agar Muhammadiyah terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitas dan orientasi keagamaannya. Penguasaan ilmu pengetahuan juga menjadi bekal agar manusia mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, bukan justru diperbudak olehnya.
Lebih lanjut, Dadang menegaskan bahwa keberlangsungan sebuah gerakan keagamaan tidak cukup hanya ditentukan oleh kemampuannya mempertahankan eksistensi. Gerakan tersebut juga harus mampu memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia dan lingkungan.
Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan kandungan Surah Ar-Ra'd ayat 17, yang antara lain menggambarkan bahwa sesuatu yang bermanfaat akan tetap bertahan.
Karena itu, Dadang mendorong Muhammadiyah untuk terus menghadirkan kontribusi yang melampaui kepentingan internal organisasi. Kemajuan teknologi perlu dimanfaatkan untuk memperluas dakwah, meningkatkan kualitas kehidupan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat luas.
Dengan demikian, tantangan agama di era teknologi bukanlah menolak kemajuan, melainkan memastikan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tetap berjalan bersama nilai moral, spiritualitas, dan tanggung jawab kemanusiaan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





