Ambo Asse Tekankan Kaderisasi dan Integritas sebagai Kunci Gerakan IPM

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, Makassar – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., menegaskan pentingnya keikhlasan, kedisiplinan, dan kejujuran dalam menjalankan amanah organisasi. Ia juga mengingatkan pimpinan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) agar memprioritaskan kaderisasi sebagai inti gerakan organisasi.
Hal itu disampaikan Ambo Asse dalam amanahnya pada Pengukuhan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Sulawesi Selatan Periode 2026–2028 di Aula Gedung Pusdam Sulsel, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Ambo Asse, kesibukan mengurus organisasi tidak boleh membuat kader mengabaikan kewajiban beragama. Ia mengingatkan pentingnya menjaga tertib ibadah, tertib administrasi, dan tertib organisasi sebagai bagian dari pembentukan disiplin kader.
Ia menyebut keikhlasan sebagai prinsip pertama dalam berorganisasi. Menurut dia, pekerjaan yang berat akan terasa lebih ringan jika dilakukan dengan ikhlas, termasuk ketika mengurus organisasi tanpa mengharapkan imbalan materi.
“Kalau kita ikhlas, biar pekerjaan itu berat jadi ringan. Tetapi kalau orang tidak ikhlas, biar ringan jadi berat,” ujarnya.
Selain keikhlasan, Ambo Asse menekankan pentingnya disiplin dan kejujuran. Ia mengingatkan bahwa jabatan organisasi memiliki banyak godaan sehingga setiap pimpinan harus mampu menjaga integritas dan tidak menyalahgunakan amanah.
Ia meminta kader memandang jabatan bukan sekadar posisi struktural, melainkan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Menurut dia, Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang menjalankan misi keagamaan melalui berbagai amal usaha dan organisasi otonomnya.
“Ini adalah amanah Allah,” katanya.
Kesungguhan dan Kesabaran dalam Berorganisasi
Ambo Asse juga mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi membutuhkan kesungguhan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan. Kesabaran, menurut dia, bukan berarti berdiam diri ketika menghadapi masalah, melainkan terus mencari jalan keluar secara aktif.
Ia mengajak pimpinan IPM menjadikan tantangan sebagai bagian dari proses pendewasaan organisasi. Dengan kesungguhan, kedisiplinan, dan kemampuan menyelesaikan persoalan, kader diharapkan mampu menjalankan program secara konsisten.
Dalam kesempatan itu, Ambo Asse turut menjelaskan rencana pembangunan gedung 13 lantai di kawasan Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Bangunan tersebut direncanakan menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia, termasuk untuk peningkatan kapasitas guru, mubalig, dan kader Muhammadiyah.
Ia menyampaikan bahwa rencana pembangunan tersebut telah memperoleh komitmen hibah dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Universitas Muhammadiyah Makassar juga direncanakan menanggung sekitar 51 persen kebutuhan pembangunan.
Ambo Asse berharap pembangunan itu dapat terus berjalan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi pengembangan kader serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.
Ia juga menyinggung pentingnya dukungan terhadap organisasi otonom. Menurut dia, anggapan bahwa Muhammadiyah telah memiliki kekayaan yang besar tidak seharusnya membuat masyarakat mengurangi dukungan terhadap kegiatan kaderisasi dan gerakan generasi muda.
Karena itu, ia berharap pembinaan organisasi otonom menjadi tanggung jawab bersama, baik di lingkungan persyarikatan maupun masyarakat luas.
IPM Diminta Fokus pada Kaderisasi
Pada bagian akhir amanahnya, Ambo Asse menyampaikan selamat kepada pimpinan IPM Sulawesi Selatan yang baru dikukuhkan. Ia juga mengapresiasi kepengurusan sebelumnya atas pengabdian selama dua tahun terakhir.
Ia menegaskan bahwa kaderisasi harus menjadi prioritas utama organisasi otonom Muhammadiyah, termasuk IPM, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah.
“Yang harus dilakukan IPM, IMM, Pemuda, Nasyiatul Aisyiyah adalah pengaderan. Fokus pada pengaderan,” ujarnya.
Menurut Ambo Asse, kaderisasi merupakan investasi penting bagi keberlanjutan gerakan Muhammadiyah. Melalui proses tersebut, organisasi dapat menyiapkan generasi penerus yang memiliki pemahaman ideologis, integritas, dan kemampuan memimpin.
Ia juga menyampaikan bahwa kader yang ingin terlibat dalam politik tetap memiliki ruang untuk berkontribusi. Namun, keterlibatan tersebut hendaknya disertai orientasi untuk menjadi politikus yang baik, tanpa mengesampingkan tugas utama organisasi dalam membina kader.
Ambo Asse berharap kepengurusan IPM Sulawesi Selatan periode 2026–2028 dapat menjaga nilai-nilai keislaman, memperkuat proses kaderisasi, serta menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab.
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





