Busyro Muqoddas: Muktamar Nasyiatul Aisyiyah Momen Kritis Lahirkan Pemimpin Berintegritas

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 11 Juli 2020 - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, mengajak seluruh elemen Nasyiatul Aisyiyah untuk menjadikan Sidang Pra Muktamar ke-15 sebagai momentum krusial dalam memperkuat fondasi kepemimpinan yang berintegritas dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Kegiatan ini berlangsung di Aula Gedung Ahmad Dahlan, Yogyakarta.
Busyro Muqoddas menegaskan bahwa Muktamar bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan sebuah kesempatan untuk meneguhkan konsistensi atau istiqamah dalam menjalankan amanah kepemimpinan. "Muktamar semakin menyadarkan kita untuk bersikap istiqamah atau konsisten dalam menghadapi segala konsekuensi ketika mengemban misi kepemimpinan," ujarnya.
Ia mengingatkan pentingnya tanggung jawab kepemimpinan dengan mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa setiap individu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Menurut Busyro, prinsip ini menuntut setiap orang untuk berkontribusi dalam membangun kepemimpinan kolektif yang kokoh. "Setiap kepemimpinan harus diikat oleh Al-Qurβan dan As-Sunnah," tegasnya.
Lebih lanjut, Busyro menekankan bahwa Nasyiatul Aisyiyah, bersama seluruh organisasi otonom Muhammadiyah, memikul tanggung jawab untuk melanjutkan estafet kepemimpinan yang berintegritas. Ia juga merujuk pada hadis Rasulullah SAW yang memperingatkan tentang kehancuran apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Pesan ini, menurutnya, tetap relevan sebagai landasan untuk membentuk kepemimpinan yang berakhlak mulia. "Nasihat Rasulullah itu mengajarkan pentingnya nilai-nilai akhlakul karimah yang tetap relevan dengan kondisi saat ini," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Busyro turut menyoroti berbagai persoalan sosial yang kini dihadapi masyarakat Indonesia, seperti peningkatan konflik rumah tangga yang dipicu oleh pinjaman daring (pinjol) dan judi online. "Penyebabnya karena pinjaman dan judi online. Sebagian dari para korban juga banyak yang melaporkan persoalannya kepada Muhammadiyah untuk meminta bantuan," ungkapnya. Fenomena ini, menurut Busyro, mencerminkan degradasi moral di kalangan generasi muda yang tidak bisa dilepaskan dari isu kepemimpinan.
Oleh karena itu, ia berharap kepemimpinan di lingkungan Muhammadiyah tidak hanya berhenti pada wacana, melainkan terwujud dalam tindakan nyata yang berpegang pada etos Persyarikatan, yaitu iman, ilmu, dan amal. "Muhammadiyah sangat mengharapkan kepemimpinan yang diwujudkan dalam aksi dan amalan konkret sebagaimana etos Muhammadiyah, yaitu iman, ilmu, dan amal," ujarnya.
Busyro juga mendorong agar Muktamar Nasyiatul Aisyiyah mengangkat isu-isu strategis, termasuk penguatan kepemimpinan perempuan yang disesuaikan dengan tantangan zaman. Ia menggarisbawahi peran vital perempuan dalam pembangunan bangsa. "Perempuan adalah tiang negara. Baik buruknya suatu negara sangat ditentukan oleh karakter perempuan-perempuannya," jelasnya.
Ia menambahkan, Muhammadiyah telah memberikan kontribusi signifikan selama lebih dari satu abad, tidak hanya bagi anggotanya tetapi juga bagi masyarakat luas lintas agama, suku, dan golongan. Keberhasilan ini, menurutnya, lahir dari kemampuan Muhammadiyah dalam menjaga amanah. "Hal inilah yang harus diteruskan oleh generasi Muhammadiyah dan organisasi otonomnya, termasuk Nasyiatul 'Aisyiyah," katanya.
Mengakhiri amanatnya, Busyro berharap Muktamar Nasyiatul Aisyiyah dapat menghasilkan pemimpin-pemimpin yang amanah, menjaga kehormatan Persyarikatan, serta mampu membawa organisasi menuju kemajuan yang berkelanjutan. "Berbekal niat yang lurus, semoga Muktamar Nasyiatul Aisyiyah dapat melahirkan pemimpin yang mampu menghadirkan keberhasilan dalam program-program selanjutnya," pungkasnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





