Abdul Musawir: Muhammadiyah Perlu Bangun Kader dan Peradaban

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, BATU - Ketua Bidang Ekonomi Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Abdul Musawir Yahya menegaskan bahwa agenda perubahan dalam Muhammadiyah tidak cukup dibangun melalui slogan kelembagaan. Menurutnya, pembaruan harus dimulai dari kualitas individu yang kemudian memengaruhi arah kaderisasi, pendidikan, dan keberpihakan sosial Persyarikatan.
Pesan itu ia sampaikan dalam Pengajian Akbar Majelis Ahad Pagi Kyai Haji Ahmad Dahlan di Masjid At Taqwa, Kota Batu, Ahad, 9 Agustus 2026. Abdul Musawir mengaitkan gagasannya dengan QS. Ar-Ra'd ayat 11 dan menilai ayat tersebut menegaskan bahwa perubahan keadaan sebuah kaum berangkat dari perubahan pada diri manusia.
"Seakan-akan Allah ingin menegaskan bahwa satuan terkecil dari sebuah kaum adalah individu. Sebuah kaum atau kelompok tidak akan pernah berubah kalau nafs atau individunya tidak berubah," kata Abdul Musawir. Ia menjelaskan perubahan individu setidaknya menyentuh tiga ranah sekaligus, yaitu pikiran, perasaan, dan tindakan.
Baginya, tiga ranah itu menentukan apakah sebuah organisasi benar-benar siap melahirkan peradaban atau hanya sibuk mengulang rutinitas. Karena itu, ia mengajak jemaah melihat kembali perjalanan dakwah Rasulullah SAW yang tidak hanya menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga membentuk generasi sahabat yang tangguh dalam memikul misi perubahan sosial.
Abdul Musawir menilai pelajaran sejarah tersebut tetap relevan bagi Muhammadiyah yang telah berusia lebih dari satu abad. Ia mengatakan banyaknya amal usaha dan forum pengajian belum otomatis menunjukkan keberhasilan jika Persyarikatan belum kuat menjawab persoalan nyata masyarakat miskin, pendidikan, dan ketimpangan sosial.
"Kita punya banyak Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), kita punya banyak pengajian, tapi jika masih banyak orang yang kelaparan di pinggir jalan, itu tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh KH Ahmad Dahlan melalui Teologi Al-Ma'un," tegasnya. Ucapan itu menempatkan keberhasilan organisasi bukan pada jumlah institusi semata, tetapi pada dampak sosial yang bisa dirasakan publik.
Ia juga menyoroti persoalan pendidikan nasional. Dalam pandangannya, ketertinggalan tidak bisa dibaca hanya dari ketersediaan fasilitas, tetapi dari cara berpikir. Bangsa yang ingin maju, kata dia, harus berani melihat pembangunan dalam skala peradaban, bukan semata pengelolaan negara atau program jangka pendek.
"Bangsa-bangsa besar tidak hanya berpikir untuk membangun sebuah negara, tetapi berpikir dalam skala peradaban," ujarnya. Dari sini Abdul Musawir mengaitkan tugas kader Muhammadiyah dengan penguatan ilmu pengetahuan, kualitas kepemimpinan, dan keberanian menata agenda sosial yang lebih luas.
Dalam ceramahnya, ia juga menyinggung kemunduran peradaban Islam di Andalusia sebagai pelajaran bahwa kehancuran tidak selalu datang dari luar. Melemahnya ilmu pengetahuan, konflik internal, dan krisis kepemimpinan dapat meruntuhkan kekuatan yang tampak besar. Karena itu, evaluasi kaderisasi dan strategi perjuangan dinilai mendesak.
Bagi warga Persyarikatan, pengajian ini mengingatkan bahwa identitas sebagai khalifah tidak berhenti pada urusan personal. Tanggung jawab itu harus diterjemahkan ke dalam pembinaan kader, penguatan amal usaha, kualitas pendidikan, dan keberpihakan kepada masyarakat yang membutuhkan agar Muhammadiyah tetap relevan sebagai gerakan dakwah dan tajdid.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





